Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Berusaha Menerima


__ADS_3

"Mamah." Jemi berdiri dari duduknya melihat kedatangan Wulan di ruang kerjanya kali ini.


Seketika wajah angkuh itu berubah menjadi sendu. Wulan melanjutkan langkah semakin dekat dengan Jemi. Sedangkan Kania yang berada di ruangan itu memilih keluar.


Belum sempat ia meraih handle pintu, secepat mungkin Jemi bersuara. "Nia, mau kemana? Tetaplah di sini." pintah Jemi.


Wulan dan Kania sesaat saling bertemu pandang. Keduanya tak bertegur sapa sama sekali.


"Jemi, Mamah minta maaf. Mamah sudah menutup mata dari semua yang terjadi. Mamah sudah mendengar semua kebenaran itu. Maafkan Mamah, Jem." ujar Wulan memeluk tubuh tinggi tegap sang putra.


Melihat bagaimana sedihnya sang mamah setelah mengetahui semuanya, rupanya tak melunturkan ketegasan dalam diri Jemi. Pria itu hanya membalas pelukan sang mamah tanpa memberikan rasa simpati.


"Sudahlah, Mah. Semuanya sudah terlewatkan begitu lama. Tidak ada yang perlu di sedihkan lagi. Mamah cukup menerima semua yang terjadi saat ini termasuk pernikahanku dengan Kania." tutur Jemi menatap datar wajah Wulan yang baru saja terlepas dari pelukannya.

__ADS_1


Lama Wulan terdiam memikirkan ucapan sang anak. Bagaimana pun usahanya tentu tak akan membuahkan hasil. Wulan hanya ingin hubungannya bersama Jemi baik-baik saja.


"Baiklah jika itu kemauanmu, Jem. Mamah akan terima. Mamah akan menerima semua keputusan kamu selama itu membuat kamu bahagia." tambah Wulan lagi.


Mendengar keputusan sang ibu mertua, Kania memejamkan mata seraya menghela napasnya pelan.


"Tuhan, semoga ini awal yang baik tanpa ada drama apa pun lagi. Aku sudah lelah dan ingin hidup tenang." gumam Kania dalam hati.


Jemi yang tahu sifat sang mamah pun senang sekali namun wajahnya tetap tak menunjukkan ekspresi senang. Jemi tidak ingin membuat sang mamah dengan mudahnya melupakan semua kesalahan itu. Bukan berniat dendam tetapi lebih ke arah ingin memberi sang mamah waktu untuk bisa merubah sikapnya. Meminta maaf dan menerima semuanya belum tentu pertanda sudah berubah.


Hari ini Wulan tak langsung pergi dari ruang kerja sang anak usai berbicara. Kania dan Jemi turut mengajak sang mamah makan siang bersama. Tidak hanya mereka bertiga. Tetapi ada kedua orang tua Kania juga yang Jemi panggil.


"Loh Jemi, Nia?" sahut Santi kaget melihat kehadiran Wulan di meja makan yang sama.

__ADS_1


Santi yang baru saja tiba bersama sang suami tak langsung duduk. Ia berdiri menatap was-was pada wanita yang duduk menatapnya dalam diam.


"Bu, duduklah. Kita akan makan siang bersama dan berbicara." pintah Kania serius.


Santi dan Derman patuh duduk di barisan Jemi. Mereka berhadapan dengan Wulan saat ini. Hidangan yang di pesan Jemi satu persatu mulai berdatangan hingga meja makan mereka sudah penuh dengan hidangan lezat semuanya.


"Siang ini kita untuk pertama kalinya makan bersama. Semua karena Mamah sudah bisa menerima semuanya." ujar Jemi menatap Wulan yang diam saja.


"Dan meski pun Mamah ternyata tidak bisa menerima Kania, itu tidak akan bisa merubah apa pun." tambah Jemi lagi. Matanya masih tak melepas pandangan dari Wulan.


"Iya, Jem. Mamah tahu Mamah sudah salah besar selama ini dengan membela Karin. Mamah sadar itu salah kok." sahut Wulan yang merasa terintimidasi oleh anaknya sendiri.


"Syukurlah jika semua sudah baik-baik saja. Kami juga turut senang, Jem. Akhirnya Kania bisa mendapat pengakuan dari ibu mertuanya. Semoga dengan begini hubungan kalian semakin langgeng dan bahagia kedepannya yah?" ujar Santi memberi harapannya.

__ADS_1


Jemi dan Kania tersenyum. Sementara Wulan nampak canggung berada di antara mereka. Selama ini dirinya selalu menolak kehadiran mereka semua.


__ADS_2