Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Mata-mata


__ADS_3

Wajah ceria penampilan yang sangat muda, bibir ranum tertarik lebar menatap pantulan wajahnya di depan cermin besar. Berputar di depan cermin memperhatikan penampilan.


“Oke semua sudah sempurna.” tuturnya berputar senang.


Kania berhenti berputar kala sadar jika dirinya telah menjadi pusat perhatian. Sosok pria mapan dan tampan berdiri menatapnya dalam diam.


“Kenapa berhenti berputar?” Jemi melangkah mendekat memperhatikan penampilan Kania dari atas sampai bawah.


Wajahnya tak sehangat biasanya. Kania terlihat gugup tak biasanya ia melihat sang suami sedingin ini.


“Ada apa? Aku sudah harus berangkat kuliah, Mas.” sahut Kania menunduk.


Jangan sampai ia melakukan kesalahan dimana hari ini adalah hari pertama masuk kuliah.


“Apa harus seperti itu penampilannya? Bisa di gantikan?” tanya Jemi menatap intens sang istri.


Kania sontak melangkah menjauh ketika Jemi mendekatinya. Takut jika ia gagal kuliah, segera Kania berlari keluar kamar meninggalkan sang suami. Mobil yang sudah siap mengantarnya ke kampus pun segera melaju menuju ke arah kampus. Kania benar-benar tak perduli jika dirinya sedang dalam panggilan sang suami.

__ADS_1


Kemeja crop yang Kania pakai sampai tersingkap di bagian pinggang belakangnya.


“Non Kania, kenapa lari-lari? Kita bahaya Non kalau laju-laju.” ujar pak supir.


“Sudah Pak laju aja. Mas Jemi hanya mau ngerjain Nia aja kok.” Seketika Kania terlihat seperti anak-anak saat ini. Sikap dewasanya sudah menghilang sejak keceriaannya terlihat hari pertama ia kuliah.


Tanpa ia tahu di kamarnya Jemi kini menggeram kesal. Belum saja memberikan protes pada Kania sang istri sudah berhasil pergi saat ini.


“Nia benar-benar keterlaluan. Kuliah mengapa seperti orang masih gadis. Apa dia tidak sadar sudah memiliki seorang suami?” umpat Jemi tak tahu lagi harus berkata apa.


Niatnya pagi ini akan ke kantor justru berubah pikiran. Jemi teringat jika di kampus sang istri, ia memiliki seorang teman yang merupakan dosen.


Hari pertama kuliah Kania lewati dengan sangat antusias. Mendapatkan beberapa teman baru tentu menjadikan Kania seolah lupa diri. Ia sangat menikmati harinya sebagai mahasiswi.


Di waktu siang pun Kania bergabung dengan teman barunya di kantin. Ponsel yang terus berdering tak ia hiraukan sama sekali.


Di samping Kania ada beberapa pria yang duduk bersebelahan dengannya meski beda meja. Tentu dengan mata mereka yang tertuju pada Kania. Gadis berwajah mungil dan cantik.

__ADS_1


“Nia, kayaknya ponselmu deh yang bunyi.” Salah satu temannya terlihat menegur Kania.


“Oh iya tunggu sebentar yah?” ujar Kania menjauh.


Ponsel yang ia rogoh dari tas terlihat ada nama sang suami yang menghubunginya.


“Iya, Mas?” sapa Jemi ketika panggilan tersambung.


“Nia, keluar dari kantin sekarang juga.” pintah Jemi membuat Kania syok. Kania segera menolehkan kepala sana sini mencari siapa sosok yang melaporkan dirinya di kantin saat ini pada sang suami.


Tak ada siapa pun yang bisa Kania curigai menjadi mata-mata sang suami. Sampai akhirnya Kania menyadari wajah tampan pria yang menatapnya dengan memegang ponsel di telinganya.


“Mas Jemi? Mas kok di sini? Mas bukan mau kuliah kan?” tanya Kania tak habis pikir melihat sang suami justru berada di kampusnya.


“Menurut kamu ngapain Mas di sini? Kamu nggak lupa kan kalau sudah punya suami, Nia? Kenapa pakaiannya seperti itu? Di kampus kamu jadi perhatian para pria. Mas nggak suka.”


Seketika itu juga panggilan pun terputus. Kania tak lagi melihat keberadaan sang suami. Ia enggan untuk kembali ke kantin. Kania berjalan menuju taman kampus.

__ADS_1


Wajahnya yang ceria mendadak mendung. Jemi benar-benar mengikutinya sampai ke kampus. Dan Kania merasa tak ada yang salah dengan penampilannya saat ini.


__ADS_2