
“Mau apa kalian kesini? Pergi!” Teriakan Kania menggema. Dadanya bergemuruh melihat para pekerja dari salah satu klinik menginjakkan kaki di rumahnya.
Marah merasa dirinya sedang di permainkan, mereka semua adalah orang yang tahu tentang hubungan Jemi dengan Yanti. Maka dari itu Kania tak akan mau berbaik hati pada mereka semua.
“Kania, cukup. Apa yang kamu lakukan, Sayang?” Derman sebagai ayah langsung menegur anaknya. Ia tidak akan mau melihat anaknya bersikap kasar pada orang lain tanpa mendengarkan penjelasan lebih dulu.
“Mereka ini jahat, Ayah.” sahut Kania.
Detik berikutnya belum sempat Derman mendekati sang anak, terdengar suara dari Jemi yang juga datang bersama Yanti.
Melihat kedatangan mereka tak tinggal diam begitu saja. Kania sontak berlari mendekati Yanti dan menyerang wanita itu.
“Dasar wanita memalukan! Kamu mau suami saya? Iya kan? Ambil kalau kamu mau.” sentak Kania.
Berbeda dari sebelumnya, Kania kini begitu garang pada semua orang. Jemi bahkan kebingungan melihat perubahan sang istri.
“Nia, dengarkan dulu. Tolong dengarkan aku dulu.” ujar Jemi.
__ADS_1
Tangannya terangkat menunjukkan cream. Kemudian Jemi membawa tangan Kania yang hendan menyerang Yanti ke arah wajahnya. Kulit lembut dan kencang milik Jemi ia pamerkan pada sang istri.
“Aku benar-benar perawatan, Nia. Lihat wajahku sudah kencang kamu tahu itu kan? Cream ini pun juga milikku. Aku akui aku salah karena tidak ijin denganmu. Aku malu, Nia.” Kania terdiam tanpa bisa bicara apa-apa lagi.
Sadar perubahan di wajah sang suami. Lalu ia menoleh pada Yanti yang menampakkan wajahnya biasa dengan polesan make up tipis.
Semua yang menyaksikan keributan itu pun terdiam tak habis pikir dengan tingkah Jemi. Hanya karena perawatan bisa membuat kesalah pahaman pada istrinya.
“Astaga mereka ini ada-ada saja sih?” gerutu Santi yang merasa kepalanya berdenyut sakit. Ia memilih pergi meninggalkan ruangan itu di susul oleh sang suami.
“Kenapa perawatan sih? Aku nggak pernah nuntut Mas harus sempurna kan?” ujar Kania lembut.
Jemi tersenyum tangannya menarik Kania ke dalam pelukan. Sementara yang lain hanya jadi penonton saja.
“Yanti, urus mereka semua.” pintah Jemi pada sang sekertaris.
Yanti pun patuh mengurus semua pekerja klinik itu untuk kembali pulang dengan mengucapkan terimakasih tak lupa beberapa amplop ia bagikan. Sebab mereka bekerja di luar jam kerja dan ketentuannya.
__ADS_1
“Kita ke kamar yah?” ajak Jemi.
“Tunggu, Mas.” sahut Kania.
“Kamu beneran kan perawatan? Bukan Yanti kan? Kalian nggak lagi plus plus kan di klinik itu?” Tatapan Kania begitu penuh curiga pada sang suami. Jemi sampai menepuk keningnya frustasi mendengar tuduhan sang istri.
“Iya, Nia. Aku hanya perawatan. Dua minggu lagi aku harus kembali treatment. Kalau kamu mau ikut nanti kita pergi sama-sama yah? Tapi aku aja yang treatment.” ujar Jemi membuat Kania heran.
Ia menatap sang suami bingung. “Kenapa?” tanyanya.
“Kalau kamu perawatan itu artinya kamu makin muda. Trus Mas gimana, Nia? Perawatan itu kan buat wajahku awet muda. Biar bisa imbangi wajah kamu.” Sampailah keduanya di dalam kamar.
Mereka terus saja berdebat tentang perawatan, Kania yang tidak mau mengalah terus saja ingin ikut treatment wajahnya. Jemi takut jika sang istri semakin perawatan maka jelas Kania sangat jauh lebih sempurna lagi. Di luat sana tentu banyak pria yang menunggu Jemi lengah menjaga istrinya.
“Astaga mereka ribut lagi, Ayah?” tanya Santi ketika mendengar dari luar kamar sang anak.
Di dalam sana Kania berdebat dengan Jemi tentang perawatan.
__ADS_1