
Hingga malam semakin larut, Karin tak kunjung membuka kedua matanya. Wanita itu begitu setia berbaring dengan kesadaran yang lemah. Di sini Wulan semakin pucat lantaran takut. Jemi tentu saja bisa melihat perubahan wajah sang mamah. Ia tak hentinya menenangkan sang mamah yang biasa selalu bertentangan dengannya.
“Mah, Karin akan sembuh dan baik-baik saja. Di sini dia akan di rawat dengan baik. Kita pulang dulu yah? Aku akan urus keluarganya agar bisa datang mengurusnya di sini. Soal yang lain aku akan usaha bertanggung jawab.” tutur Jemi meyakinkan sang mamah.
Namun, Wulan justru menggeleng tak mau menurut. Ia kekeuh untuk tetap tinggal menjaga Karin. Bagaimana pun juga Karin di sini tentu karena dirinya.
“Jemi, kali ini sana Mamah mohon percaya dengan Mamah. Mamah tidak sedang berakting. Mamah akan menjaga Karin di sini. Mamah sangat bersalah di sini, Jemi. Bagaimana kalau Mamah akan di tuntut ke kantor polisi karena sudah membuat Karin celaka? Tidak. Mamah tidak mau di penjara.” ujar Wulan begitu terdengar sangat keras kepala.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu sangat ketakutan. Itu sebabnya Jemi sadar apa pun yang ia katakan tidak akan bisa di cerna dengan baik oleh sang Mamah. Akhirnya pria tampan itu pun mengalah. Ia memegang kedua pundak Mamah dan menatapnya dengan dalam.
“Mah, dengarkan Jemi. Mamah tidak akan kenapa-kenapa dan Karin juga akan sehat. Yang terpenting sekarang adalah Mamah pulang dan istirahat. Biar aku antar Mamah ke mobil yah? Di sini Karin biar aku yang menjaganya.” Setelah mendengar penuturan dari Jemi barulah Karin tersenyum lega meski wajahnya masih saja pucat.
“Kamu mau bantu Mamah, Jemi? Kalau ada perkembangan apa pun tentang Karin kamu mau kan kabari Mamah? Mamah tidak bersalah. Mamah tidak ingin di penjara.” Jemi yang paham pun mengangguk.
“Huh harus rela tidur di rumah sakit malam ini.” keluh Jemi sedikit tak rela.
__ADS_1
Sulit rasanya ia harus pisah dengan sang istri meski hanya beberapa jam. Sebab siang pun mereka akan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Jemi yang sangat mengantuk pun kini duduk di sofa ruangan dimana Karin terbaring saat ini. Mata Jemi terpejam karena sangat berat ia rasa.
Tanpa sadar jika ada sosok yang di tempat lain kini tengah terbaring begitu gelisah. Kania berulang kali bangun dari ranjangnya menatap ke arah jendela kamar. Tatapannya lurus ke bawah dimana halaman rumah terlihat tak ada tanda-tanda sang suami akan datang.
“Mas Jemi kemana sih? Katanya ke rumah sakit. Tapi, kenapa nggak ada kasih kabar sama sekali?” gumam Kania menggerutu kesal.
__ADS_1
Lelah bangun tidur bangun tidur, akhirnya ia memutuskan tidur di waktu yang sudah hampir subuh. Kania berbaring asal di atas kasur. Kania cemas apa yang menimpa sang suami dan keluarganya di sana? Mengapa Kania sama sekali tak di beri kabar sampai saat ini? Berbagai bayangan buruk terus berputar di kepala wanita itu.