Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Perjanjian Satu Minggu


__ADS_3

"Ada apa ini, Mah? Kenapa dia di bawa ke sini?" Kania yang terganggu dengan kehadiran Karin di rumah itu lantas memberanikan diri mengatakan pada sang mamah mertua.


Ia tak perduli bagaimana wanita itu menolaknya selama ini. Sekarang Kania adalah istri dari Jemi. Yang artinya ia pun berhak atas seisi rumah sang suami. Namun, sayang respon Wulan justru hanya mencebikkan bibirnya saja. Ia tak suka sama sekali dengan sang menantu bahkan enggan menganggapnya sebagai menantu.


"Berani kamu memanggil saya Mamah? Siapa kamu? Ingat Kania, saya tidak pernah memberi restu atas pernikahan kalian." Jemari telunjuk Wulan terlihat tegas menunjuk pada Kania.


Jemi menggeram kesal melihat kejadian ini semua. "Mah, tidak ada yang memberi ijin dia tinggal di sini. Saya dan Kania merasa terganggu atas ini semua." ujar Jemi namun Wulan justru mengibaskan tangan seolah ucapan sang anak hanya angin yang bisa ia kibas begitu saja.

__ADS_1


"Halah Jem, Mamah tidak butuh ijin darimu atau dia. Sudah Mamah harus siap-siap untuk berangkat. Hanya satu minggu. Kalau tidak orang tua Karin akan menuntut Mamah. Mau kamu Mamah di penjara? Sedangkan di Singapur Mamah harus menghadiri seminar." ujar Wulan lalu pergi tanpa menghiraukan bagaimana respon Kania dan juga Jemi saat ini.


Keduanya saling pandang tanpa bicara. Jemi sadar lagi-lagi ia harus membuat sang istri kecewa.


"Aku capek, Mas." Kania melangkah meninggalkan sang suami dengan wajah kecewanya.


Jemi tak tinggal diam. Ia mengejar sang istri dan membiarkan Karin di kamar tamu istirahat. Tentu saja kemenangan kini ada di tangan wanita itu. Karin berbaring menikmati kasur empuk dengan wajah puasnya.

__ADS_1


"Kania, ayo kita bicara. Ini semua bukan maunya aku." Kania masih saja diam tak menanggapi ucapan sang suami. Berbicara dengan Kania yang marah seperti ini benar-benar baru Jemi rasakan jika wanita yang ia nikahi memanglah masih sangat bocah.


Dalam mengahadapi masalah pun Kania sering menghindar atau bahkan diam. Jemi harus memiliki ketegasa dan sikap sabar yang lebih menghadapi Kania.


"Nia, kita tunggu satu minggu. Mamah akan menjemput Karin. Oke? Kamu tidak perlu bertemu wanita itu meski kita tinggal satu rumah. Aku janji kita akan baik-baik saja selama dia ada di sini. Justru kita tidak boleh tunjukkan jika hubungan kita selemah ini pada orang lain." Mendengar penuturan sang suami sontak Kania menatap Jemi denga kening mengerut dalam.


"Satu minggu itu bukan waktu yang sebentar. Dan bukan aku yang jadi masalah ketemu sama dia. Tapi kamu, Mas. Dia itu lagi usaha keras buat kembali sama Mas. Mana ada istri yang mau mantan istri suaminya tinggal di rumahnya. Aku nggak terima, Mas." sahut Kania kesal kembali membanting tubuhnya ke kasur setelah ia duduk menatap sang suami.

__ADS_1


Jemi pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia berjanji tidak akan membuat masalah dan tidak akan bertemu Karin. Malam itu Jemi terpaksa tidur tanpa mendapat ijin memeluk tubuh sang istri. Kania mengancam akan mendorongnya keluar kamar jika Jemi masih memaksanya.


"Huh baru saja baikan sudah kelahi lagi. Mamah juga kenapa sih bisa bawa Karin ke sini? Bisa-bisa setiap hari aku ribut dengan Kania." gumam Jemi menggerutu kesal mengumpati sang mamah yang sudah tenang di rumah megahnya.


__ADS_2