Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Masa Lalu Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Pak Derman, tenanglah. Saya akan menjelaskan semuanya pada Kania. Maafkan saya yang sudah bertindak melebihi batas." ujar pria itu merasa bersalah.


Jemi adalah pria yang di pilih oleh Pak Derman untuk membesarkan anaknya karena suatu kejadian yang tak ia inginkan.


"Saya memaafkannya, Tuan. Saya tahu tidak seharusnya seorang ayah memberikan tanggung jawabny pada pria lain. Saya akan datang kembali esok hari kemari. Tolong jaga Kania, Tuan. Saya percaya anda memang suami yang tepat untuknya." Jemi hanya bisa mengangguk.


Tugasnya saat ini adalah meluruskan semua permasalahan yang terjadi pada Kania. Gadis belia itu tentu akan sulit mengerti jika tidak di perlihatkan sebuah kenyataan. Kepercayaan Kania pada Jemi rasanya sudah tak bersisa lagi saat ini.


Jemi melangkah menuju kamar dimana sang istri saat ini baring meringkuk dan menangis. Benar-benar masih bocah melihat Kania seperti ini bukannya mencari tahu yang terjadi ia justru di kamar menangis tanpa ada hasil.


"Nia," panggil Jemi mendekat. Kania tak bergeming sama sekali.


"Kania, istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu." Jemi berniat keluar dari kamar setelah mengatakan hal itu seraya memegang lengan Kania.


Kania menoleh padanya. Di lihat Jemi menjauh. "Apa semua laki-laki memang seperti ini tidak memiliki rasa tanggung jawab sama sekali?" tanya Kania berteriak.


Jemi lantas menghentikan langkah kakinya di ambang pintu. Melihat tatapan mata sembab sang istri padanya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Jemi menatapp sang istri dengan dalam.

__ADS_1


"Pergilah!" usir Kania langsung menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


Jemi benar-benar pergi menutup pintu kamar. Hal itu membuat Kania semakin kesal saja. Berharap ia mendapat penjelasan dari sang suami nyatanya Jemi hanya meninggalkannya sesuai perintah wanita itu.


Satu jam dua jam hingga beberapa jam kemudian Kania membolak balikkan tubuhnya tak juga bisa tertidur. Pikirannya terus merasa penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Kedatangan sang ayah yang ia pikir sudah tiada tentu saja membuat Kania semain bertanya apa yang membuat ia terpisah dari orangtuanya.


"Aku harus tahu semuanya. Ini nggak bisa di biarkan." ujarnya melangkah pergi keluar kamar.


Satu ruang kerja yang menjadi pusat perhatiannya saat ini. Kania yakin Jemi pasti ada di ruangan itu. Tubuh tinggi putih itu berjalan di tengah minimnya pencahayaan di rumah. Kini waktu sudah menunjuk pada pukul sebelas malam. Dimana Kania harus mendapatkan jawaban barulah bisa memejamkan mata.


"Kania," sapa Jemi kaget saat asik berkutat dengan laptopnya.


Pria itu mendorong laptop kerja itu sedikit menjauh dari meja dan membiarkan Kania mendekat padanya.


"Katakan padaku apa yang terjadi? Benarkah pria itu adalah ayahku?" tanyanya dingin.


Jemi menghela napas kasar. Pelan ia menatap tangan sang istri yang bergantung di depannya. Di raih tangan itu dan di genggamnya erat. Tubuh Jemi bangkit dari duduknya. Ia melangkah membawa sang istri ke kamar mereka dengan menggendongnya. Kania hanya diam mematung mengikuti semua pergerakan sang suami. Entah mengapa perlakuan tanpa kata itu justru membuat Kania terkunci bibirnya tak bisa bersuara apa pun. Hanya rasa penasaran yang ia nantikan saat ini.


Setibanya mereka di kamar, Jemi merebahkan tubuh sang istri dan ia pun ikut berbaring di samping Kania.

__ADS_1


Di kecup dalam kening putih mulus milik sang istri. Jemi melingkarkan tangan di tubuh Kania.


"Pria yang baru keluar dari sel penjara itu benar adalah pria yang menitipkan anaknya padaku beberapa tahun lalu. Tepatnya adalah pada almarhum ayahku." Sontak Kania bangun dari tidurnya kala mendengar pengakuan Jemi yang masih awal.


"Pe-penjara? Maksudnya?" tanya Kania penasaran sekali.


"Iya. Ayahmu dulu terjerat kasus pembunuhan karena menyelamatkan Ayahku. Yang ayahmu bunuh orang sangat berpengaruh di negara ini. Semua terjadi kebetulan. Ayahku pun tidak tahu jika ayahmu senekat itu menolong ayahku yang sebenarnya ia sendiri tidak mengenalnya." Air mata Kania jatuh seketika mendengar ucapan sang suami.


Kania tak menyangka jika menghilangnya sang ayah justru dengan penderitaan yang jauh lebih sakit darinya.


"Kania, maafkan aku." Jemi ikut bangun dari tidurnya. Ia mengusap rambut panjang sang istri sembari membawa tubuh Kania ke dalam pelukannya.


"Aku bersalah. Andai Ayahku mengetahui ini aku pasti akan di bunuh olehnya." Entah apa yang membuat Jemi seberani itu menyentuh Kania yang belum sah bahkan seharusnya Jemi menjaga Kania hingga tumbuh dewasa bukan justru merusak masa depannya.


"Lalu dimana Ibuku?" Kania tak merespon ucapan permintaan maaf Jemi. Sebab sejujurnya ia pun juga mulai mengagumi sosok sang suami entah sejak kapan. Yang jelas rasa benci dan ingin pergi jauh itu tak lagi ia rasakan.


"Tidurlah. Besok kau akan menemukan jawabannya." Setelah berkata demikian, Jemi dengan tanpa dosanya merebahkan tubu. Hal itu membuat Kania sangat kesal.


"Ih mengapa jadi tidur lagi sih? Katakan padaku, Papah Jem. Dimana Ibuku? Aku ingin tahu keadaannya." Hati Kania senang sekali mendengar jika orang tua yang tak pernah ia tahu keberadaannya ternyata masih ada harapan untuk ia bisa menikmati waktu bersama mereka.

__ADS_1


Jemi tak bergeming, pura-pura tertidur meski Kania berusaha terus membangunkan dirinya.


"Ayo peluk aku sampai pagi dulu baru aku akan memberitahu dimana ibumu." Kania mengerucutkan bibir mendengar perintah sang suami. Namun, ia pun tetap menurut dengan permintaan Jemi. Berbaring di samping pria tampan itu lalu melingkarkan tangan di tubuh sang suami. Jemi menyembunyikan senyum di wajahnya.


__ADS_2