Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Jurus ampuh Jemi lakukan dan akhirnya Kania menjelaskan pada sang suami.


“Mas kenapa nggak pernah ke kampus ngawasin aku coba? Pasti Mas Jemi sibuk sama mantan istri Mas itu kan? Mas benar-benar sampai lupa sama aku. Apa Mas nggak perduli aku lagi kalau di luar sana ada yang gangguin aku?” Panjang lebar Kania mengutarakan isi hatinya.


Bibirnya maju ke depan menunjukkan betapa ia kesal saat ini. Jemi hanya tersenyum senang mendengar ucapan sang istri sembari mengusap pelan puncak kepalanya.


“Oke maafkan Mas yah, Sayang. Besok kita akan ke kampus. Kamu mau begitu kan?” Kening Kania mengerut mendengar ucapan sang suami.


“Mau aku? Jadi bukan maunya Mas Jemi?” tanya Kania kesal.


Jemi kembali terkekeh. Ia mengeratkan pelukan sang istri.


“Bukan. Itu maunya Mas juga, Nia. Mas cuman nggak mau kamu terganggu dengan kehadiran Karin ke rumah ini. Sudah tenanglah, besok Mas akan kembali awasin kamu seperti sebelumnya. Oke?” Kania hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Keduanya pun turun ke meja makan untuk makan berdua malam ini. Bibi sudah menyediakan makan malam yang lezat untuk keduanya. Tak terlihat seperti anak dan ayah, keduanya saling suap makan dengan wajah tersenyum bahagia.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponsel Jemi berdering saat suapan keduanya dari Kania hendak ia makan.


“Siapa, Mas?” tanya Kania. Matanya menatap penuh curiga kala Jemi menatap sang istri dengan wajah datar.


“Ini ada Mamah nelpon. Sebentar kita lanjut makannya yah? Mas angkat telepon dulu.” Jemi tak ingin membuat sang istri curiga kembali. Ia pun memilih menelpon di samping sang istri.


“Apa, Mah? Kok bisa sih? Mamah sama siapa di sana?” Kening Kania mengerut kembali mendengar kepanikan sang suami.


Jemi bahkan sampai mencegah tangannya yang ingin menyodorkan gelas ke bibir pria itu.


Jemi tampak menghela napasnya kasar. Ia mematikan sambungan telepon dan buru-buru meneguk air minumnya.


“Nia, tolong kamu di rumah dulu sayang. Mas harus segera ke rumah sakit. Tolong bantu Mas yah dengan kamu tetap di rumah. Ingat jangan kemana-mana. Mas harus pergi sekarang juga.” Buru-buru Jemi mengecup kening Kania.


Ia pergi tanpa perduli bagaimana Kania menatap nanar punggung sang suami yang sudah menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


“Ada apa sebenarnya? Kenapa aku tidak di bawa? Apa Mamah sakit?” gumamnya bingung. Hanya berdiri melamun Kania lakukan tanpa tahu apa-apa.


Sedih rasanya jika benar dugaannya sang mertua benar-benar sakit dan dirinya justru harus berdiam diri di rumah seperti saat ini.


Beda halnya di tempat lain. Kini Jemi baru saja tiba di rumah sakit. Ia melangkah dengan napas terengah-engah memasuki ruang rawat dimana sang mamah sudah berdiri menyambut kedatangannya.


“Jem, akhirnya kamu datang juga. Mamah sangat cemas melihat Karin seperti ini. Mamah takut.” ujar Karin mendekati Jemi yang berdiri diam mematung.


Pikiran yang benar-benar kalut membuat Jemi tidak bisa berkata apa pun. Di depannya sosok wanita yang pernah dia sayangi begitu dalam tengah terbaring sakit. Karin tak membuka matanya, di wajahnya terlihat beberapa luka berdarah yang baru saja di bersihkan.


“Kenapa bisa seperti ini, Mah?” tanya Jemi.


Wulan menundukkan kepalanya sedih. “Karin kekeuh mau kerja di perusahaan sampai lembur. Tapi, Mamah memaksa dia pulang. Mamah nggak tega Jemi kalau Karin terus kerja sedangkan kamu sudah pulang. Dia berusaha menutupi waktu libur kamu di perusahaan dengan menyelesaikan semua kerjaan. Sampai akhirnya di tangga Mamah nggak sengaja membuat Karin terjatuh. Mamah benar-benar takut.” Tubuh Wulan gemetar ketakutan.


Jemi jelas melihat sang mamah tak berakting sama sekali. Ia pun memeluk sang mamah menyalurkan ketenangan agar sang mamah tak panik lagi.

__ADS_1


__ADS_2