Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Tak Rela


__ADS_3

Samar suara seseorang terdengar dan Kania yang merasakan lengannya dii tepuk pelan pun segera membuka mata. Terlihat wajah wanita paruh baya yang tidak asing sudah ada di depannya saat ini. Lantas Kania menegakkan tubuh ketika duduk bersandar saat terlelap selama perjalanan tadi.


"Bibi?" sahut Kania heran. Setahunya wanita itu adalah pekerja di villa sang ayah. Saat itu juga Kania mengedarkan pandangan wajah pada sekeliling. Dimana pepohonan banyak bertumbuhan yang kini bergerak karena hembusan angin di dataran tinggi itu.


"Ayo masuk, Non Kania. Bibi sudah siapkan makan siang di vila." Tanpa banyak bertanya Kania pun melangkah memasuki vila bersama bibi.


Sepanjang melangkah ia tampak heran mengapa justru ia di bawa ke vila ini. Hingga pikiran buruk tiba-tiba saja terlintas di benaknya.


"Apa jangan-jangan Papah Jem akan membawa wanita lain ke rumah itu seperti yang dia lakukan dulu padaku?" tanya Kania dalam hati merasa tak tenang.


Dadanya terasa sesak membayangkan apa yang muncul di pikirannya. Segera ia pun menggelengkan kepala tak ingin jika hal buruk itu sampai benar terjadi. Rasa cemburu tampaknya belum Kania sadari saat ini. Yang ia pikirkan hanya tak ingin jika dirinya sampai di campakkan begitu saja setelah apa yang Jemi dapatkan dari dirinya.


"Non! Non Kania!" Panggilan dari Bibi pun kembali membuyarkan lamunan Kania.

__ADS_1


"Ada apa, Bi?" tanya Kania heran.


"Tuan datangnya mungkin agak sore. Katanya Non Kania di suruh istirahat. Sebab malam nanti akan kembali pulang bersama Tuan." Patuh Kania hanya mengangguk samar sembari menikmati makan siangnya.


Perginya Jemi saat ini membuat Kania tidak bisa tenang. Pikirannya terus bertanya apa yang membuat Jemi membawanya ke vila ini. Dan apa yang terjadi mengapa Kania tidak tahu ketika pria itu bahkan sudah meninggalkan dirinya di mobil menuju vila.


Niat untuk istirahat pun Kania tak bisa sama sekali memejamkan mata. Hanya tubuh yang ia paksa untuk terus berbaring hingga tanpa sadar kedua matanya pun terlelap begitu saja.


"Apa dia belum kemari juga?" lirih Kania bertanya sembari melangkah menuju jendela kamar yang menghadap ke depan halaman vila. Dimana parkiran mobil akan terlihat dan tidak ada mobil yang baru datang terlihat parkir di luar sana. Yang artinya pria tampan itu belum juga tiba.


Wajah cantik yang segar usai bangun tidur itu kini tampak muram. Kania bertanya-tanya kemana Jemi pergi. Ia begitu gelisah setelah beberapa hari sempat berpisah dengan pria itu. Takut jika justru apa yang ia lakukan akan membuat Jemi melupakan keberadaan dirinya.


"Ayolah Kania, kenapa kamu jadi seperti ini? Bukannya bagus jika Papah Jem melupakan kamu? Itu artinya kamu akan terbebas darinya." Lain di hati lain di mulut.

__ADS_1


Kania bisa berkata jika ia senang ketika bebas dari pria tampan itu. Namun, hatinya terasa sesak kala mengatakan itu semua. Ada rasa ketidakrelaan yang ia rasakan jika sampai Jemi benar melepaskan dirinya.


"Mengapa tidak istirahat di tempat tidur? Apa yang kau lihat, Nia?" pertanyaan tiba-tiba saja terdengar dari arah pintu kamar yang tidak terkunci.


Saat itu juga Kania membalikkan tubuh dan melihat pria tampan tinggi tegap berdiri di depannya dengan jarak agak jauh.


"Hah...ti-tidak. A-aku sudah istirahat tadi." jawab Kania tergagap.


Kaget tentu saja ia rasakan sebab setahunya pria ini belum tiba. Terlebih Bibi mengatakan akan kembali sore hari. Sedangkan ini belum terlalu sore bagi Kania. Hanya kegelisahannya saja yang membuat Kania tak sabar menunggu kedatangan pria ini.


Pelan namun pasti Jemi melangkah mendekati Kania dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Maaf, aku meninggalkanmu," pelukan hangat serta aroma yang menyeruak masuk ke indera penciuman Kania membuat wanita itu tak mampu menolak pelukan yang sangat nyaman. Bahkan usapan di kepalanya membuat Kania memejamkan mata damai.

__ADS_1


__ADS_2