
Make up yang cantik meski tak begitu tebal serta balutan gaun yang benar-benar pas di lekuk tubuh gadis bernama Kania saat ini sangat cantik terlihat dari pantulan cermin besar di depan sana. Air mata yang menggenang di kelopak mata indah itu segera ia hapus pelan. Kania mencoba menerima semua ini dengan berdamai pada keadaan. Hatinya begitu yakin jika pilihan yang ia putuskan saat ini dengan dadakan akan membawanya pada kebahagiaan. Sebab Jemi ia kenal bukanlah pria yang buruk selama ini.
"Ayo, Non Kania." sahut pelayan menggenggam tangan Kani berjalan ke arah luar kamar.
Langkah lebar namun pelan membuat Kania segera tiba di depan ruangan yang menjadi tempat mereka akan mengikat janji suci pernikahan. Keningnya mengerut dalam melihat seorang pria yang menatapnya dengan tatapan sendu. Wajah tua yang terlihat begitu seram dari penampilan di wajahnya penuh dengan bulu kumis dan janggut membuat Kania bingung.
Lama gadis itu berdiri menghentikan langkah untuk mendekati arah tempat penghulu dan yang lainnya duduk.
"Ayo Non." Sekali lagi Bibi pelayan menarik pelan Kania yang menatap penuh tanya pada pria di depan sana.
Meski tak pernah melihat entah mengapa rasanya ia mengenal sosok pria asing itu. Sampai pada akhirnya suara dari Jemi terdengar.
"Kania, duduklah. Acara akan segera di mulai." pintahnya dan Kania patuh.
__ADS_1
Sejujurnya ia pun tidak mengerti dengan acara pernikahan ini yang tentu akan tidak sah ketika wali nikah untuknya tak ada.
"Bagaimana untuk wali nikah dari saudari Kania? Apakah sudah siap?" Di detik berikutnya Kania menoleh menatap pria yang menjadi wali nikah untuknya. Tentu saja itu adalah pria asing yang menyeramkan tadi.
Hanya bisa diam mencerna apa yang terjadi. Seolah semuanya terasa seperti berada di mimpi. Kania tak bisa melakukan apa pun karena terlalu bingung dengan semuanya. Ia tak sadar jika ucapan ijab dan kabul telah usai.
"Kania." panggil Jemi mengulurkan tangan agar sang istri mencium punggung tangannya.
"Hah?" Kania tersadar dari lamunan.
Keduanya saling diam dengan penghulu di depan mereka tengah menyodorkan berkas untuk mereka tanda tangani saat ini. Dimana artinya Kania telah sah menjadi seorang istri begitu pun Jemi yang sah menjadi seorang suami untuk kedua kalinya.
"Jemi, apa-apaan ini?" Teriakan lantang di ambang pintu utama rumah megah itu membuat semua yang ada di ruangan menoleh kaget.
__ADS_1
Terlihat seorang wanita tua tengah berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang. Kemarahan di wajahnya terlihat begitu jelas saat ini. Namun, Jemi yang tahu watak sang ibu segera meminta semua bubar begitu saja dan menyisahkan pria yang ia sebut adalah ayah dari Kania.
"Pak Derman, tetaplah di sini. Kita akan bicara lebih dulu." ujar Jemi yang hanya mendapat tatapan penuh tanya dari Kania.
Seketika ruangan menjadi kosong dengan semua yang pergi begitu pun penghulu yang sudah selesai dengan tugasnya.
"Jemi, apa yang kamu lakukan? Tidak cukup kamu merawatnya sejak kecil? Untuk apa lagi kamu menikahi wanita itu?" Suara penuh emosi terdengar jelas saat ini.
"Oh...saya tahu. Ini pasti kamu kan yang merencanakan semua ini? Apa? Huh! Kamu memakai cara licik apa menggoda anak saya? Pura-pura hamil? Apa, Kania? Kamu pura-pura apa? Cinta sama anak saya? Atau kamu pura-pura hilang kesucian dan meminta anak saya bertanggung jawab?" Sepasang mata wanita tua itu begitu melotot marah pada Kania yang hanya bisa menunduk.
"Saya tidak melakukan apa pun, Nenek." ujar Kania takut.
"Berhenti panggil saya Nenek. Kamu hanya anak jalanan yang di pungut oleh anak saya. Tidak ada darah setetes pun keluargaku mengalir di tubuh kamu. Ingat itu!"
__ADS_1
"Mamah, cukup!" Bentak Jemi yang kesal mendengar semua ucapan bernada tinggi dari sang mamah.