
Senja telah terlewati dengan berbagai macam peliknya kehidupan. Kini malam kembali menyapa dimana pelayan tampak menatap makan di meja makan. Indah tatanan masakan yang berbagai macam bentuknya. Terlihat uap yang menggiurkan menandakan jika semua baru saja selesai di masak.
“Nia, ayo makan. Biarkan Bibi meletakkan semuanya.” ajak Jemi ketika melihat sang istri juga turut sibuk di dapur.
Wanita itu begitu antusias mengikuti Bibi menyiapkan makan yang belum di sajikan di meja makan. Ia sampai acuh pada panggilan sang suami yang meminta di temani di meja makan.
Sampai tiba suara dari arah lain yang membuat suasana hangat malam ini menjadi tak nyaman.
“Jem, aku yang temani boleh dong? Aku juga tidak bisa jika bergerak di dapur. Biarkan dia membantu Bibi.” sahut Karin dengan berjalan memakai kedua tongkat di tangannya.
Pakaian yang ia kenakan saat ini adalah setelan piyama satin. Kania menatapnya dengan tatapan benci. Sementara Karin yang menatap Kania seolah menunjukkan senyum persaingan.
“Nia, ayo cepat duduk di sini.” panggil Jemi menatap sang istri. Kania hanya acuh. Ia terlalu kesal melihat Karin yang tidak tahu diri.
__ADS_1
Bukannya mendekati sang suami, Kania justru semakin membuat pergerakannya lama di dapur. Jemi hanya menghela napas pasrah. Entah bagaimana caranya ia menghadapi semua masalah ini selama seminggu.
“Satu minggu tinggal di sini. Satu minggu juga aku kena sial.” umpat Jemi dalam hatinya.
“Ini kamu suka makan yang ini kan? Dan ini aku kasih tapi jangan banyak-banyak. Kamu nggak lupa kan kalau kamu makan ini terlalu banyak bisa alergi.” Karin seolah menunjukkan apa yang ia tahu tentang Jemi.
Wajahnya tersenyum lembut tanpa perduli bagaimana Kania sangat marah. Jemi hanya diam menatap sang istri yang tak mau menoleh padanya.
Bahkan Kania memilih di dapur untuk mencuci piring dari pada harus makan satu meja dengan Karin.
Tak ada yang tahu di sini Kania sibuk mencuci piring sembari matanya menahan linangan air mata. Tak tahan melihat bagaimana Karin memperhatikan sang suami. Meski mereka telah bercerai lama dan Jemi sangat mencintai Kania, tetap saja hati Kania begitu tak rela jika ada masalalu sang suami yang kembali datang.
“Aku nggak bisa begini terus.” gumam Kania geram.
__ADS_1
Meski matanya tak melihat, tetap saja kedua telinga Kania bisa mendengar semua perhatian Karin untuk Jemi.
“Karin, sudah cukup. Aku ada Kania yang bisa melayaniku. Kalau pun tidak, aku punya tangan untuk melakukan semua sendiri. Jadi, tolong berhenti.” sahut Jemi mendorong piring yang sudah di isi oleh Karin.
“Jem, ini makan untukmu. Ayolah aku sudah susah payah berdiri mengambilkan ini untukmu.” rayu Karin yang begitu manja.
Jemi yang geram menghela kasar napasnya. Sampai keduanya tak sadar bagaimana cepatnya Kania bergerak mendekati mereka dan melempar piring berisi makanan itu.
“Berhenti menggoda suamiku! Atau kakimu akan aku patahkan benar-benar sampai remuk!” Derai air mata tak mampu Kania tahan.
Matanya menatap nyalang Karin yang sangat syok mendapati tingkah brutal Kania. Bocah berstatus istri Jemi itu berlari menuju kamar usai melempar piring ke lantai.
Jemi yang melihat aksi sang istri segera berlari mengejar ke dalam kamar. Meninggalkan Karin yang mengepalkan tangan kuat.
__ADS_1
“Sialan! Awas saja kalian. Dan kamu Kania, kamu akan tahu kelak telah berhadapan dengan siapa.” gumam Karin dalam hatinya.