
“Sayang, Kania! Aku pulang!” Seruan dari luar rumah. Tampaknya Jemi sangat tak sabar bertemu istri kecilnya. Memamerkan wajah bening serta kencangnya pada sang istri.
Tanpa ia tahu jika Kania di dalam kamar terlihat menangis dan mengacak seluruh isi kamar. Tak perduli semua make up yang Jemi belikan habis terpecah belah.
“Kania, buka pintunya.” Kembali Jemi berteriak.
Tangannya terayun mengetuk pintu kamar. Tak ada sahutan dari sang istri selain suara pecahan barang.
Jemi mengerutkan kening bingung. Kembali ia mengetuk pintu namun masih saja tak di buka oleh Kania.
“Kania, berrsuaralah. Kalau tidak aku akan mendobrak pintu ini.”
“Dasar tidak tahu malu. Lihat saja aku akan pergi dari sini.” umpat Kania begitu kesalnya. Ia bergegas mengambil koper dan mengisi beberapa pakaian.
Barulah setelah itu suara teriakan Jemi terhenti. Ia terdiam di waktu yang sama saat Kania membuka pintu kamar. Wajah sembab serta penampilan yang berantakan.
__ADS_1
“Sayang, Kania. Hei, ada apa denganmu?” Baru saja Jemi ingin menarik Kania ke dalam pelukannya, wanita itu dengan cepat mendorong tubuh Jemi.
Terkejut Jemi saat melihat sikap sang istri yang sangat aneh.
“Kenapa pulang? Masih ingat kalau punya istri? Iya?” tanya Kania dengan intonasi yang tinggi. Jemi hanya menggeleng tak mengerti.
“Nia, ada apa? Kenapa kamu marah-marah sama aku? Aku tentu masih ingat dong punya istri.” Kania kembali menepis wajah Jemi ketika pria itu hendak menangkup wajahnya.
Kania yang sangat marah padanya membuat Jemi semakin penasaran. “Nia, maaf yah kamu marah karena aku nggak jemput di kampus kah? Aku lagi sibuk hari ini.”
Jemi pikir bertutur kata demikian akan membuat Kania iba. Namun, yang terjadi sebenarnya justru Kania semakin marah. Suaminya berkata bohong padanya. Kania menggeleng tak menyangka Jemi tega membohonginya.
Jemi yang sadar jika Kania telah salah paham segera menggenggam tangan mungil itu.
“Sayang, dengarkan aku dulu. Kania, hentikan! Hei ini salah paham. Aku tidak pernah berkhianat. Kamu menyangka aku dengan Yanti bukan?” Pertanyaan Jemi sontak membungkam bibir Kania.
__ADS_1
Berharap jika ia mendapatkan jawaban yang menenangkan sebagai seorang istri yang cemburu.
“Aku tadi ke klinik di temani Yanti. Maaf aku lagi beli cream di sana. Itu bukan untuk selingkuh, Nia. Itu semua demi kamu.” ujar Jemi.
Mendengar alasan suaminya yang tidak masuk akal, Kania menoleh pada bawaan suaminya. Tak ada barang seperti yang Jemi katakan. Cream yang ia beli tak nampak sama sekali. Hanya ada tas kerja saja yang terletak di nakas samping pintu kamar.
“Oh cream, bisa tunjukkan dimana cream itu sekarang?” Kania menatap Jemi dengan penuh intimidasi. Tangannya saling menyilang di depan dada menunggu reaksi sang suami.
Tepat saat itu pula Jemi menoleh ke samping ingin menunjukkan cream yang ia beli barusan.
“Loh dimana creamnya? Tunggu, Nia. Mungkin ketinggalan di mobil.”
Kania hanya berdiri menunggu sang suami yang berlari menuju mobil. Sampai beberapa saat akhirnya ia kembali dengan tangan kosong. Kania berdecih marah melihat kebohongan suaminya lagi.
“Kamu sudah benar-benar berubah, Mas. Untuk apa semua kebaikan kamu selama ini padaku? Kalau kamu tidak mau menjadi suamiku kenapa kita harus menikah? Aku mau pergi!” Kania melewati Jemi dengan mendorong tubuh pria itu.
__ADS_1
Meski sebenarnya dorongan itu tak berarti apa pun. Justru tubuhnya lah yang goyah ketika melawan kekuatan tubuh Jemi saat berdiri kokoh.
“Kania, tunggu. Tunggu, Sayang!”