
Pagi sekali ketika mentari baru saja terbit terlihat Jemi mengusap wajahnya penuh keringat. Wajah tampan dan tubuh atletis itu terlihat sangat mempesona. Suasana rumah pun masih sangat sunyi di pagi minggu saat ini. Pria tampan itu tak sadar jika dari sudut kejauhan ada sepasang mata yang terus menatapnya penuh damba.
"Jem, ini handuk. Bi, tolong bawakan sini jusnya." Jemi berdiri dari duduknya melihat Karin datang dengan kedua tongkat di tangannya. Wanita itu meski susah payah berjalan tetap saja berusaha mendekati Jemi.
Jika di perhatikan keduanya memang masih sangat cocok. Satu tampan dan yang satu cantik. Namun, bersatu adalah hal yang tidak mungkin untuk Jemi lakukan. Karin sudah melakukan sebuah kesalahan yang fatal di pernikahan mereka.
"Ini Tuan, jusnya." Pelayan mengikuti perintah Karin memberikan minuman segar itu.
Jemi tak menolak namun tak juga mengatakan apa pun. Ia menikmati jus segar itu sembari duduk tanpa perduli tentang Karin yang terus menatapnya penuh damba. Lama wanita itu berdiri dengan perasaan canggung. Bagaimana pun caranya ia harus bisa menarik perhatian Jemi.
"Masuklah. Aku ingin sendiri." pintah Jemi tanpa menatap sang mantan istrinya.
Karin tersenyum canggung mendapatkan perintah demikian. Sampai akhirnya matanya menangkap kedatangan seseorang dari arah lain.
__ADS_1
"Hahaha akhirnya datang juga jalan untukku." gumam Karin menaikkan sebelah alisnya.
Detik berikutnya Karin terjatuh hingga terduduk di pangkuan Jemi. Wanita itu bahkan tak perduli bagaimana rasa sakitnya tubuh itu ketika terhempas melewati sisi kursi besi yang Jemi duduki.
"Mas Jemi?" Suara Kania yang memekik membuat Jemi menoleh kaget. Semua terjadi secara reflek. Yang Kania lihat hanya keadaan Karin yang terduduk di pangkuan sang suami.
Marah sekali rasanya Kania tak akan sudi melihat itu semua. Ia berjalan cepat saat di depannya Jemi berusaha membantu Karin berdiri.
"Karin apa-apaan kamu?" tanya Jemi yang kesulitan membuat Karin bangkit dari tubuhnya. Wanita itu seolah menjatuhkan tubuhnya selemas mungkin di pangkuan Jemi.
"Dasar ular!" Tak di duga Kania justru menarik brutal tangan Karin dan melemparnya ke sembarang arah. Ia bahkan tak perduli bagaimana Karin yang mengeluh kesakitan.
Saat ini Kania hanya perduli dengan sang suami yang ia tarik kuat masuk ke dalam rumah. Tak ada yang menolong Karin sampai wanita itu berteriak terus meminta tolong.
__ADS_1
"Aw kakiku sakit. Punggungku juga. Tolong!" Karin berteriak terus melihat kepergian Jemi dan Kania yang masuk ke dalam rumah.
Harapannya selain membuat Jemi kembali padanya adalah ingin pernikahan Jemi dan Kania hancur. Mungkin dengan begitu ia bisa mendapatkan peluang untuk kembali dengan Jemi. Dan kini Kania terdengar dari arah dalam rumah sana sudah berteriak marah-marah pada Jemi.
Karin berjalan di papah oleh pelayan masuk. Wajahnya yang semula nampak kesakitan kini tersenyum mendengar Jemi yang memohon pada Kania untuk berhenti marah.
"Nia, ayolah Sayang. Jangan seperti ini." bujuk Jemi menaiki tangga ke dalam kamar.
"Apa sih, Mas? Kamu lupa dengan perjanjian kita? Nggak ada ketemu atau kontak fisik sama wanita itu. Tadi apa? Sengaja yah bangun pagi-pagi meski hari libur? Mau ketemu sama dia? Aku nggak tahan, Mas Jemi!" Kania membanting pintu kamarnya.
Setiba keduanya di dalam kamar justru pertengkaran tak lagi terdengar. Dimana Jemi langsung memeluk sang istri dan mencium bibirnya. Rasa segar di tubuhnya setelah olahraga serta bubuk campuran yang sudah Karin beri di minuman nyatanya telah menguasai diri Jemi saat ini.
"Sialan! Kenapa justru sama bocah itu sih?" umpat Karin sangat geram.
__ADS_1
Dari arah luar ia tak lagi mendengar adanya keributan. Sudah bisa di pastikan jika di dalam sana Jemi tengah di kuasai nafsu yang menggila karena meminum obat buatannya. Lagi-lagi apa yang Karin harapkan tak sesuai dengan yang terjadi.