Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Keegoisan Jemi


__ADS_3

"Nia, ayo makan. Semuanya sudah aku masak khusus buatmu. Aku minta maaf yah? Ayolah..." Jemi berusaha keras membujuk istri bocahnya yang tengah ngambek dan mogok makan hingga larut malam.


Kania benar-benar sulit memaafkan sang suami meski ia sudah sempat termakan pesona duda tampan itu. Kania memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa perduli bagaimana Jemi susah payah memasak berbagai makanan. Mood Kania selau saja tiba-tiba rusak setiap kali ia ingin berdamai dengan Jemi. Ingatannya terus kembali pada kejadian di rumah sakit.


Satu malam ia menunggu kabar sang suami, bahkan Kania begitu mencemaskan jika sampai terjadi sesuatu dengan sang ibu mertua. Namun, kenyataan yang ia dengar paginya dari sang ibu mertua justru Jemi tengah menunggu sang mantan istri di rumah sakit. Tentu saja hal itu membuat Kania benar-benar sakit.


"Sayang, Kania." panggil Jemi mendekati Kania yang berbalut selimut. Ia memeluk tubuh sang istri mengecup kepalanya beberapa kali.


"Jangan ganggu aku, Mas." sahut Kania menatap tajam.


Jemi tak goyah. Ia terus mengecup kepala sang istrii sampai akhirnya Kania mendorong kasar dada sang suami. Tak berhenti sampai di situ, Kania justru kehilangan kesabaran dengan mendorong Jemi keluar dari kamar.


"Kania. Hei, ada apa ini? Aku mau di bawa kemana?" tanya Jemi panik dan saat itu pula pintu kamar tertutup rapat.


Kania mengunci kamar lalu menikmati hidangan yang di masak sang suami. "Huh gini kan enak makannya. Rasain emang enak di keluarin dari kamar sendiri." umpatnya pada sang suami.


Berkali-kali terdengar suara Jemi berteriak di luar sana namun Kania tak perduli sama sekali. Wanita itu asik makan sendiri ketika ia merasa puas dan kenyang barulah Kania merebahkan tubuh di atas kasur. Matanya terpejam menikmati perut yang sudah penuh.

__ADS_1


"Huh nasib punya istri bocah." gumam Jemi menghela napas kasar. Lelah memanggil sang istri ia pun beralih pada sofa bed yang ada di ruang televisi. Di sana Jemi merebahkan tubuh lelahnya setelah menjadi koki untuk sang istri. Jemi terlelap dalam malam yang panjang.


Tidur di tempat yang berbeda tentu menjadi hal yang asing bagi Kania saat ini. Ia bangun di waktu masih sangat gelap. Matanya menatap jam di atas nakas.


"Masih jam lima subuh ternyata. Kenapa sudah nggak ngantuk lagi yah? Bodo ah mending di buat joging aja pasti seru." ujarnya bersemangat mencuci wajah dan berganti pakaian.


Langkah Kania terhenti saat melihat sosok pria yang tak lain adalah sang suami terlelap di atas sofa. Jujur ia tak tega melihat Jemi berbaring meringkuk di sofa tanpa ada selimut yang menghangatkan tubuhnya. Kania mendekati Jemi usai ia masuk kembali ke dalam kamar. Selembar selimut menutup tubuh kekar pria itu.


"Maafkan aku yah, Mas Jemi?" lirih Kania berucap tanpa ada jawaban yang ia dapatkan dari Jemi.


Kania bergegas keluar rumah. Ia menikmati udara sejuk di luar rumah dengan wajah yang masih badmood. Selang setengah jam berlalu wanita berstatus istri itu pun mulai terlihat di halaman rumah kembali. Kedatangannya sudah mendapat sambutan dari sang suami dengan tatapan datar.


Kania merasa aneh melihat tatapan sang suami seperti itu. "Dari olahraga." jawab Kania.


Ia hendak melangkah menuju kamar sebab waktu kuliah sudah dekat. Kania harus segera bersiap untuk membersihkan dirinya.


"Kania, mau kemana?" tanya Jemi yang hanya berdiri tanpa mengikuti langkah sang istri yang melewatinya.

__ADS_1


"Yah mau kuliah." jawab Kania lagi dengan singkat.


"Nggak ada kata kuliah!" sentak Jemi seketika.


Dimana Kania membuka mulutnya tak percaya. "Apaan sih? Aku sudah telat." bantahnya.


Jemi mendekati sang istri sembari tangannya memperlihatkan dimana sebuah ponsel yang Kania sangat tahu itu adalah miliknya.


"Kamu pasti ketemu sama pria ini kan? Mulai sekarang nggak ada kata kuliah. Kuliah di rumah saja bila perlu online." Semakin membulat mata Kania mendengar ucapan sang suami. Kania tak habis pikir bagaimana bisa Jemi berkata demikian. Memangnya ini jaman corona sampai harus kuliah online.


"Itu teman aku yang kemarin pinjamin buku. Hari ini mau aku balikin bukunya." ujar Kania menjelaskan.


"Tidak ada, Kania. Selama di luar rumah kamu tidak boleh dekat dengan pria mana pun termasuk teman sekelas dalam alasan apa pun." sahut Jemi tegas.


Pria itu bergegas memanggil pelayan. "Bibi, kunci semua pintu rumah dan simpan kuncinya." titah sang Tuan yang saat itu juga langsung di jalankan oleh pelayan di rumah itu.


Kania menggeleng tak percaya mendengar ucapan sang suami. Kania menatap Jemi yang melangkah mendahuluinya menuju kamar.

__ADS_1


"Ini nggak adil!" teriak Kania marah tanpa di hiraukan oleh sang suami.


__ADS_2