
Malam kini semakin larut dimana Jemi tampak duduk tenang menunggu kedatangan Kania ke meja makan. Dua piring nasi goreng bahkan sudah dingin saat ini sebab gadis itu tak kunjung keluar dari kamar. Sejenak ia menoleh ke arah kamar tanpa berani mendekati Kania. Jemi tahu perilakunya sudah cukup berlebihan dengan memaksa hubungan mereka dimana usia Kania masih terlalu dini.
"Mungkin dia tidak berani bertemu padaku." gumam pria itu menghela napas kasar.
Sadar akan kesalahannya, Jemi melangkah menuju kamarnya. Malam ini mereka tidur di kamar yang berbeda. Mungkin itu adalah pilihan yang lebih tepat saat ini. Beberapa jam berlalu kini Villa sangat sunyi dengan pencahayaan yang minim tubuh wanita dengan kaki tinggi melangkah sembunyi-sembunyi ke arah meja makan.
"Ayolah semoga saja aku bisa mendapatkan makanan. Perutku sangat lapar saat ini." gumam Kania memegang perutnya yang terasa sangat perih. Terlalu sering menunda makan dan tidak makan dengan makanan yang sehat membuat Kania merasakan gejala magg.
Dua piring nasi goreng spesial terlihat di meja makan tertutup. Wajah Kania tersenyum lebar mendapati makanan itu. Tanpa pikir panjang segera ia pun melahap dua piring makanan di depannya.
"Apa selapar itu sampai menghabiskan semuanya?" Tiba-tiba saja Kania tersedak makanan saat mendengar suara seseorang bertanya padanya.
Makan dengan keadaan yang minim pencahayaan membuat Jemi ingin tertawa rasanya. Gadis kecilnya sangat lucu ketika ketahuan memakan masakan yang ia buat.
__ADS_1
"Pa-pah Jem?" sahut Kania gugup setengah mati.
Tubuhnya terasa meremang saat ini mendapati sosok pria yang ingin sekalii ia hindari. Namun, tangan Jemi kini sudah lebih dulu mendarat di kepala gadis cantik itu.
"Aku minta maaf, Kania." Jemi menatap dalam kedua bola mata yang kini juga tengah menatapnya dalam diam.
"Tuhan, perasaan apa ini?" gumam Kania dalam hati saat mencerna arti tatapan mereka malam ini.
Lama ia bersitatap dengan Jemi sampai akhirnya pria itu bergerak menyalakan lampu di ruangan itu. Kania menyelipkan anak rambut yang menutup wajah kala menunduk. Ia tak berani menatap wajah tampan itu lagi.
"Segera ke kamar. Besok kita akan pulang." Diam dan patuh yang Kania lakukan. Ia tak ada protes sedikit pun.
Singkat cerita kini mereka sudah tiba di bandara di Jakarta. Dimana Jemi melihat Kania masih tertidur pulas. Tanpa banyak bicara, ia pun menggendong sang anak angkat yang sudah menjadi tambatan hatinya itu ke mobil pribadi yang sudah siap menjemput mereka.
__ADS_1
"Tuan, di rumah ada Nyonya besar." ujar sang asisten melaporkan pada Jemi yang hanya merespon dengan anggukan kepala samar.
Mobil melaju menuju kediaman mewah Jemi Skay. Sepanjang jalan tangannya tak henti menggenggam tangan mungil gadisnya itu. Wajah cantik Kania terus membuat Jemi berkali-kali merasakan jatuh cinta.
"Mamah pasti akan merusak suasana hati Kania lagi. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." gumam Jemi yang sudah sangat tahu sifat asli sang mamah.
Pasalnya selama ini wanita paruh baya itu selalu saja merendahkan diri Kania. Mengatakan jika Kania sudah memberikan tubuhnya sampai membuat Jemi merawatnya dengan sangat baik bahkan melebihi merawat mantan istrinya dulu.
Setibanya mobil di halaman rumah megah miliknya, Jemi pun memberiikan perintah pada sang supir.
"Segera bawa dia ke villa. Dan pastikan semua aman. Aku akan kesana menjemputnya." pintah Jemi.
Kini Kania sudah menjadi miliknya sepenuhnya. Tentu Jemi tak akan membiarkan satu orang pun menggores setitik luka di hati sang gadis. Ia akan membuat Kania wanita paling bahagia di dunia.
__ADS_1
"Baik, Tuan." sahut pak supir yang patuh melajukan mobil usai melihat Jemi sudah melangkah memasuki rumahnya.