
Ketika semua orang telah berkumpul, inilah momen yang sangat Jemi nantikan. Wajah kencang glowing pria tampan itu benar-benar bersinar. Ia sangat bahagia saat menatap semua tamu undangan yang juga menatap ke arahnya dan sang istri. Tangannya merangkul tubuh sang istri, Jemi menatap bangga ke depan.
"Terimakasih untuk kehadiran semuanya. Dalam momen ini saya benar-benar mengucap syukur atas semua yang Tuhan berikan. Kania, istri tercinta saya yang baru saya perkenalkan pada kalian semua. Kami sudah menikah selama ini dan saat ini istriku Kania telah mengandung anakku. Calon penerus perusahaan yang aku miliki saat ini..." Panjang lebar Jemi berucap.
Ia tak perduli bagaimana ekspresi semua orang yang menatap mereka saat ini. Benar-benar kebahagiaan yang Jemi rasakan. Ini adalah harinya bersama Kania. Banyak yang ikut bahagia dan banyak juga yang mencibir Kania. Pasalnya mereka tahu siapa Jemi dan siapa Kania. Dari usianya jelas Kania terlihat sangat bocah.
Semua teman Kania pun menampakkan wajah syok mereka. Banyak yang patah hati atas pernikahan Jemi dan Kania. Sementara Jemi menaikkan sebelah alis merasa menang telah mengumumkan pernikahan mereka.
"Hehehe sekarang aku pemenangnya. Kania telah menjadi istriku dan tidak ada yang boleh menyentuhnya atau pun mendekatinya lagi." batin Jemi bersorak.
__ADS_1
Satu hari acara berjalan dengan baik. Jemi melihat keluarganya bahagia. Wulan sebagai wanita yang sangat membenci Kania meneteskan air mata saat ini. Ia telah menyesali semua perbuatannya.
"Jangan bersedih, Bu Wulan. Semua sudah baik-baik saja, kita akan hidup bahagia bersama menunggu kelahiran cucu kita." ujar Santi menepuk pundak sang besan.
Wulan mengangguk tersenyum. Tak bisa melakukan apa pun selain menatap sekeliling. Hanya bergantung hidup dengan Kania yang selalu mengurusnya dengan baik.
"Terimakasih, Mas Jem. Aku senang sekali hari ini." ujar Kania memeluk sang suami ketika mereka baru saja berbaring di kamar.
"Jangan berterimakasih. Aku yang seharusnya berterimakasih, Sayang. Aku bahagia memilikimu." tuturnya membuat Kania tersipu malu.
__ADS_1
Meski sudah terbiasa mendapat gombalan maut dari Jemi, nyatanya Kania tetaplah bocah yang baru dewasa. Wajahnya seketika memerah mendengar gombalan maut dari orang tua itu.
"Aku sudah kenyang gombalan kamu, Mas. Sudah yah aku mau tidur."
"Tidur sekarang atau mau di bawa melayang dulu?" Lagi Jemi menggoda saat tubuh sang istri berbalik membelakangi dirinya. Kania bergidik geli merasakan sentuhan bibir sang suami di leher belakangnya.
Malam pun keduanya lalui dengan pertempuran hangat. Kebahagiaan keduanya benar-benar di rasakan oleh semua keluarga di rumah itu. Mereka pun hidup bahagia tanpa ada perselisihan lagi antara Kania dan sang ibu mertua.
Terkadang usia tak menggambarkan perilaku seseorang. Sebab kepribadianlah yang mampu membentuk perilaku semua orang.
__ADS_1
Wulan yang memiliki usia jauh lebih dewasa justru tak bisa bersikap dewasa. Setelah mendapat akibat dari perbuatannya, barulah wanita itu bisa membuka mata untuk sang menantu yang mencintai anaknya dengan tulus.
Belajar dari Kania, gadis belia yang sangat baik. Semua yang terjadi padanya selalu ia hadapi dengan hati yang lapang. Sampai akhirnya hidupnya pun berubah manis. Tak perduli bagaimana bencinya sang mertua padanya, Kania tetap memberikan yang terbaik untuknya.