
"Dasar menyusahkan saja. Kamu harus menerima hukumanmu kali ini." Tubuh Kania menggigil mendengar suara seorang pria dengan tawa yang menggelegar kala itu.
Kania menggelengkan kepala ketakutan melihat pria yang berdiri di depannya kini tampak melepaskan ikat pinggangnya.
"Tidak. Tolong jangan lakukan ini. Aku mohon," Berderai air mata gadis itu menangkup tangan memohon.
Suasana sunyi di taman yang tidak terawat itu membuat Kania semakin ketakutan. Akankah hidupnya kembali harus di serahkan pada pria yang tidak ia cintai? Sumpah demi apa pun Kania merutuki nasib hidupnya yang begitu buruk.
Ia memohon tanpa belas kasih pria itu sudah menarik tangannya untuk bergeser ke tempat yang lebih gelap.
"Tolong jangan lakukan ini padaku. Aku mohon..." tangis terus Kania lakukan hingga ia berteriak meminta pertolongan.
Mustahil rasanya ia mendapatkan pertolongan sebab di sekitar tampak begitu sepi. Dan tanpa ia duga layangan tangan yang ingin menamparnya saat itu seketika tergelintir ke belakang. Seiring suara teriakan dari pria itu yang kesakitan.
__ADS_1
"Beraninya kau!" Suara bariton yang menggema sontak membuat Kania menghentikan tangis. Samar ia melihat sosok tinggi yang berdiri di belakang preman itu.
Suara yang sangat ia hapal siapa pemiliknya.
"Papah Jem?" Kania bergetar menyebut nama itu dan segera bangkit.
Suara kesakitan terdengar oleh preman yang di hajar oleh Jemi. Saat itu juga Kania tak kuasa menahan diri untuk memeluk pria yang sangat ia hindari beberapa hari belakangan ini.
"Aku takut. Tolong Papah Jem bawa aku pergi tolong aku takut..." Usapan lembut di puncak kepala Kania ia rasakan. Pelukan hangat yang begitu nyaman bisa Kania rasakan hingga ketakutan tak lagi sama sekali ia rasakan.
Sementara preman yang sudah berani hendak melecehkannya berlari tunggang langgang melihat tangan Jemi sudah menodongkan pistol dari pinggangnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Kania hanya menjawab dengan isakan tangis ketakutan yang tersisa. Tubuhnya terasa lemas untuk melangkah hingga Jemi berinisiatif menggendongnya ke dalam mobil. Mereka kembali ke villa dimana Jemi menetap beberapa hari ini.
Selama perjalanan pun tak ada perbicangan selain Jemi yang menggenggam hangat tangan Kania. Gadis mungil bertubuh tinggi jenjang itu tampak sangat kotor dan lusuh namun Jemi sama sekali tak menunjukkan rasa jijik pada Kania.
"Mandilah dan segera makan lalu istirahat. Besok kita akan pulang." Pria tampan itu berjalan keluar kamar meninggalkan Kania yang duduk diam mematung.
Jujur ketakutan masih begitu besar Kania rasakan.
"Apa yang harus ku lakukan, Tuhan? Aku benar-benar tak berani keluar sendiri tanpa Papah Jem lagi. Tapi, bagaimana mungkin aku bertahan tinggal dengan pria itu? Hubungan kami tak seperti dulu lagi." Cukup lama Kania bertengkar dengan pikirannya sendiri.
Hingga akhirnya ia besin saat mencium aroma tubuhnya yang tak enak. Sudah berapa hari seperti ini, Kania baru sadar tubuhnya sangat menjijikkan. Kania melangkah ke kamar mandi dimana ia sangat merindukan sentuhan air bersih dengan bathup yang memanjakan tubuhnya.
Cukup lama Kania berendam sementara di luar sana Jemi tampak menata masakan yang baru saja ia buat. Hanya dua piring ia sajikan di meja makan sebagai sambutan Kania yang baru kembali.
__ADS_1
"Kita akan memulai semua dari awal lagi, Nia. Aku akan menjadi pria satu-satunya dalam hidupmu. Aku yakin akan itu semua." gumamnya menatap dua piring nasi goreng spesial yang ia lengkapi dengan toping lezat serta susu hangat yang ia sediakan di gelas Kania.