
"Ayo cepat ganti pakaianmu!" Suara bentakan seorang pria lantas membuat Kania terjingkat kaget. Dengan takut tangannya sudah meraih pakaian yang di sodorkan ke depannya.
Tak punya keberanian, Kania hanya bisa menurut saja dari pada ia menjadi sasaran seperti orang di sekitarnya. Banyak orang tua yang harus di paksa mengemis, ketika mereka tak sanggup memenuhi perintah dari bos pengemis itu maka sebuah cambukan pun akan ia dapatkan.
"Tuhan bantu aku aku keluar dari sini. Aku tidak mau jadi pengemis." Kania meneteskan air mata di ruangan ganti kala itu.
Setelah berganti pakaian, ia di tarik keluar oleh wanita yang merupakan tangan kanan dari bos pengemis itu. Namanya adala Dani. Wanita yang terlihat sangat kasar dalam bergerak.
"Apaan sih lama banget. Cepat jalannya. Ingat yah selama kamu mengemis aku akan terus mengikuti kamu. Jadi, jangan pernah coba-coba untuk kabur." Kania hanya diam tanpa menjawab.
Sakit dan lelah di tubuhnya tak bisa lagi ia rasakan. Seolah semua yang terjadi jauh lebih menyakitkan rasanya. Kini hari beranjak siang. Dimana sinar matahari mulai terasa begitu terik. Tak perduli dengan perut yang lapar, Kania terus saja di paksa berjalan menelusuri satu persatu lampu merah. Disana ia akan menengadahkan tangan meminta uang tanpa melakukan pekerjaan apa pun.
"Ingat, targetmu harus dapat dua ratus ribu sampai siang baru boleh makan." Kata yang Kania ingat saat ia akan bekeja jadi pengemis.
Di pegang perutnya yang sudah terasa kian lapar, namun uang di tangannya baru dua lembar itu pun hanya uang dua ribuan.
Satu harian ia bekerja namun tak cukup mengumpulkan jumlah uang yang di targetkan. Kania pun tak mendapatkan jatah makan hari ini. Sampai malam hari ia hanya bisa mengumpulkan uang sebesar lima puluh ribu.
Di malam hari usai pulang dari mengemis Kania menuju tempat para orang yang menaruh sampah sisa makanan mereka.
"Ayo Kania, kamu harus tahan. Itu makanan tak layak untuk kamu makan. Itu sisa mereka." gumam gadis itu menatap kotoran yang sudah di kelilingi lalat.
"Papah Jem, tolong Nia." Tanpa sadar bibir gadis itu kembali berucap mengingat nama pria yang selama ini begitu perduli padanya.
Tapi, kilatan kejadian yang baru terjadi membuat Kania segera sadar. Ia menggelengkan kepala. Tak boleh ia berharap pada pria jahat itu lagi. Sudah cukup semuanya. Sekarang adalah waktu untuk Kania hidup mandiri. Yang terpenting adalah bisa lepas dari cengkraman preman ini.
__ADS_1
Keesokan harinya, Kania bangun dengan perut yang terasa begitu sakit. Ia meringis merasakan mual di perut akibat tak ada mengisi makanan sama sekali.
Hari kedua menjadi pengemis tak lagi Kania sanggupi. Ia meminta pertolongan pada setiap orang yang ia temui.
"Bu, tolong saya. Saya mohon bantu saya pergi dari sini." Kania menggenggam tangan wanita paruh baya yang ingin memberikan uang padanya.
"Apaan sih? Kamu ini orang gila. Kenapa berani sekali memegang tangan saya. Minggir!" Kania jatuh di dorong wanita pemilik mobil mewah itu.
Penampilan Kania memang sudah seperti orang gila. Itu sebabnya wanita tadi sangat tak suka ketika tangannya di raih Kania.
Tak menyerah, Kania kembali melakukan hal itu. Ia meminta pertolongan pada anak kecil hingga akhirnya Kania di sangka adalah penculik anak. Kania menangis saat tak ada satu pun orang yang bisa melihat kesedihannya saat meminta pertolongan. Semua begitu jahat padanya ketika Kania sebagai orang susah yang tak memiliki apa pun.
