Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Penolakan Karin


__ADS_3

Sudah dua hari semenjak Wulan menghubungi Karin, panggilannya tak kunjung mendapat jawaban. Wanita paruh baya itu merasa gemas sebab Karin tak pulang ke rumahnya. Sementara Jemi dan Kania kini justru semakin harmonis.


“Aku harus bawa Karin kembali. Kania sama Jemi nggak boleh sampai sedekat itu. Mereka harus berpisah.” ujar Wulan yang gemas sendiri saat melihat dari kejauhan. Dimana Kania mengecup punggung tangan Jemi sebelum memasuki kampusnya.


Wulan tampak meminta supir melajukan mobil menuju rumah sang mantan menantu. Bagaimana pun Karin harus ia bawa kembali. Selama di perjalanan Wulan terus mencoba menghubungi Karin. Namun, hasilnya masih tetap sama.


Tak berselang lama akhirnya mereka pun tiba di kediaman milik orangtua Karin. Rumah yang cukup besar namun terlihat sangat sunyi. Sama seperti rumahnya sendiri. Dimana Jemi pun tak pernah berkunjung ke rumahnya. Sedih rasanya ketika Wulan harus menikmati masa tuanya seorang diri.


“Mamah?” Karin nampak terkejut melihat kedatangan sang mantan mertua. Ia mengerutkan kening menoleh mengalihkan pandangannya dari arah televisi yang menyala.

__ADS_1


Tongkat yang ia gunakan pun di letakkan begitu saja di samping sofanya.


“Karin, kenapa kamu nggak mau angkat telepon Mamah? Kamu marah?” tanya Wulan langsung pada intinya.


Ia sebenarnya juga kesal dengan sikap Karin yang mengacuhkan dirinya. Sayang, keadaan saat ini Wulan sangat butuh bantuan dari Karin sebagai menantu yang menurutnya bisa di percaya.


“Mah, aku hanya stress dengan keadaanku saat ini. Aku lagi pengen tenangin diri.” jawab Karin apa adanya.


“Karin, ayo dong jangan menyerah seperti itu. Jemi akan kembali menyayangi kamu kok. Ini semua hanya butuh waktu. Ayo kamu harus ikut Mamah kembali ke rumah Jemi.” Wulan dengan santainya menarik tangan Karin untuk pergi dari rumah itu.

__ADS_1


Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu demi membuat Kania menyingkir dari kehidupan sang anak. Bahkan saat ini ia tak perduli bagaimana Karin yang menolak ajakannya.


“Mah, jangan. Aku nggak mau kemana-mana. Mah, sudah tolong hentikan.” tolak Karin yang berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Wulan.


Susah payah ia melepas sampai Wulan melebarkan pupil matanya kesal dengan aksi Karin. Keduanya saling pandang, terlihat jika Karin sudah tak berada di jalur Wulan lagi saat ini.


“Dia pasti nggak akan seperti ini kalau tahu aku sudah berbuat kesalahan di masa lalu. Dan aku yakin Jemi cepat atau lambat pasti akan memberi tahu semua itu jika sudah muak dengan kehadiranku. Sudahlah aku tidak mau lagi masuk dalam masalah mereka. Sudah cukup kedua kakiku menjadi korbannya.” gumam Karin dalam hati.


Selama beberapa hari bersama Jemi dan Kania, akhirnya Karin bisa melihat jika tak ada peluang untuk dirinya bisa kembali bersama sang mantan suami.

__ADS_1


“Karin sayang, ayo dong dengar Mamah. Kamu kembali ke rumah Jemi dan Mamah akan pikirkan cara untuk membuat mereka berdua salah paham. Kamu hanya berusaha bertahan di rumah itu saja. Mamah yang akan atur semuanya.” Lagi Wulan membujuk Karin.


Tentu bukan hal yang mudah untuknya mendapatkan wanita yang bisa ia nikahkan pada Jemi. Wulan menekuk wajah kala melihat Karin yang masih menggeleng menolaknya lagi.


__ADS_2