Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Ingin Menyerah


__ADS_3

Ketika hari sudah sore, barulah Karin pulang di antar oleh Wulan. Dan satu hal yang keduanya tidak sadari saat ini, jika sebuah kebohongan telah terlewatkan dari ingatan mereka. Saat pulang ke rumah sore itu, Wulan dan Karin di buat bingung oleh beberapa barang yang terlihat berjajar di depan pintu rumah milik Jemi.


"Loh ini ada apa, Mah?" tanya Karin bingung melihat barangnya sudah di depan pintu yang tertutup rapat.


"Mamah juga nggak tahu. Sebentar." jawab Wulan.


Saaat itu pula Wulan menggedor pintu rumah sang anak agar di buka kan pintu. Namun, justru teriakan itu di balas oleh teriakan juga dari dalam.


"Maaf, Nyonya. Tuan mengatakan jika anda berbohong untuk pergi dan menitipkan Nyonya Karin di sini. Itu sebabnya Tuan Jemi mengusir Nyonya Karin dari rumah ini." Betapa terkejutnya Wulan mendengar ucapan sang pelayan.

__ADS_1


Matanya melebar sempurna kala teringat dengan satu hal yang menjadi alasannya menaruh Karin di rumah sang anak. Karin pun demikian baru ingat sampai ia menepuk jidatnya gemas.


"Mah, kenapa kita bisa lupa? Kenapa Mamah datang ke sini sih?" tanya Karin kesal sebab rencana mereka seharusnya berhasil namun akting yang mereka jalankan ternyata tak semulus bayangannya.


Wulan benar-benar lupa untuk tidak datang ke rumah sang anak dan menyembunyikan diri dari hadapan Jemi. Kini kebohongannya yang ingin keluar negeri terpaksa harus ia tutupi dengan kebohongan baru lagi.


Tanpa mereka tahu jika ternyata Jemi dan Kania pun ada di ruangan tengah mendengar teriakan sang mamah.


"Mas, apa ini nggak durhaka namanya kunciin pintu Mamah?" tanya Kania.

__ADS_1


"Kita nggak kunciin Mamah. Kita cuman ngusir Karin saja kok dari sini. Lagi pula satu malam di rumah ini dia sudah berani menaruh obat seperti itu di minumanku. Entah apa yang dia lakukan lagi kalau sampai menginap lebih dari semalam. Aku tidak mau ambil resiko dengan memasukkan orang ke rumah kita, Nia." Kania tersenyum hangat mendengar ucapan sang suami. Ia pun senang rasanya jika Karin tak ada di rumahnya.


Keduanya duduk menonton televisi sembari berpelukan. Kania dan Jemi menikmati sisa libur mereka di akhir pekan sebelum keduanya sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.


Sementara di luar sana Karin sudah mengeluh kesakitan kakinya dan tubuhnya lemas terlalu lama di luar. Ia memang belum sepenuhnya pulih dan akhirnya Wulan menyerah membawa Karin ke rumahnya. Untuk satu malam ini ia akan membawa Karin ke rumahnya. Dan besok pagi Wulan akan ke rumah Jemi lagi.


"Sialan bisa-bisanya Jemi mengeluarkan barang-barang kamu, Karin? Ini pasti ulah anak ingusan itu menghasut Jemi. Mamah nggak akan terima kalau sampai dia mengusai anak Mamah. Kania benar-benar licik." geram Wulan pada sang menantu.


Karin hanya bersandar lemas di dalam mobil enggan berkomentar. "Huh rasanya lama-lama seperti ini aku seperti di injak-injak sama mereka. Capek juga harus drama seperti ini. Apa aku harus pergi saja? Hidup seperti ini benar-benar membosankan. Tapi, Jemi itu adalah milikku." gumam Karin dalam hati mulai merasa ingin menyerah.

__ADS_1


__ADS_2