
Sesuai dengan janjinya semalam pagi ini Jemi akan memberi tahu keberadaan sang ibu Kania setelah malam panjang yang mereka lewati bukan hanya dengan memeluk saja. Nyatanya Kania mendapatkan serangan malam panas dari sang suami untuk ke dua kalinya. Yah tentu saja Jemi tak melewatkan malam pertama mereka dengan berpelukan sia-sia. Hingga tepat jam empat subuh permainan baru usai. Dimana Kania meminta berhenti untuk ronde ke sekian kalinya karena begitu kesakitan. Ia tak lagi bisa menahan sakit di intinya setelah permainan panjang sang suami.
Tak tega tentu saja Jemi menuruti gadis yang sudah sah menjadi istrinya.
"Besok malam lagi yah?" tanya Jemi yang membuat Kania mengangguk malu. Seiring beberapa kali permainan tampaknya gadis belia itu sudah mulai ikut menikmati penyatuan yang Jemi lakukan.
Pagi yang cerah dengan suara ramai banyak orang berlari kesana kemari, di sinilah Kania berdiri saat ini. Seorang dokter wanita cantik menyambut kedatangannya bersama Jemi di samping Kania menggenggam tangan wanita itu.
Lama Kania berdiri mematung menatap sekeliling. "Tuhan, buatlah apa yang ku pikirkan adalah salah." gumam Kania merasa ada firasat buruk yang akan ia tahu saat ini.
"Selamat pagi, Tuan Jemi. Ini Nona Kania?" tanya wanita berjas putih di depan mereka saat ini.
"Nyonya Kania." ralat Jemi tak terima jika sang istri di sebut Nona dimana artinya jika Kania masih berstatus belum menikah dan masih menjadi anak angkat Jemi.
"Em maaf, Tuan." sahut dokter itu lagi.
"Mari ikut saya. Bu Santi sedang bermain bersama temannya di taman." Kening Kania mengernyit. Siapa Bu Santi? Batinnya semakin bertanya-tanya saat melangkah menelusuri lorong rumah sakit jiwa itu.
Sesekali Kania ketakutan melihat banyak tingkah aneh dari pasien gila di sini yang suka berteriak-teriak sendiri. Sampai akhirnya langkah mereka bertiga berhenti pada taman yang terlihat di tengah-tengah bangunan rumah sakit jiwa itu.
"Nia, itu ibumu." tunjuk Jemi dan Kania pun segera menoleh dimana seorang wanita tengah tertawa bermain petak umpet dengan beberapa orang gila lainnya.
__ADS_1
Bibir Kania terbuka lebar dengan pandangan lurus pada wajah wanita cantik yang tampak rambutnya di kelabang satu. Bersih namun tetap saja tingkahnya benar-benar terlihat jelas jika mengalami gangguan jiwa.
Jemi mengeratkan rangkulannya di pinggang sang istri. Memberikan kekuatan agar Kania tidak ambruk saat ini.
"Ibuku?" tanya Kania berusaha percaya.
Sampai pada akhirnya suara dari arah lain membuat Kania dan Jemi menoleh bersamaan.
"Santi! Anak kita datang." Panggilan itu membuat wanita di taman bermain itu menoleh. Ia masih ingat dengan nama yang ia miliki ternyata.
Kania melihat pria yang mengaku sebagai ayah kemarin di hari pernikahannya kini sudah berdiri di sampingnya saat ini. Tampilannya jauh lebih rapi dari pada yang kemarin.
"Ayah?" Suara Kania lirih memanggil pria itu.
Di depannya kini Derman menghadap pada Kania dan tersenyum. Sang anak sudah menangis berjalan mendekatinya meninggalkan Jemi.
"Ayah." Tangis Kania pun pecah memeluk tubuh sang ayah. Jemi menatap nanar pemandangan di depannya.
Kini tugasnya usai sudah menjaga Kania dan membesarkannya. Tinggal membahagiakan Kania lah yang menjadi tanggung jawab Jemi sebagai seorang suami.
"Ayah telah gagal menjadi seorang ayah, Kania. Maafkan, Ayah." Di peluk erat tubuh sang anak. Kepala Kania di usap begitu lembut. Kasih sayang yang selama ini tak bisa ia berikan terasa menyakitkan ketika melihat tumbuh kembang sang anak yang sudah tinggi seperti dirinya.
__ADS_1
"Derman," Suara dari arah taman terdengar membuat Kania melerai pelukannya dari sang ayah.
Meski tak begitu waras, nyatanya wanita itu masih mengenali suara sang suami. Ia tersenyum melihat kedatangan suaminya. Di peluknya tubuh pria itu dan Kania tersingkir begitu saja. Dorongan kuat membuat tubuh Kania hampir terjatuh.
Jemi menahan tubuh sang istri.
"Jangan dekati suamiku!" Ketus Santi berucap.
Kania hanya diam melihat tatapan tajam sang ibu. Tak apa jika ia belum di kenali sebagai anak. Yang terpenting saat ini jika Kania harus bersabar menunggu semua proses.
"Dokter, Ibu saya tidak begitu parah bukan gangguan jiwanya?" tanya Kania memilih menanyakan keadaan sang ibu pada dokter.
"Jika di bilang parah juga tidak, Nyonya Kania. Hanya saja terkadang ia tiba-tiba kambuh dan itu sangat membahayakan orang di sekitarnya." Kania mengangguk mengerti.
"Ibu trauma dengan kejadian masa lalu, Kania. Itu sebabnya ia sering ingin melukai orang. Saat Ayah di sidang, ibumu ingin sekali membunuh semua penjahat yang menyebabkan ayah harus membunuh bos mereka. Sepertinya sampai saat ini ibumu tidak bisa melupakan kejadian itu semua." Kania terdiam mendengar penjelasan sang ayah.
Tak apa, masih ada harapan untuk Kania menikmati waktunya bersama kedua orangtuanya. Yang terpenting saat ini ia harus fokus mengurus sang ibu agar segera pulih.
"Kau baik-baik saja kan? Apanya yang sakit? Aku merindukanmu, Derman. Anak kita sekarang pasti di lenyapkan mereka. Aku tidak akan iklas pada mereka semua, Derman." Santi bahkan sampai menangkup wajah sang suami agar menatap wajahnya dengan lekat.
"Santi, jangan kau pikirkan hal itu. Sekarang kau harus sembuh agar kita bisa segera pulang." ujar Derman mengusap kepala sang istri.
__ADS_1
Santi menggelengkan kepala menolak ucapan sang suami. "Tidak. Aku tidak mau pulang sendirian. Kau sudah meninggalkan aku di rumah sendirian, Derman. Kau sudah di penjara. Aku tidak ingin pulang." Seketika tangis Santi pun kembali pecah kali ini.
Dada sang suami pun ia pukul begitu kuatnya. Tak perduli bagaimana ia di tahan saat ini. Ketakutan dan rasa marah membuat Santi kesulitan menahan amarahnya.