
Usai berolahraga panas pagi itu, Jemi tersenyum melihat wajah sang istri yang nampak malu-malu. Bagaimana mungkin Kania tidak malu setelah mengingat permainan mereka yang gila pagi ini. Suara Kania bahkan tak bisa lagi ia tahan untuk tidak berteriak menikmati setiap sentuhan Jemi. Keringat di tubuh keduanya membuat Jemi berinisiatif untuk membawa sang istri mandi bersama.
"Ayo kita mandi." Belum sempat Kania menolak tubuhnya sudah lebih dulu melayang di dalam gendongan sang suami.
"Mas, aku nggak mau mandi sama-sama." tolak Kania yang sangat percuma.
"Kenapa? Kamu malu?" tanya Jemi yang tak di jawab oleh sang istri.
Kania berdiri seperti patung menunduk berusaha menyembunyikan wajah enggan menata sang suami. Teriakannya barusan di kamar masih teringat jelas olehnya. Bagaimana Kania seperti hilang kendali meminta gerakan sang suami untuk terus menerus bergerak. Meski Jemi berada di bawah pengaruh obat pria itu masih sadar apa yang tak biasa dari tingkah Kania.
"Sepertinya aku harus berterimakasih dengan Karin. Berkatnya aku bisa melihat sisi lain istri kecilku ini. Kania benar-benar menikmati permainan kami barusan." gumam Jemi tersenyum puas sampai akhirnya ia menarik kembali tubuh sang istri agar duduk di atasnya.
Kini keduanya sudah berada dalam bathup yang sama dengan tubuh sama-sama polos. Membayangkan permainan sebelumnya, Jemi justru kembali merasa bangkit gairahnya.
__ADS_1
"Mas, sudah aku lelah." rengek Kania mendorong pelan sang suami yang sudah menyerang bibirnya kembali.
Rengekan penolakan itu sepertinya tak di hiraukan oleh Jemi. Keduanya pun kembali bercumbu hingga tak terasa telah melewai dua kali permainan dengan berbagai macam gaya di kamar mandi itu.
Satu jam lamanya mereka habiskan dengan bermain air akhirnya Jemi menggendong sang istri yang kelelahan ke atas ranjang dengan handuk kimononya. Hari minggu menjadi hari malas-malasan untuk mereka berdua.
Sementara di luar sana Karin baru saja kedatangan Wulan. Wanita paruh baya itu datang dengan wajah tersenyum pada sang mantan menantunya.
"Karin, bagaimana? Berhasil?" tanya Wulan yang tak mendapat jawaban langsung.
"Berhasil gimana, Mah? Tuh kamar mereka saja sampai sekarang belum terbuka-terbuka juga." umpat Karin menunjuk ke arah kamar Jemi dan Kania.
"Yah di bangunin dong? Kok kamu pasrah gini sih? Ingat Karin status kamu itu jauh lebih dulu bersama Jemi. Mamah yakin kok perasaan cinta itu pasti masih ada di hati Jemi. Jemi itu anak Mamah, Mamah paling tahu deh." ujar Wulan yang tak tahu apa yang terjadi barusan.
__ADS_1
"Untuk apa di bangunin, Mah?" tanya Karin yang belum saja selesai bicara sudah di potong oleh Wulan.
"Yah di bangunin dong. Ini kan hari minggu kenapa mereka malas-malasan di kamar sana? Yang ada bukan rencana kita yang berhasil. Tapi Kania yang berhasil hamil di dalam sana. Dasar menantu pemalas." kesal Wulan menatap ke arah kamar sang anak yang tertutup.
"Mah, mereka sudah pada bangun. Cuman obat itu reaksinya saat Jemi di dalam kamar itu. Nggak mungkin aku gedor-gedor pintu kamar mereka." tutur Karin yang sontak membuat mata Wulan membulat sempurna. Bibir merah wanita paruh baya itu pun juga terbuka lebar lantaran syok mendengarnya.
"Apa? Bagaimana bisa obat itu reaksinya di dalam sana, Karin? Mamah kasih obat itu untuk kamu dan Jemi. Bukan untuk bocah ingusan itu." Panik wajah Wulan terlihat.
Bayangan ia mendapatkan cucu dari Kania benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling. Belum saja pikirannya tenang kini sang bibi sudah melewati mereka dengan nampan di tangannya.
"Bi, untuk siapa?" tanya Wulan ketus.
"Ini sarapan untuk Tuan dan Nyonya, Nyonya besar." jawab Bibi yang hanya mendapat tatapan tak suka dari Wulan.
__ADS_1
Bahkan kini Jemi saja sampai memesan makan ke dalam kamar. Yang artinya mereka benar-benar kelelahan di dalam sana. Di sini Wulan dan Karin hanya bisa saling pandang tanpa berbicara apa pun.