
Satu harian Jemi habiskan dengan mengajak sang istri berjalan-jalan. Niatnya harus bekerja justru terbuang saat ini. Melihat keadaan Kania yang sedih sepanjang waktu rasanya Jemi tak tega membiarkan hal itu. Ia tahu Kania masih mengingat jelas setiap kata yang sang mamah ucapkan.
“Maafkan Mamahku yah, Sayang. Hei…Nia, aku janji secepatnya Mamah akan menerima hubungan kita.” Susah payah Kania memaksakan senyum di bibirnya.
“Iya aku percaya itu, Mas. Aku akan sabar. Dan aku minta selama itu juga jangan pernah memberikan apa pun padaku mau pun keluargaku, Mas. Aku ingin Mamah melihat keluargaku yang sebenarnya sebelum ia membuat nilai seperti itu.” ujar Kania menatap penuh permohonan sang suami.
Jemi hanya mengangguk meski berat sekali rasanya. Bagaimana mungkin ia membiarkan semua keluarga sang istri hidup terlantar tanpa bantuan darinya? Sedangkan Jemi di takdirkan hidup bergelimang harta.
“Mas?” tanya Kania lagi dan Jemi pun mengangguk tersenyum.
“Iya, Sayang. Iya. Kita pulang yuk?” Keduanya pun melangkah pergi setelah menikmati makan siang. Di tangan Jemi ada beberapa paperbag yang ia belikan untuk sang istri.
Tak mahal namun cukup berharga di mata Kania. Dan keduanya pulang ke rumah untuk beristirahat.
“Kau pasti kelelahan,” gumam Jemi melihat sang istri yang tertidur di sampingnya. Wajah cantik bocah itu membuat Jemi benar-benar bahagia.
__ADS_1
Tak kuasa Jemi ingin mencium bibir merah ranum itu. Tubuhnya bergerak membungkuk mendekati wajah Kania. Hasrat lelakinya tiba-tiba saja begitu menggelora seolah ingin bersuasana baru di dalam mobil.
“Ehem…”
“Astaga!” Jemi terlonjak kaget sampai menghantamkan kepalanya pada atap mobil.
“Mas Jemi?” Kania yang terlelap pun harus terkejut mendengar jeritan sakit dari pria yang ada di depannya saat ini.
“Ada Ayah.” tunjuk Jemi pada pria di depan mobil mereka.
Jelas jika tindakannya pasti terlihat dari arah luar sana. Sampai akhirnya Kania tak menghiraukan dan memilih keluar mobil.
“Ayah?” Kania berjalan cepat memeluk tubuh sang ayah.
Tak ada kecanggungan yang ia perlihatkan. Kerinduan sosok kedua orang tua di hidupnya membuat Kania sangat senang mengetahui jika hidupnya ternyata masih memiliki dua harta berharga.
__ADS_1
“Lain kali jangan tidur di mobil. Tidurlah di kamarmu.” Kening Kania mengerut dalam mendengar ucapan sang ayah.
Tak mengerti sedangkan kedua mata sang ayah nampak menatap ke arah Jemi.
“Em maafkan saya, Ayah. Kania, bawa Ayah masuk ke dalam.” pintah Jemi pada akhirnya.
Mereka pun masuk dengan Jemi yang seolah mati kutu.
“Ibu mu barusan ke rumah sakit jiwa, Jemi. Itu sebabnya Ayah kemari.” tutur Derman ketika duduk berhadapan dengan sang menantu.
“Ibu? Maksud Ayah Mamah Wulan?” Jemi tak menyangka ketika Derman menganggukkan kepalanya.
“Tapi semua baik-baik saja. Ibumu hanya ingin mengecek pemasukan dana di rumah sakit jiwa itu saja. Beruntung kami tidak menerima bantuan darimu. Jika tidak, mungkin kami tidak bisa mengelak dengan penghinaan itu.” Jemi menundukkan kepalanya merasa sangat bersalah mendengar ucapan sang ayah mertua.
Ternyata sang ibu bertindak dengan sangat teliti. Ia benar-benar ingin mengamankan harta keluarga mereka.
__ADS_1
“Maafkan Mamah saya, Ayah. Aku harap Ayah tidak mengambil hati apa yang Mamah lakukan. Saya berjanji akan menyelesaikan ini secepatnya.”