
“Ada apa sih ini?” Wulan darah tinggi melihat Jemi dan Kani saling berpelukan. Keduanya bahkan berteriak kegirangan. Bahkan keberadaannya sebagai ibu mertua pun terasa sama sekali tak di anggap.
“Kania! Jemi!” Wulan terus berteriak sampai akhirnya sepasang suami istri itu saling melepaskan pelukan mereka.
“Mamah?” ujar Jemi menyapa. Sementara Kania nampak hanya menundukkan kepala saja tanpa mau menatap wanita paruh baya itu.
Wulan menarik kasar tangan Jemi sebab ia begitu tak suka jika sang anak terus berdekatan dengan Kania.
“Sini kamu. Kamu benar-benar keterlaluan, Jem. Mamah di sini seperti tidak kamu hargai sama sekali. Apa Mamah sama sekali tidak berharga buat kamu?” tanya Wulan berapi-api.
Matanya terus tertuju pada Kania menandakan betapa ia sangat membenci wanita itu. Namun, Jemi secepatnya menghentikan kemarahan sang mamah. Ia tersenyum seraya menggenggam kedua lengan Wulan.
“Mah…jangan marah-marah begini. Dengar dulu dong.” tutur Jemi perlahan.
__ADS_1
Wulan membuang wajah terlalu kesal dengan kedekatan sang anak bersama menantunya itu.
“Mamah tetap berharga buat aku. Tapi, sekarang ada yang jauh lebih berharga dari semua itu.” Kening Wulan sontak mengerut dalam mendengar ucapan anaknya.
Sudah ia duga pasti yang Jemi katakan adalah Kania. Sejak kehadiran bocah itu kehidupan rumah tangga Wulan pun tak pernah terasa nyaman seperti dulu.
“Karena wanita itu, Jemi? Kamu benar-benar keterlaluan, Jem.” sahut Wulan tak sabar menyahut.
“Bukan, Mah. Tapi di sini.” Jemi melangkah kembali mendekati Kania dan mengusap perut sang istri.
Dimana bibirnya hanya bergerak ambigu tanpa bisa bersuara apa pun. Wulan seketika berteriak histeris.
“Tidak!!!” Teriaknya begitu keras menolak kehadiran cucu yang akan lahir dari rahim Kania.
__ADS_1
“Mah! Mamah! Ada apa?” Suara dari Karin menggoyang bahu Wulan membuat wanita itu tersadar saat itu juga.
“Hah? Astaga, Karin. Syukurlah ternyata bukan nyata.” sahut Wulan menghela napas lega.
Setelah sadar dari lamunannya segera wanita paruh baya itu mengajak Karin sang mantan menantunya untuk pergi dari rumah itu. Ia takut jika bayangannya tadi akan jadi kenyataan.
Kedua wanita itu pun segera pergi dari rumah Jemi. Sebab berada di rumah itu pun mereka seperti tak di anggap. Jemi masih sibuk memuaskan dirinya dan juga sang istri.
Di perjalanan Karin merasa penasaran dengan Wulan yang terus saja diam. Tak biasanya mereka berdua hening.
“Mamah kenapa? Mamah sakit?” tanya Karin perhatian. Sikapnya yang sejak dulu dekat dengan Wulan memang tak pernah berubah.
Inilah yang membuat Jemi sangat sulit untuk membuat sang mamah jauh dari wanita ular itu. Andai saja Wulan tahu kejadian sebenarnya sudah pasti ia tidak akan mau melihat Karin lagi dan pasti akan memilih Kania.
__ADS_1
“Tadi Mamah bisa-bisanya ngelamun lihat Kania itu hamil. Huh bikin kesal saja. Jangan sampai itu terjadi. Karin, kamu harus pikirkan cara lain dong. Kamu harus kembali sama Jemi secepatnya. Susah payah Mamah cari kamu, sekarang harusnya sudah ada caranya. Malam ini kamu harus bisa dekatin Jemi lagi. Waktu kamu di rumah itu nggak akan lama.” ujar Wulan teringat jika Karin hanya memiliki waktu satu minggu saja.
“Iya, Mah. Malam ini aku akan usaha lebih keras lagi. Mamah tenang saja.” ujar Karin tampak tersenyum lebar.