
Bukannya marah dengan melampiaskan emosi pada sang istri. Jemi justru tak membiarkan Kania mandi sendiri.
“Mas, kenapa? Aku mau mandi. Pintunya mau aku tutup.” ujar Kania lembut menatap sang suami. Berharap Jemi akan mendengarkan ucapannya.
Jemi tak berucap apa pun selain menguatkan tangannya pada pintu kamar mandi. “Kamu tahu kamu salah kan?” tanyanya dan Kania hanya mengangguk iya.
Satu pun pria tak boleh ada yang dekat dengannya. Dan hari ini Kania sudah bersalah membiarkan teman prianya masuk ke rumah mereka tanpa Jemi tahu.
“Maaf. Aku salah, Mas. Aku janji itu yang terakhir. Mereka datang tanpa aku tahu. Mereka hanya membujuk aku buat kuliah. Maafkan aku yah, Mas Jem?” bujuk Kania.
Berharap dengan pandangan mata sendu sang suami bisa luluh. Nyatanya Jemi tetap diam seribu bahasa. Matanya menatap dengan jelas jika ada rencana licik dari pria tersebut.
“Kenapa sih, Mas Jemi?” Wajah Kania merona malu mendapat tatapan tajam.
Tubuhnya yang ingin di segarkan oleh air tak sabar rasanya untuk ia basuh. Sampai akhirnya Jemi pun bersuara.
“Mandilah. Sebagai hukuman biarkan pintunya terbuka. Dan jangan berani menutupnya. Aku akan melihat pertunjukkan panas sore ini.” Kania kaget. Matanya melebar sempurna mendengar ucapan sang suami. Tanpa menolak hanya bisa kepalanya saja yang menggeleng.
__ADS_1
Memalukan sekali mandi harus di perhatikan oleh sang suami. Meski Kania sadar jika tubuhnya telah di hapal oleh sang suami dari titik mana pun.
“Ayo cepat. Tunggu apalagi? Atau kamu mau laki-laki itu tidak bisa melihat kampus lagi besok, Nia?” Ingin Kania menolak, namun kepalanya hanya bisa bergerak berlawanan dengan isi pikirannya.
Kania pun patuh masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah menunduk malu. Tubuhnya terasa kaku menyeluruh.
“Mas Jemi benar-benar keterlaluan.” umpat Kania kesal.
Di luar sana Jemi tersenyum licik memperhatikan tubuh sang istri yang mulai melucuti satu persatu pakaian di tubuhnya. Kasihan rasanya melihat Kania yang merasa sangat malu. Sayangnya rasa ingin melihat tubuh sang istri membuat Jemi jadi lebih besar rasa teganya.
“Iya,” jawab Kania.
Wajah putih yang basah terkena air kini memerah. Kania hanya bisa terpejam membasahi tubuhnya. Hal itu berlangsung selama dua puluh menit lamanya. Dan kini keduanya keluar kamar dalam keadaan kaku. Jemi memeluk pinggang sang istri sementara Kania berjalan menunduk tanpa suara.
“Nia, Jemi, ada apa?” Santi sudah menyapa sang anak ketika melihat keanehan dalam diri Kania.
“Biasa, Bu. Hukuman manja.” sahut Jemi begitu recehnya.
__ADS_1
Derman menggeleng terkekeh. Ia memilih duduk di kursi meja makan.
“Aku ke kamar Mamah dulu yah, Mas?” ujar Kania membawa nampan untuk sang ibu mertua.
Kekesalannya pada sang suami tak membuat Kania lupa pada tugasnya sebagai menantu.
“Mamah,” sapa Kania lembut.
Wulan nampak senyum melihat kedatangan Kania. Hari ini tubuhnya terasa lemas lagi.
“Nia, bagaimana keadaan kamu?” tanya Wulan.
“Mamah yang bagaimana keadaannya? Kania jarang temani Mamah hari ini.” sahutnya balik bertanya.
Wulan hanya tersenyum dan menggeleng. “Mamah sudah sangat baik. Hanya hari ini rasanya lemas saja. Besok pagi pasti sudah membaik lagi kok.”
Dengan sabarnya Kania menyuapkan makan pada Wulan. Kasih sayangnya sebagai menantu begitu terasa tulus sekali.
__ADS_1