Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Panggilan Untuk Suami


__ADS_3

"Terimakasih." Lembut suara Kania terdengar di telinga pria mapan tersebut. Meski usia mereka berbeda jauh, namun jika di lihat tentu menjadi pemandangan yang menyejukkan. Wajah baby face milik Kania sangat cantik dan imut. Sedangkan wajah awer muda serta postur tubuh Jemi yang begitu ia jaga membuat keduanya tetap serasi.


Beruntung tubuh Kania cukup terlihat dewasa melebihi usianya yang baru lulus sekolah. Kini mereka berdua saling berpelukan di atas ranjang dengan Jemi yang mengusap punggung sang istri.


"Untuk?" tanya Jemi menatap heran sang istri.


"Papah- em..." Kania menggantung ucapannya ketika bingung harus memanggil apa sang suami.


Jemi tersenyum. Ia tahu apa yang ada di pikiran sang istri. "Panggillah aku sesukamu, Nia. Aku suamimu tidak pantas kau memanggilku Papah lagi. Lagi pula saat ini Ayah sudah ada bukan?"


"Mas?" tanya Kania kikuk menyebut panggilan yang terasa seperti menggelitik perutnya. Jemi bahkan mengembangkan kembali senyumnya mendengar panggilan sang istri.

__ADS_1


"Terserahmu, Sayang." sahut Jemi.


"Mas, apa alasan kamu memilih aku? Padahal sekarang usia aku masih sangat kecil. Bukankah pernikahan itu tidak mudah jika di jalani tanpa pertimbangan yang banyak?" tanya Kania menatap sang suami.


Jemi menjauhkan wajahnya pada Kania dan menatap dengan dalam. Tatapan yang begitu hangat bisa Kania rasakan. Kejadian pertama kali di Bali saat itu tentu membuat Kania merasa tak percaya jika Jemi bisa melakukan hal itu padanya.


"Sejak kecil kau sudah bersamaku, Kania. Dan aku jauh lebih tau semua tentangmu dari pada kedua orangtuamu. Itu sebabnya aku yakin memilihmu untuk menjadi istriku." jawab Jemi.


"Jadi itu alasannya Mas mau merawatku sejak kecil sampai usiaku saat ini? Apa jauh hari Mas sudah merencanakan ini semua?" tanya Kania lagi dan langsung mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Jemi.


"Tidak. Kenapa terlalu polos begitu sih? Aku hanya merasakan cinta itu mulai tumbuh ketika melihatmu setahun belakangan ini. Sebelumnya aku tidak ada pikiran untuk hal seperti itu." tambah Jemi lagi.

__ADS_1


Belum usai pembahasan mereka kali ini, Jemi kembali berbicara.


"Kampus mana yang ingin kamu tuju sekarang? Mas akan uruskan semuanya." Berbinar wajah Kania mendengar ucapan sang suami.


Pikirannya yang merasa pupus sudah untuk lanjut ke jenjang kuliah kini tiba-tiba mendapatkan tawaran. Tak pernah Kania bayangkan jika ia bisa kuliah dalam status sebagai istri.


"Aku masih boleh sekolah, Pah? Eh salah maksudnya Mas?" Jemi mengangguk lagi mendengar pertanyaan sang istri.


Terlalu senang Kania tanpa sadar bergerak naik ke atas tubuh Jemi dan memeluknya. Ia sangat senang akhirnya bisa melanjutkan impiannya.


"Aku ingin kuliah di kampus nomor satu di negara ini dengan jurusan musik. Aku ingin mendalami hobiku boleh kan, Mas?"

__ADS_1


"Boleh. Asalkan..." Kening Kania mengerut dalam mendengar ucapan sang suami yang menggantung sampai pada akhirnya wajah itu menempel di wajah sang suami dengan kedua bibir yang sudah saling bertemu.


Keduanya hari ini kembali menikmati permainan panas yang membuat tubuh mereka sama-sama berkeringat. Kania tak merasa keberatan lagi. Melayani sang suami bukanlah pengalaman buruk untuknya. Sebab Jemi begitu pandai memanjakan sang istri sampai membuat Kania mulai merasa ketagihan juga.


__ADS_2