Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Pengakuan Jemi


__ADS_3

“Ada apa?” tanya Dika antusias. Wajahnya terlihat tegang menerka jika Dika datang melaporkan hal yang di perbuat Kania di kampus.


Dika yang sejak tadi senyum-senyum akhirnya membuka suara. “Dimana aku harus meminta restu untuk Kania?” Sontak mendengar pertanyaan Dika, Jemi langsung naik pitam.


Kedua tanduk di kepalanya terasa berdiri saat itu juga. Dika sampai detik ini masih tak paham atas ekspresi wajah Jemi.


“Kenapa sih? Kok kayak kamu aja pemilik Kania. Aku harus kemana buat bisa dapatin Kania?” lanjut Dika bertanya lagi.


Jemi yang merasa habis kesabarannya langsung menarik kencang kerah kemeja Dika. Semula keduanya duduk berhadapan dengan berbatas meja. Namun, saat ini Jemi sudah menarik kuat kerah kemeja Dika hingga keduanya saling berdekatan.


“Berani kamu mendekati Kania, lihat saja!” ancam Jemi.


“Apa ini, Jem? Apa maksudmu bicara seperti itu? Kamu tidak punya hak marah denganku hanya karena aku ingin memiliki Kania. Kamu tahu kan bagaimana aku kalau sudah mencintai wanita?” sahut Dika merasa Jemi sudah sangat mengenal dirinya.


Tak ada hal yang perlu Jemi khawatirkan jika Kania bersama Dika. Pria yang di kenal sangat setia sampai di usianya kini ia tak kunjung dekat dengan wanita mana pun lagi usai di selingkuhi.


“Apa kamu bilang? Mencintai wanita? Kania bukan wanita yang pantas kamu cintai, Dika! Jangan dengan Kania!” tegas Jemi yang kesal.

__ADS_1


Bagaimana mungkin temannya mencari jalan untuk mendapatkan restu bersama Kania melewati suami wanita itu sendiri?


Jemi benar-benar merasa menyesal telah mengenalkan Dika dengan Kania. Meminta bantuan untuk mengawasi sang istri di kampus, Dika berujung jatuh hati karena selalu memperhatikan aktifitas Kania.


“Kenapa, Jem? Kenapa tidak dengan Kania? Karena usiaku kah? Ayolah aku bisa menyesuaikan semuanya kok-“


“Karena Kania adalah istriku!” Ucapan Dika seketika di potong oleh Jemi.


Lantas mendengar pengakuan Jemi, Dika justru terkekeh kuat. Ia memukul-mukul meja di depannya tak percaya. Kania tidak mungkin menikah dengan pria yang sudah mengaku sebagai keluarganya.


“Kamu ngaco, Jem. Jangan beginilah sama aku. Aku temanku bro. Aku bisa kok bahagiakan Kania.” Mata Jemi menatap nyalang mendengar Dika akan mampu membahagiakan Kania.


Dika pun terdiam seribu bahasa. Matanya melebar melihat wajah cantik yang ia kagumi memakai kebaya putih berdiri di samping pria tampan yang usianya sangat mapan.


“Ini nggak mungkin. Ini pasti bercanda.” Dika terus menggeleng namun Jemi hanya mengedikkan bahu.


Biarlah jika Kania marah karena Jemi telah membongkar identitas mereka. Dari pada Dika merebut Kania darinya. Jemi tentu tak akan rela.

__ADS_1


“Sekarang jauhi Kania dan berhenti memperhatikan dia.” tegur Jemi. Dika yang masih diam seribu bahasa, wajahnya menunjukkan betapa ia sangat kecewa saat ini.


Dika tak lagi mau menatap Jemi. Ia memilih pergi dari ruang kerja sang temannya. Bayangan Kania bersamanya kini hanya tinggal kenangan saja.


Benar-benar di luar dugaan rasanya, wanita yang sudah berkeliaran di pikirannya selama ini ternyata sudah menjadi istri orang.


“Jemi benar-benar gila. Dia lebih gila dari aku.” gumam Dika tak habis pikir.


Sementara Jemi yang kesal memilih pergi dari kantornya untuk menemui sang istri. Tak perduli jika Kania masih di kampus bersama teman-temannya.


“Nia, ayo pulang!” panggil Jemi di kantin. Tawa yang semula menggema di sekeliling Kania mendadak hening.


Semua mata tertuju pada Jemi dan Kania yang meninggalkan kantin kampus.


“Mas Jemi, apaan sih? Lepasin tangan aku! Mas Jemi, aku di lihatin teman-temanku.” pekik Kania.


Kesal karena ucapannya sama sekali tak di dengar sang suami, Kania pun menggigit tangan suaminya.

__ADS_1


“Nia, berhenti bersikap anak-anak.” sentak Jemi.


Kania terkejut mendengarnya.


__ADS_2