Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Keikhlasan Wulan


__ADS_3

Suara isak tangis pecah kala Jemi mendengar ucapan dokter yang baru keluar dari ruangan pemeriksaan.


"Maafkan kami, Tuan. Hasilnya tidak seperti yang anda harapkan. Hasil dari pemeriksaan kedua kaki Bu Wulan mengalami kehancuran di bagian lututnya ke bawah. Tidak ada kemungkinan untuk bisa di lakukan operasi penyambungan. Itu sebabnya kami mengajukan tawaran untuk bisa mengamputasi kedua kaki Bu Wulan jika Tuan setuju." jemi terduduk lemas mendengar ucapan sang dokter.


Ia menahan suara tangisnya yang baru saja mengejutkan orang di sekeliling. Kania pun yang di dampingi kedua orangtuanya turut meneteskan air mata mendengar nasib Wulan saat ini. Sungguh malang nasib wanita yang sudah di tinggalkan oleh sang suami.


Tak tega membiarkan Jemi terpuruk. Kania pun mendekati suaminya. Di pegang erat pundak sang suami.


"Mas, lakukan yang terbaik untuk kesehatan Mamah. Aku siap merawat Mamah selama apa pun itu." ujar Kania.


Mungkin dengan menyumbangkan tenaga dan perhatiannya Jemi mau pun Wulan sedikit terbantu. Segera Jemi mengangkat wajah menatap sang istri. Ia memeluk Kania begitu eratnya dan menumpahkan tangis di sana.


"Mamah, Nia. Bagaimana aku harus mengatakan ini pada Mamah?" tanya Jemi di sela isak tangisnya.


"Aku tahu, Mas. Ini sangat berat. Tapi, setidaknya Mamah masih selamat, Mas. Itu sudah patut kita syukuri." ujar Kania.

__ADS_1


Keduanya saling memeluk. Jemi bahkan tidak ingin masuk ke ruangan sang mamah. Ia merasa tak kuat melihat keadaan wanita yang sudah melahirkan dirinya itu. Hingga berkas semua telah siap dan operasi pun di lakukan. Sepanjang proses operasi, Jemi hanya diam membayangkan bagaimana nanti syoknya sang mamah.


Singkat cerita, di sinilah Wulan berada. Salah satu ruangan rawat VIP yang Jemi pilih. Semua berdiri menunggu sadarnya wanita paruh baya itu. Operasi berjalan dengan baik. Semua sudah di tangani oleh dokter dan hanya menunggu obat bius hilang saja.


"Jem..." panggilan lemas terdengar dari bibir Wulan.


Ia menoleh menatap sang anak yang hanya berdiri mematung di sampingnya.


"Mah, jangan banyak gerak dulu yah? Mamah masih harus banyak istirahat." Kania yang justru mendekat dan menggenggam tangan Wulan.


Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum. Di luar dugaan wajah sinis dan angkuh yang biasa terlihat kini tak ada lagi. Kania sedikit canggung melihat respon sang mertua yang berbeda dari biasanya.


Bingung harus menjelaskan seperti apa kali ini. Kania sendiri tak sanggup mengatakannya.


Seketika Jemi mendekat dan memeluk tubuh sang mamah. Pikirannya benar-benar kalut ia tak kuat menerima kenyataan jika mamahnya telah kehilangan kedua kaki saat ini.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mah. Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga Mamah. Aku benar-benar salah." tutur Jemi sembari menangis histeris. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Mamah baik-baik saja. Senang rasanya ketika Mamah membuka mata, Mamah masih bisa melihat kamu dan Kania. Mamah kira Mamah sudah tidak bisa memeluk dan berbicara denganmu lagi, Jem." ujar Wulan begitu lembutnya.


Santi dan Derman yang masih diam sedari tadi saling tatap bingung. Seolah kecelakaan yang terjadi merubah Wulan seratus persen.


"Aku anak yang tidak becus menjaga Mamah. Aku benar-benar menyesal, Mah." Kembali Jemi mengatakan penyesalannya.


Wulan hanya tersenyum menggeleng, tangannya mengusap kepala sang anak.


"Kecelakaan itu membuat Mamah sangat takut, Jem. Mamah takut sekali jika waktu itu adalah terakhir kali Mamah bertemu denganmu." tutur Wulan meneteskan air mata.


"Mamah bersyukur di beri kesempatan hidup lagi dan bertemu dengan kalian. Mamah sangat senang meski kedua kaki Mamah tidak ada. Mamah masih bersyukur bisa selamat." Ucapan Wulan sontak membuat semuanya tertegun.


Mereka pikir Wulan belum tahu dan akan histeris setelah mengetahui kenyataan pahit ini. Justru semua berbanding terbalik. Wanita itu dengan tenang mengatakan rasa syukurnya di beri kesempatan hidup saat ini. Jemi seketika melepas pelukan dan menatap sang mamah tak percaya. Sulit di percaya ada orang yang dengan tenang mengatakan keikhlasannya di amputasi.

__ADS_1


"Mamah..." ucap Jemi menggantung dan Wulan pun mengangguk masih dengan senyum di wajah.


"Mamah sudah yakin jika kaki Mamah tidak akan mungkin selamat meski Mamah bisa selamat. Kecelakaan itu sangat membuat kaki Mamah sakit, Jem. Mamah tidak apa-apa kok. Jangan bersedih yah?"


__ADS_2