Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Moment Tujuh Bulan


__ADS_3

Sedih, bahagia dan menyesal. Wulan malu dengan sikapnya yang terlampau jahat pada sang menantu selama ini. Melihat semua perhatian Kania padanya begitu tulus, rasanya tak pantas ia di rawat oleh menantu yang ia tolak selama ini.


“Nia, Mamah malu sama kamu.” ujar Wulan menatap nanar.


Kania menggeleng dan tersenyum. “Mamah jangan mikir macam-macam yah? Nia sudah lupain semuanya. Mamah juga harus lupain semuanya.” Wulan tersenyum memeluk sang menantu.


Tanpa keduanya sadari dari luar kamar Jemi tersenyum senang. Ia pun masuk dan bergabung bersama mereka. Ikut memeluk kedua wanita yang paling ia sayangi.


“Bahagia rasanya ternyata melihat Mamah dan istriku saling sayang seperti ini.” ujar Jemi.


“Kalau begitu semuanya sudah cukup kan ini, Mas? Nggak perlu lagi semua orang tahu pernikahan kita secepatnya dong?” ujar Kania.


Jemi menaikkan alisnya sebelah. “Kalau soal itu tetap, Sayang.” ujar Jemi.


***

__ADS_1


Satu bulan berjalan selama kehamilan, Kania mulai sadar akan statusnya sebagai istri dan calon ibu.


“Sayang, ada apa? Kamu belum mengantuk?” tanya Jemi. Jam sudah beranjak pukul dua belas malam. Mata sang istri terlihat masih segar. Beberapa kali Kania terlihat menggerakkan tubuhnya gelisah.


“Mas, aku salah yah selama ini? Maafin aku.” ujar Kania.


Jemi sontak bingung dan terkekeh mendengar ucapan sang istri. “Hei ada apa dengan anak Papah? Kok Mamahnya tiba-tiba ngomong begitu?” sapa Jemi pada calon buah hati yang di dalam perut Kania.


“Mas…aku serius mau bicara.” ujar Kania.


Jemi diam menunggu sang istri bersuara.


Wajahnya berbinar mendengar ucapan Kania. Pelukan erat pun pria itu berikan pada sang istri lantaran terlalu senang.


“Nia, kamu benarkah? Aku tidak mimpi kan, Sayang? Semua orang boleh tahu kamu istriku? Termasuk teman-temanmu kan?” Kania mengangguk saja.

__ADS_1


“Oke. Kalau begitu kita akan umumkan pernikahan kita ketika tujuh bulanan nanti.” seru Jemi.


Rasanya pernikahan keduanya semakin hari semakin harmonis. Hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan tibalah hari dimana yang paling mereka tunggu-tunggu.


Tujuh bulan mengandung kini haru bahagia ketika melihat para tamu berdatangan. Termasuk teman-teman Kania yang pernah datang mengunjungi di rumahnya.


“Kania!” seru mereka serentak. Kania sudah tahu hal ini akan terjadi. Ia dengan wajah bahagia datang menyambut semua temannya.


Kehebohan pun terjadi. Satu persatu dari mereka bertanya kebenaran tentang Kania yang sudah menikah san memiliki anak.


“Iya Nia, kamu nikahnya kok cepat banget? Ini udah hamil tujuh bulan lagi. Kok kita semua nggak tahu. Siapa suami kamu?” tanya salah satu dari mereka.


“Nia Sayang!” Jemi dengan penuh percaya diri melangkah lebar mendekati sang istri. Di usap kepala sang istri dan di rangkulnya pundak wanita yang kini tampak cantik itu.


“Mas, kenalin ini teman-teman aku. Teman-teman, kenalin ini Mas Jemi suami aku.” tutur Kania lembut.

__ADS_1


Tak ada kata yang bisa di ucapkan oleh para teman Kania. Mereka semua tercengang kaget melihat sosok Jemi yang tampannya paripurna. Percaya diri pria itu menyapa teman sang istri.


“Wajahku sudah kencang berkat skincare dan treatment DNA Salmon itu. Mereka tidak mungkin mengatakan aku tua.” gumam Jemi dalam hatinya.


__ADS_2