
Menjelang sore akhirnya Kania pulang. Mulanya Dika berniat mengantar Kania pulang. Entah rasanya berdekatan dengan Kania si gadis cantik dan manis itu membuat jiwa pria Dika bergejolak. Rasa penasaran tentu mulai sulit ia kontrol semenjak mengenal wanita itu. Sayang, Kania terus menolak tawaran Dika. Tak ingin Kania merasa tak nyaman, Dika pun melepaskan wanita itu pulang tanpanya.
“Kania…Kania… kamu benar-benar membuat aku penasaran. Rasanya lucu jika menikahi siswi ku sendiri. Tapi, itu bukan masalah sih.” Seorang diri Dika berbicara. Bayangan Kania yang terus melintas di pikirannya.
Sementara di sini Kania tercengang kaget melihat mobil yang parkir di salah satu klinik kecantikan. Ia bahkan meminta supir menghentikan mobil saat ini.
“Pak, berhenti. Berhenti cepat, Pak!” teriaknya.
Sang supir sampai mengerem mendadak mobil lantaran kaget mendapat perintah tiba-tiba.
Kedua mata Kania mengarah pada halaman parkir yang cukup luas. Tepat di dekat sisi jalan parkiran itu menunjukkan mobil mewah. Hal itu menyita perhatian Kania saat ini.
“Itu mobil Mas Jemi. Siapa yang pakai ke klinik? Ini masih jam kerja. Nggak mungkin mobil pribadi Mas Jemi di pakai oleh orang kantor.” Kania bergumam sendiri.
Rasa penasaran membuatnya tak ingin keluar dari mobil. Ia menahan diri untuk tetap mengawasi dari kejauhan. Matanya begitu tajam, satu detik pun Kania tak mau melewatkan dengan menatap ke arah lain.
__ADS_1
Di depannya pak supir hanya patuh duduk diam siap menunggu perintah selanjutnya. Sampai pada setengah jam berikutnya Kania di buat tak percaya. Mulutnya tercengang lebar melihat kedua orang berjalan saling tertawa.
Di sini Kania menggeleng. Hal yang mustahil sang suami lakukan. Buliran air mata ia jatuhkan di kedua pipi. Bukan hanya Karin saingan cintanya. Di luar Kania tidak tahu jika banyak wanita yang mengincar suami dudanya itu.
“Tega kamu, Mas Jemi.” ujar Kania sedih.
Di sana Yanti sang sekertaris suami tampak terkekeh menggoda bossnya yang juga tersenyum bahagia.
“Cie wajahnya sudah kencang banget yah, Pak Jemi?” ujar Yanti menggoda. Satu paperbag cream premium telah Yanti pegang saat ini.
Di samping Yanti terlihat Jemi memegang dagunya dengan lembut. “Kamu benar-benar bisa saya percaya, Yanti. Wajah saya kerutannya langsung hilang seketika. Kenapa tidak dari dulu kamu beritahu saya perawatan seperti ini?” ujar Jemi takjub.
“Yanti, jangan duduk di depan. Ayo kita duduk di belakang.” pintah Jemi membuat Yanti terhenti untuk masuk ke mobil.
“Tapi, Pak…” Ucapan Yanti terpotong oleh Jemi.
__ADS_1
“Masih banyak yang harus saya pelajari tentang cream ini. Kamu harus beritahu saya.” Patuh akhirnya Yanti pun duduk di samping Jemi.
Tanpa mereka tahu dari arah lain sudah ada sosok yang begitu tersakiti. Kania berkali-kali mengumpat nama suaminya.
“Dasar laki-laki tua bangka! Dasar gatel! Mas Jemi jahat banget sama aku!” Kania menangis sepanjang jalan tanpa tahu yang terjadi sebenarnya.
Berbagai macam fungsi dan cara pemakaian Yanti jelaskan secara detail. Jemi antusias mendengarnya.
“Lalu bulan depan kamu bisa kan temani saya untuk treatment bontok lagi?” Kening Yanti mengerut dalam mendengar ucapan sang bos.
Ia terkekeh sembari menggelengkan kepala. “Botox, Pak Jemi. Kalau bontok itu makanan orang Jawa.” ujarnya.
“Ah iya itu maksud saya.” Keduanya tak bosan berbicara seputar cream. Sampai akhirnya Yanti pun tiba di tempat tujuan.
Jemi segera pulang dengan wajah bahagianya. Ia tak sabar ingin memperlihatkan pada istri kecil dan pamer pada mertua jika wajahnya sudah terlihat sangat muda kali ini.
__ADS_1
Melihat kepergian Jemi, Yanti menghela napas kasar sembari menggeleng tak percaya.
“Cuman gara-gara cream aku bisa ngerasain di antar sama big boss. Kapan lagi jadiin big bos babu? Hahaha.”