
Merasa tak salah sama sekali, Kania bersikeras menahan perutnya yang kosong. Ia tak akan mau makan dan berniat untuk sakit. Di kurung di rumah tanpa melakukan kesalahan tentu membuat Kania sangat marah. Seharusnya dirinyalah yang marah dan menghukum sang suami. Lagi-lagi kini Jemi mampu mengendalikan semuanya. Ketika sore menjelang malam suara pelayan terdengar berbicara pada Jemi di depan pintu kamar yang tidak di tutup rapat.
"Non Kania belum juga memakan makan siangnya, Tuan." Itulah suara pelayan yang Kania dengar. Artinya Jemi saat ini berada di depan kamarnya.
"Biarkan saya saja yang membantunya makan, Bi." ujar Jemi melangkah masuk meninggalkan pelayan.
Pertama kali yang Jemi lihat saat ini adalah kamar yang berantakan dan Kania yang menangis berbaring di atas kasur. Tak tega melihat gadis ceria itu sedih seperti ini. Pelan Jemi menghela napas berusaha mengendalikan dirinya.
"Kania," panggilnya mendekati sang istri.
Di tarik kuat perlahan tubuh Kania agar bangun dari tidurnya. Jemi memeluk tubuh sang istri erat. Di usapnya punggung sang istri kecilnya.
"Aku minta maaf yah? Aku terlalu cemburu tadi pagi. Maafkan aku, Nia. Sekarang aku mohon makanlah. Biar besok kau bisa kuliah lagi." Seketika wajah Kania bergerak menatapnya. Kania menatap dalam sang suami seolah menuntut penjelasan jika apa yang ia dengar barusan adalah benar.
__ADS_1
Jemi menganggukkan kepalanya. "Iya, besok kau akan ke kampus. Aku akan mengantarmu."
"Benarkah?"tanya Kania dan Jemi mengangguk tersenyum.
Kania yang merasa senang kembali mengerucutkan bibir. "Kenapa jadi kesannya seperti aku yang salah? Bukankah yang salah seharusnya adalah Mas Jemi?" tanya Kania yang masih ingat jelas bagaimana pertengkarannya dengan sang suami.
"Iya aku salah. Aku minta maaf yah? Mau kan kita baikan? Memulai semunya seperti baru lagi?" tanya Jemi. Kania mengangguk memeluk tubuh sang suami. Ia senang yan penting bisa kuliah. Itulah yang ada di pikiran Kania.
Di usianya yang saat ini tentu Kania tak bisa membohongi perasaan jika keinginannya adalah lebih banyak di luar rumah bertemu teman-temannya dan juga belajar. Bukan berdiam diri di rumah menjadi istri yang menunggu suaminya pulang. Itu sangat membosankan menurut Kania.
"Sebentar yah? Mamah menghubungi aku." Kania mengangguk saja.
Jemi berdiri mengangkat telepon tanpa menjauh dari sang istri. Kania melanjutkan makan sebab ia memang sangat lapar. Jemi yang melihat sang istri membuatnya tersenyum sampai akhirnya Kania melihat wajah sang suami tak enak lagi.
__ADS_1
"Mamah apa-apaan sih? Nggak. Itu nggak bisa, Mah." sahut Jemi.
Entah Kania tak tahu apa yang di ucapkan oleh sang ibu mertua saat ini. Yang jelas Jemi terlihat tidak suka dengan ucapan mertua Kania itu.
"Mamah sudah di depan rumah kamu, Jem." Wulan berkata dengan santainya.
Dan saat itu pula Jemi mendengar suara pelayan menyambut kedatangan seseorang di luar sana yang tak lain adalah sang mamah.
"Ada apa, Mas?" tanya Kania penasaran. Namun, Jemi tak menjawab sama sekali. Pria itu justru melangkah keluar kamar dengan wajah marahnya.
"Jemi, kamu di rumah ternyata? Lihat di sana Mamah pilih untuk jadi kamar Karin. Mamah besok harus berangkat ke Singapur. Jadi, nggak ada salahnya kan kamu yang tanggung jawab merawat Karin sementara sampai Mamah kembali?" Begitu tenangnya Wulan berkata demikian tanpa memikirkan perasaan Kania yang syok mendengar rumahnya kedatangan mantan istri sang suami.
"Apa? Mamah membawa wanita itu ke rumah ini?" gumam Kania lirih tak tahan mendengar ucapan sang mamah mertua.
__ADS_1
Lantas Kania segera keluar dari kamarnya melihat apa yang terjadi di luar sana.