Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Permintaan Maaf Tanpa Terimakasih


__ADS_3

Sepasang suami istri nampak bergandengan dengan mesra turun dari mobilnya. Mereka baru saja berbaikan dan pulang ke rumah ketika hari sudah larut. Jemi berinisiatif memanjakan sang istri dengan banyak menjalani perawatan di salah satu klinik tempatnya perawatan. Keduanya memilih langsung membersihkan tubuh dan beristirahat.


Ada yang membuat Kania sedih hari ini. Yaitu kegiatan berkuliahnya tak lagi ada saat ini. Ia justru harus ke kantor berangkat bersama sang suami.


"Sayang, ada apa?" tanya Santi melihat wajah sang anak sendu.


Mereka kini semua duduk dan menyantap sarapan. Semua masakan Santi begitu cocok di lidah Jemi.


"Nia hanya gugup pasti Bu karena kerja di perusahaan saat ini." sahut Jemi yang tak memberi kesempatan sang istri berbicara pada orangtuanya.


Jemi tidak ingin sang mertua tahu karena kecemburuannya pada Dika ia bahkan meminta sang istri berhenti kuliah.


"Kamu keren loh. Harus semangat bantu suami. Jemi sudah memberi kesempatan kamu belajar, Nia." ujar Santi mengusap lembut rambut sang anak.


Mereka semua menikmati hidangan dengan tenang. Sampai Kania dan Jemi pun memilih pergi dari rumah pagi itu. Tinggal Santi dan Derman di rumah. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Derman sibuk merawat taman di rumah itu sementara Santi sibuk membuat kue untuk Jemi dan Kania nanti.


"Siapa yah?" gumam Derman melihat gerbang pintu di buka oleh security. Rumah Jemi tak lagi di awasi oleh penjaga yang banyak. Jemi yakin jika sang ibu tak akan marah-marah lagi saat ini setelah tahu kebenarannya.


"Bu Wulan?" Derman kaget melihat kedatangan sang besan ke rumah itu.


Meski hatinya sudah rapuh namun wajah yang selalu menatap angkuh masih terlihat. Wulan melangkah meninggalkan mobilnya mendekati pria paruh baya yang tak lain adalah ayah dari Kania.


"Mana anakku?" tanya Wulan singkat. Tak ada sapaan atau sekedar senyuman di wajahnya yang ia berikan pada Derman.


Dari kejauhan Santi mengerutkan kening melihat kedatangan Wulan ke rumah itu lagi. Mereka pikir hidup mereka akan tenang tanpa adanya Wulan. Tak ingin sang suami di sakiti, segera Santi mendekati mereka.

__ADS_1


"Ayah, ada apa?" tanyanya pada Derman.


"Dimana anakku?" tanya Wulan mencari keberadaan Jemi.


Matanya tampak mengedar pada halaman dan parkiran mobil yang ada di luar. Tak ada mobil yang biasa Jemi pakai ke kantor.


"Jemi sudah ke kantor, Bu Wulan." sahut Derman.


Santi yang tak suka melihat tingkah wanita di depannya enggan menjawab. Ia sangat benci dengan tingkah Wulan yang begitu sulit menghargai orang lain. Apalagi suaminya lah yang berkorban demi suami Wulan sampai di penjara sekian lama. Tidak seharusnya Wulan bersikap seperti itu padanya.


"Anak kalian mana?" tanya Wulan melangkah menuju rumah sembari melipat kedua tangannya.


"Kania juga ke kantor, Bu Wulan." Derman terus mengikuti Wulan masuk dengan penuh rasa hormat. Berbeda dengan Santi yang memilih memperhatikan pergerakan Wulan dari jauh. Kini ia hanya berdiri menatap kepergian sang besan bersama suaminya.


Setibanya di dalam rumah, Wulan duduk di sofa dengan pandangan tajam pada Derman yang hanya berdiri dari kejauhan.


