
Meja makan yang seharusnya menjadi tempat berkumpul sepasang suami istri menikmati hidangan lezat malam ini justru tampak sunyi. Tersisa Karin yang menatap marah kepergian Kania dan Jemi.
“Hah sialan. Bocah ingusan.” umpat Karin memilih kembali duduk di kursi meja makan. Ia makan seorang diri sembari memikirkan hal apa yang harus ia lakukan saat ini.
Sementara di dalam kamar, Jemi susah payah kembali membujuk sang istri yang menangis. Kania tak mau menoleh pada sang suami.
“Kania, ayo aku mohon jangan lemah seperti ini di depan Karin. Hubungan kita bisa semakin di buat hancur kalau kita berdua masih sulit percaya pada pasangan kita masing-masing. Kamu mau aku melakukan apa? Ayo katakan, Nia.” pintah Jemi.
Kania masih tak bergeming. Wanita itu terlalu kesal membayangkan bagaimana Karin yang mengurus semua makan sang suami bahkan Karin masih ingat jelas apa yang bisa di makan Jemi dan yang tidak bisa di makan.
Sebagai istri yang selama ini terus di layani oleh sang ayah angkat tentu saja Kania merasa tak bisa di banggakan sebagai istri. Ia sama sekali tak tahu apa pun tentang Jemi.
“Aku mau Mas cerita semuanya dan semuanya tanpa ada yang di lewatkan. Dari masa lalu, makanan dan hobi apa yang Mas suka. Aku harus tahu semua.” tutur Kania.
Jemi tersenyum senang mendengar penuturan sang istri.
“Jadi dulu itu…”
Flashback on
__ADS_1
Pernikahan yang baru berjalan lima bulan terlihat sangat harmonis. Sepasang suami istri saling memeluk kala mengantar sang suami pergi bekerja di depan rumah.
“Karin, kamu siang ini ke kantor kan? Aku pengen makan siang di temani kamu.” ujar sang pria yang tak lain adalah Jemi.
“Kok siang ini sih, Jem? Aku kan lagi ada kumpul sama teman-teman siang ini. Lagian kamu itu masih jadi karyawan di kantor papah kamu. Kan bahaya kalau banyak santainya. Nanti gaji kamu di potong lagi seperti waktu bulan lalu gara-gara aku ajak liburan mendadak.” Karin memajukan bibirnya cemberut mengingat bulan lalu ia memaksa sang suami menuruti keinginannya.
Karin tak pernah perduli dengan tanggung jawab sang suami di kantor. Sebab menurutnya perusahaan itu adalah milik Jemi juga meski saat ini masih di pegang oleh sang ayah mertua.
“Yasudah. Kalau begitu kamu hati-hati yah? Ingat jangan keluyuran sampai malam. Aku pulang kamu juga sudah harus di rumah.” Karin hanya mengangguk mendengar perintah sang suami.
Setelah Jemi pergi, ia pun turut pergi keluar rumah. “Bodoh amatlah. Mau sampai kapan aku begini? Uang jajan pun harus di jatah.” Kesal lantaran keuangan mereka masih terbatas.
Untuk pertama kalinya Jemi merasa marah ketika pulang dari kantor justru sang istri tak ada di rumah. Pelayan mengatakan Karin pergi sejak pagi.
“Bantu saya lacak nomor ini.” Pesan yang Jemi kirim tak beberapa lama segera mendapat balasan.
Pria itu mulai merasa tak enak melihat arah dimana sang istri berada. Sampai akhirnya Jemi melihat jika Karin tengah berada di sebuah hotel bersama sang paman. Paman yang begitu dekat dengan Jemi. Dia adalah adik dari Ayah Jemi.
Perselingkuhan yang entah Karin lakukan sejak kapan.
__ADS_1
“Apa-apaan ini, Karin?” Teriakan Jemi menggema ketika ia berhasil membuka pintu hotel tersebut.
“Je-jemi?” Karin pun sama terkejutnya.
Emosi yang menguasai diri Jemi membuat pria itu mendorong kasar tubuh Karin. Begitu pun dengan tubuh sang paman yang ia pukuli beberapa kali.
Jemi tak tahu bagaimana bisa dua orang ini melakukan hubungan seperti itu.
Flashback off
“Terus kenapa Mamah justru mendukung Karin saat ini?” Kania yang sempat syok pun bertanya pada sang suami.
Jemi terlihat mengerjapkan mata pening ia rasa kepalanya.
“Mamah tidak tahu apa-apa, Nia. Aku menyembunyikan itu semua demi Papah dan Mamah. Aku cemas sebab mereka berdua memiliki riwayat jantung. Sudah cukup aku kehilangan Papah. Jangan Mamah lagi.” jawab Jemi.
Kini Kania menduga jika mamah mertuanya hanya tahu jika Karin adalah menantu baik-baik. Dan itu wajar jika sang mertua begitu membela Karin sampai saat ini.
“Sepertinya semua akan sulit kedepannya, Mas.” ujar Kania putus asa.
__ADS_1