
Suasana yang masih terasa mengharu biru di kediaman Jemi terpaksa hancur seketika kala kedatangan orang yang tak di harapkan harus terjadi. Tatapan penuh amarah semakin menyala saat ini. Dimana kedua matanya melihat jelas orang-orang asing tampak tertawa di depannya.
“Apa-apaan ini Jemi?” pekik Wulan saat itu juga. Langkahnya bahkan belum sampai di dekat ruang keluarga.
Jemi menoleh serta semuanya pun menoleh. Santi yang senyum sejak tadi kini menunduk. Sang suami bahkan tak segan menceritakan semua padanya. Dimana Wulan tak pernah setuju dengan kehadiran mereka semua di sisi Jemi.
“Apaan apanya, Mah?” sahut Jemi balas bertanya.
Merasa ia tak lagi bisa bersabar menghadapi sang mamah. Bahkan semua keinginan wanita itu sudah ia penuhi.
__ADS_1
“Kamu membawa mereka semua tinggal di rumah ini? Kamu sadar, Jemi! Mereka hanya orang asing yang memanfaatkan kekuasaan keluarga kita. Kamu buka dong mata kamu lebar-lebar. Dan kalian!” Tunjuk Wulan pada kedua orangtua Kania.
Melihat orangtuanya yang begitu menderita, Kania geram saat ini. Sang mertua yang tak pernah bisa memikirkan hal dari sisi positifnya.
“Jangan kalian pikir saya tidak tahu akal busuk kalian. Suami saya yang terlalu percaya memang mudah kalian bodohi. Tapi, tidak dengan saya. Silahkan jika kalian memang ingin memperdaya anak saya. Tapi, jangan harap satu rupiah pun harta suami saya bisa kalian nikmati.” Wulan berkata demikian dengan napas yang memburu menahan emosi.
Santi dan sang suami yang mendengar ucapan wanita tua itu hanya bisa menggeleng saling berpelukan.
“Cukup, Ayah. Saya tidak akan membiarkan Ayah kerja banting tulang lagi. Saya rasa sudah cukup semua harta saya berikan pada Mamah, bukan? Saya hanya akan hidup dengan mereka menggunakan gaji saya dari perusahaan. Apa masih kurang, Mah? Kalau Mamah mau aku bisa bekerja di perusahaan lain yang mungkin akan memberikan gaji saya lebih berkali-kali lipat dari saat ini.” Tatapan Jemi terdengar begitu tegas pada sang mamah.
__ADS_1
Kania hanya diam meski semula ia berniat ingin menyela ucapan sang mamah mertua. Sayang, rasanya sudah cukup semua ucapan suaminya barusan.
Wulan meneteskan air mata mendengar ucapan Jemi. “Tega kamu, Jemi? Tega kamu meninggalkan perusahaan Papah kamu demi mereka? Apa kamu tidak ingat bagaimana kerasnya Papa kamu membangun perusahaan itu? Siapa yang akan mengelola perusahaan itu jika bukan kamu, Jem? Karin sudah pergi. Siapa yang bisa Mamah andalkan?” Wulan menangis.
Tentu hatinya sakit mengingat dirinya hanya seorang diri saat ini. Untuk memberi restu pada Jemi tentu saja tak mungkin ia lakukan. Kania di matanya hanya parasit.
“Mamah yang tega. Mamah yang tega menyakiti aku. Mamah egois tanpa memikirkan bagaimana susahnya aku menaklukkan hati wanita yang aku pilih dan meminta restu pada orangtuanya. Mamah bahkan menutup mata dan telinga Mamah tentang buruknya wanita pilihan Mamah. Sekarang, Mamah boleh keluar dari rumah ini. Rumah ini aku beli atas hasil kerja kerasku dan ini adalah milik Kania.” Wulan tercengang mendengar penuturan sang anak.
Ia semakin tak percaya, bagaimana mungkin rumah semewah ini adalah milik Kania si bocah ingusan itu.
__ADS_1
Bukan hanya Wulan yang syok, Kania pun dengan kedua orangtuanya saling pandang tak percaya.
“Ah mungkin cuman akal-akalan Mas Jemi saja! Mana mungkin lah.” gumam Kania dalam hati tak percaya.