Pelayan nampak memberikan minum serta menghidangkan beberapa kue yang Santi buat.


"Saya minta maaf. Mungkin saya sudah banyak salah pada kalian." ujar Wulan tetap dengan menikmati kue. Matanya bahkan tak terlihat tertuju pada siapa pun.


Derman bingung. Wulan seperti sedang berbicara sendiri. Hingga tak ada jawaban apa pun yang Wulan dengar. Ia pun baru menoleh pada Derman.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Wulan.


Derman tergagap bingung. "Bu Wulan bicara dengan saya?" tanyanya menunjuk diri.

__ADS_1


"Memangnya saya bicara sama siapa lagi? Saya bilang saya minta maaf. Kamu tidak mendengarnya? Saya sudah tahu semuanya tentang masa lalu itu. Saya sudah melihat kejadian yang sebenarnya." tutur Wulan.


Ingatan di kepalanya kembali pada masa sebelum pagi ini ia memutuskan menemui sang besan. Wulan telah membayar orang untuk menelusuri kejadian beberapa tahun lamanya. Kejadian tentang penyerangan pada sang suami yang di selamatkan oleh Derman. Dan ternyata benar apa yang terjadi bukanlah sebuah rekayasa. Wulan telah berburuk sangka pada Derman selama ini.


Dan Bagas pun menceritakan bagaimana pentingnya momen waktu itu jika sampai sang suami berhasil di bunuh. Semua harta kekayaan mereka tidak akan bertahan sampai saat ini.


Derman terdiam membisu mendengar ucapan Wulan. Ia tak tahu harus menjawab apa saat ini. Kejadian yang sudah begitu lama seharusnya ada ucapan terimakasih namun kini berganti menjadi kata maaf. Pertolongan yang ia berikan justru membuat Wulan terus melemparkan hinaan pada keluarga mereka.


"Saya tahu mungkin kamu sangat marah pada saya. Tapi jangan lupa jasa keluarga saya juga yang merawat anak kalian." Rasanya Derman tak habis pikir dengan sikap Wulan.


Baru saja mengatakan maaf justru kini ia berkata tentang jasa keluarganya merawat Kania. Seandainya kejadian waktu itu tidak ada, mungkin Derman dan keluarga akan baik-baik saja.


Namun, Derman sadar dirinya saat ini bukanlah siapa-siapa dan kebahagiaan Kania tentu ada di tangannya saat ini.


Pelan pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu Wulan. Saya sangat berterimakasih pada Jemi telah berjasa dalam hidup anak saya begitu juga dengan Tuan besar yang merawat anak saya. Saya benar-benar bersyukur bisa bertemu Kania saat ini dengan keadaan baik." sahut Derman begitu merendah.


Santi yang mendengar pembicaraan mereka di balik pembatas ruangan begitu geram. Ia pun tengah berusaha menahan diri untuk tidak bersuara.


"Saya biarkan Jemi hidup tenang bersama anak kalian. Begitu juga dengan semua harta di kelola oleh anak saya. Itu semua sebagai permohonan maaf saya pada kalian." Setelah mengatakan hal itu Wulan pun meninggalkan rumah Jemi. Ia berniat menuju perusahaan bertemu sang anak di sana.


Derman yang berdiri hanya menatap diam kepergian sang besan. Kepalanya menggeleng heran melihat sikap Wulan sangat jauh berbeda dengan Jemi dan sang suami.


"Seharusnya Ayah itu kalau mau nolong orang harus lihat-lihat dulu siapa orangnya. Jadi begini kan? Nyesal Ibu masuk rumah sakit jiwa karena mereka." gerutu Santi.


"Bu, jangan seperti itu bicaranya. Jangan membuat pertolongan Ayah yang penuh masalah ini jadi sia-sia. Kita harus ikhlas menolong orang." tutur Derman mengusap punggung sang istri.

__ADS_1


__ADS_2