"Mau sampai kapan sih kamu berniat kabur? Kamu pikir semudah itu? Orang yang datang ke Kota ini semua rata-rata orang yang hanya ingin menyenangkan diri mereka. Mustahil punya rasa peduli yang tinggi. Sebaiknya terima saja takdirmu dan kerja dengan baik agar bisa makan." Kania menoleh ke samping dimana ia melihat wanita yang hampir seumuran dengannya berbicara dan ikut duduk di samping Kania.
"Iya. Kita sama-sama satu bos. Mulai kemarin aku perhatikan kamu susah payah kabur dari sini. Aku maklum kok. Sebab dulu aku juga seperti itu. Sampai akhirnya aku mendapat hukuman yang begitu menakutkan. Setelah itu aku memilih pasrah dengan takdirku."
Tidak. Kania tidak mungkin akan pasrah dengan takdir yang sangat menyedihkan seperti ini. Ia tak akan mau menghabiskan usianya dengan pekerjaan yang hanya mendamaikan perut orang yang justru tak melakukan apa pun. Kania sanggup bekerja sendiri tentunya.
"Tidak akan. Aku tidak akan mau seperti ini terus. Aku yakin pasti aku punya jalan keluar dari sini." tutur Kania yang kekeuh dengan pendiriannya.
"Yah itu pilihanmu deh. Yang terpenting jangan menyesal jika nanti kamu akan cacat tanpa bisa berjalan lagi karena kabur dari mereka. Jika kakimu cacat maka sudah pasti kamu akan bekerja seumur hidup untuk mereka."
Dani pergi meninggalkan Kania setelah mengatakan itu. Tangannya sempat menepuk pundak Kania pelan sebagai tanda semangat.
Tak terasa satu minggu berjalan, Kania masih saja susah memenuhi target. Sebab memang niatnya tak ingin bekerja sesuai dengan perintah sang bos. Hingga malam ini ia berjalan menelusuri jalan dan kembali meminta pertolongan pada orang yang berbeda
__ADS_1
Air mata sebisa mungkin Kania jatuhkan begitu banyak kala melihat mobil mewah melintas di sampingnya dan berhenti ketika lampu berwarna merah.
"Pak, tolong bantu sa-" Kaca mobil terbuka dan Kania menggantung ucapannya.
Di depannya saat ini pria yang memainkan ponsel tampak menoleh padanya. Wajah tampan dan penuh kasih sayang itu kini berada di depan Kania.
"Pulang denganku, Nia. Aku akan melindungimu dari siapa pun." Lantas Kania menggeleng. Ia tak akan mau kembali pada pria yang sudah merenggut kesuciannya ini.
"Hei! Cepat bekerja!" Kania lari dari hadapan Jemi dan entah mengapa ia justru lari meninggalkan area tempatnya bekerja. Kania sudah benar-benar tak mau lagi berkerja seperti ini.
Ia berusaha kabur ketika sang anak buah bos mengejar di gelapnya malam.
"Ayo Kania, kamu pasti kuat. Kita akan pergi dari sini." gumamnya sepanjang berlari.
Jalanan yang ramai Kania telusuri malam ini dengan berlari sekencang mungkin. Berharap ia akan bertemu dengan orang baik yang memberinya perlindungan.
Sebuah taman yang nampak minim pencahayaan Kania jadikan tempat persembunyian. Tangannya gemetar dengan wajah berkeringat sekali. Kania terbayang dengan ucapan Dani beberapa hari lalu jika ia sampai kedapatan kabur maka bisa saja kedua kakinya akan menjadi cacat.
"Tidak, aku tidak ingin jadi cacat. Tuhan, tolong aku." Kania menangis dalam ketakutannya.
"Dimana dia? Patahkan kaki dan tangannya jika menemukan wanita itu. Aku tidak perduli dia masih muda atau tua. Yang penting tidak akan ada yang berani kabur setelah ini." Suara seorang pria yang sedang berbicara di telepon membuat Kania sontak ketakutan setengah mati.
Seharusnya ia tadi meminta bantuan pada Papah Jem lebih dulu bukan justru kabur seperti ini. Setidaknya dengan pria itu Kania masih bisa memikirkan cara lain untuk kabur darinya.
Di tingginnya bunga rimbun di taman itu Kania duduk meringkuk ketakutan. Tubuh yang kotor tak lagi ia perdulikan saat ini.
__ADS_1