
Di ruangan terlihat Jemi syok mendengar ucapan dokter yang harus mengoperasi sebelah kaki milik Karin. Tak menyangka jika yang terjadi akan separah itu. Jemi duduk berhadapan dengan dokter di ruangannya tanpa ada Karin saat ini.
"Apa tidak ada cara lain, Dokter selain operasi memasang pen? Saya rasa itu terlalu berat. Pasien juga pasti akan sulit menerima keadaannya." ujar Jemi yang mengerti bagaimana rasanya jadi Karin.
Namun, dokter di depannya hanya menggelengkan kepala mengatakan jika hanya itu jalan yang bisa di tempuh. Sejak semalam Jemi tak tahu apa saja yang di alami Karin pasca jatuh dari tangga itu. Dan kini ia tak menyangka setelah melihat Karin yang tidak mengeluhkan apa pun.
Tak berselang lama setelahnya terdengar suara suster yang mengetuk pintu dari luar ruangan dokter. Ia masuk dengan suara yang panik.
"Dokter, Bu Karin mengamuk setelah obat yang ia konsumsi habis masanya. Kakinya baru terasa sangat sakit katanya." terang suster itu membuat Jemi dan dokter bersamaan lari ke ruangan Karin.
__ADS_1
Jemi melihat Karin melempar semua barang di ruangan rawatnya saat ini sembari menangis histeris. Semua suster mencoba mendekatinya, namun Karin tak perduli dengan melempar kembali mereka. Bahkan saat ini tiang infus miliknya sudah ia genggam siap untuk ia lemparkan juga.
"Karin, mengapa begini? Tenanglah kita akan bicara dulu." tutur Jemi memohon pada Karin untuk tidak menyakiti siapa pun.
Air mata Karin jatuh melihat kehadiran Jemi. Tangannya pelan turun untuk meletakkan tiang infus itu.
"Aku tidak tahu jika sakit di kaki ku ternyata sangat parah. Aku tidak tahu jika seburuk ini kaki ku saat ini. Aku tidak mau cacat, Jem. Aku tidak ingin cacat." Karin menangis memeluk Jemi yang melangkah mendekatinya. Jemi berusaha keras melepaskan pelukan itu namun tangan Karin seolah sudah mengunci di lingkaran tubuhnya.
Semua yang ada di ruangan itu pun hanya bisa diam menyaksikan kesedihan dari Karin. Ia terus melampiaskan tangisnya di pelukan Jemi. Tak perduli jika status mereka saat ini adalah sudah bercerai dan Jemi memiliki istri. Bagi Karin Jemi tetaplah pria yang bisa bersamanya kapan pun waktu memihak.
__ADS_1
"Karin, kau tidak akan cacat. Dokter akan mengoperasi kakimu maka dari itu tenanglah. Semua akan baik-baik saja." sahut Jemi yang melepas segera tangan Karin.
Jemi sadar saat ini ada masalah yang akan menanti dirinya yaitu dari Karin mau pun dari Kania.
Karin yang tak ingin tangannya di lepas kembali menangis namun secepat mungkin suster sudah memberinya obat penenang. Tak habis pikir rasanya Jemi dengan Karin yang sejak malam terlihat tenang-tenang saja tanpa sadar jika kakinya terancam cacat. Mungkin kedatangan Jemi seolah menunjukkan betapa besar harapan Karin pada sang mantan suami yang pernah ia sia-siakan dulu.
"Dokter, saya akan segera menghubungi orangtuanya untuk meminta persetujuan operasi. Saya akan segera kembali." ujar Jemi yang melangkah pergi dari ruangan itu berniat untuk pulang ke rumah.
Ia harus cepat menemui Kania yang entah di mana saat ini. Dalam perjalanan Jemi mendapat kabar dari sang anak buah jika sang istri saat ini sedang di kampus nongkrong bersama para temannya pria dan wanita. Tentu saja mendengar hal itu Jemi meradang. Rasanya tak adil jika Kania membalasnya dengan cara seperti itu meski sebanarnya itu tidaklah sebanding dengan apa yang Kania dapatkan dari Jemi sejak malam tadi.
__ADS_1