
Sejak hari itu pula satu kali pun Wulan tak pernah mau menunjukkan wajah di depan anak serta besannya. Ia benar-benar tak sudi menatap keluarga yang sudah berhasil menghancurkan hubungannya dengan Jemi. Wulan rasa ia harus menenangkan diri saja. Tak mau berlarut dalam kekecewaan pada sang anak, hari ini tepat satu minggu setelah keributan itu Wulan pergi berlibur ke luar negeri. Belanda menjadi negara yang ia pilih untuk bersenang-senang.
Hal itu tentu sampai ke telinga Jemi. Dimana pria itu menghela napas kasar mendapat laporan keberangkatan sang mamah. Lama hidup bersama sang mamah, tentu ia paham bagaimana kerasnya kepala Wulan.
“Awasi Mamah saya dan pastikan semuanya baik-baik saja. Jangan sampai ada yang mengganggunya disana.” Itulah ucapan Jemi pada sang anak buah yang mengikuti kemana pun sang mamah pergi.
Bagaimana pun Jemi adalah anak yang harus menggantikan posisi sang Papah menjaga keluarga.
“Semoga aku bisa menemukan jalan keluar untuk ini semua, Mah. Secepatnya kita harus bisa berdamai dan Mamah menerima Kania.” gumamnya menatap nanar foto di ponsel. Seorang wanita memangku anak kecil pria yang tidak lain adalah Jemi bersama Wulan.
Sementara di kampus Kania sibuk mencerna apa yang di jelaskan oleh dosen di depan sana. Pikirannya benar-benar tak nyaman mengingat suaminya harus berselisih dengan mamahnya karena Kania.
“Apa yang harus aku lakukan ke Mamah yah? Bagaimana pun aku ingin pernikahan kami bahagia tanpa satu orang pun yang menjadi penghalangnya.” ujar Kania dalam hati.
“Kania!”
“Kania!” Dua kali teriakan sang dosen seketika membuat Kania terlonjak kaget.
__ADS_1
Saat ingin menatap dosen, Kania di buat terkejut kembali kala di depannya sudah ada sosok yang berdiri dengan wajah tak enak di pandang.
“Eh iya, Pak. Maaf, saya agak pusing tadi.” ujar Kania beralasan memegang kepalanya. Takut jika sampai ia terkena marah. Dosen kali ini adalah orang yang menyeramkan dan galak.
“Yasudah kamu keluar dan pergi istirahat saja. Lain kali kuliah harus dalam keadaan fit jangan memaksakan diri.” pintah sang dosen yang hanya Kania jawab dengan anggukan kepala saja.
Kania meninggalkan kelas menuju lorong kampus. Disana ia duduk sejenak tak tahu harus kemana. Pulang ke rumah rasanya masih terlalu cepat. Lagi pula di rumah Kania tak boleh menunjukkan wajah sedihnya.
Sampai beberapa saat berlalu akhirnya Kania mendapat sapaan dari pria yang juga memiliki kedudukan di kampus itu.
“Em Pak Dika, saya belum selesai kuliah cuman lagi pusing aja jadi di suruh keluar dari kelas.” jawab Kania apa adanya.
Dika mengangguk-angguk paham. Dari raut wajah Kania yang menekuk ia tahu pasti pusing yang di maksud adalah memikirkan sebuah masalah.
“Ikut saya yuk.” Tanpa ragu Dika sudah menggenggam pergelangan tangan Kania.
“Eh Pak Dika kita mau kemana, Pak?” Dika tak kunjung menjawab pertanyaan Kania. Keduanya berjalan cepat menuju lift dengan Kania yang terus di tarik Dika.
__ADS_1
Sama sekali tak ada pikiran Kania jika Dika akan berbuat buruk padanya. Lagi pula Dika juga sangat mengenal sosok sang suami kata Jemi.
“Sudah ikut aja. Kamu pasti nggak pusing lagi nanti.” Kania pun patuh. Terlihat angka di dalam lift itu tertuju pada lantai paling atas.
Mereka berdua saling diam di dalam lift. Sampai akhirnya Kania melepas tangannya yang di genggam oleh Dika.
“Em maaf, Kania.” ujar Dika merasa tak enak atas sikapnya yang lancang.
Keduanya pun sampai di rooftop kampus yang jarang di akses mahasiswa kampus itu. Kania terpesona dengan rooftop kampus tempatnya berkuliah. Sangat rapi, tempat ini seperti sangat di rawat baik oleh pihak kampus.
“Bagaimana? Di sini enak kan untuk bersantai?” Kania tersenyum mengangguk.
“Bagus, Pak Dika.” sahut Kania.
Dika menatap Kania dalam. Panggilan Pak barusan rasanya mengganggu pikiran Dika. Pria itu merasa tak nyaman jika di panggil seperti orangtua. Padahal wajahnya masih sangat tampan dan kencang.
Jika di sini Kania sibuk dengan suasana baru, berbeda dengan Jemi yang sudah sibuk meminta sang sekertaris untuk mengatur jadwal treatment di salah satu klinik kecantikan yang terkenal.
__ADS_1