
Dengan segala kekuatannya Jemi sudah berhasil mengurung kembali istri kecilnya di kamar. Ia tak perduli bagaimana Kania sangat marah saat ini. Teriakan umpatan yang ia ucapkan pada Jemi sama sekali tak membuahkan hasil. Sedangkan Jemi yang berdiri di luar kamar tampak berpikir.
“Yah, aku harus melakukan sekarang juga.” gumam Jemi.
Tangannya tampak mengirim pesan pada seseorang. Detik berikutnya ia pun melajukan mobil meninggalkan rumah.
“Dasar jahat kamu, Mas Jemi. Kamu jahat. Aku mau kita pisah. Aku nggak mau di selingkuhi, Mas.” Teriakan sedih yang di iringi dengan isak tangis itu justru mengundang rasa penasaran dari kedua orang tua Kania yang baru datang.
Mereka menatap sang pelayan dengan tatapan penasaran.
“Itukan suara Kania, Bi? Kenapa dia teriak-teriak begitu?” Mereka berlari mendekat pada kamar. Suara pintu yang di lempari Kania semakin membuat Santi cemas.
“Ayah, ada apa ini? Bi, tolong cepat buka pintunya.” pintahnya.
__ADS_1
Pelayan patuh dan ketika pintu kamar terbuka, begitu kaget Santi dan Derman melihat kamar yang sudah berantakan.
“Kania, ada apa? Apa yang terjadi?” Tak ada jawaban dari Kania.
Ia hanya memeluk erat tubuh sang ibu. Melampiaskan kesedihannya di sana. Kania bahkan tak sanggup berbicara. Hatinya kian sesak kala melihat sekeliling dimana Jemi justru pergi setelah mengurungnya.
“Mas Jemi jahat, Bu. Mas Jemi selingkuh dari aku. Mas Jemi benar-benar jahat. Aku mau pisah, Bu. Aku nggak mau lagi jadi istrinya Mas Jemi.” Mendengar aduan sang anak, Santi tak langsung menanggapi. Ia terus memeluk anaknya sampai akhirnya menatap sang suami.
Derman kemudian mendekat mengusap punggung Kania.
Bertiga duduk di sofa. Kania di berikan minum sebelum akhirnya di minta untuk cerita.
“Mas Jemi selingkuh, Bu. Mas Jemi sama sekertarisnya pergi ke klinik kecantikan. Sekertarisnya atau pacarnya aku tidak tahu. Yang jelas mereka bukan seperti bos dan sekertaris. Mas Jemi sampai rela nganterin cewek itu perawatan dan beli cream dari pada jemput aku kuliah. Aku sakit, Bu.” Tak hentinya Kania terus menangis mengadukan pada Santi.
__ADS_1
“Nia, sabar. Kita harus dengar dulu penjelasan dari suami kamu yah? Jangan langsung main tuduh begitu aja.” sahut Santi.
Di sampingnya Kania seolah begitu sulit menerima apa pun yang sang ibu katakan. Dimatanya Jemi sudah tidak pantas lagi di percaya.
“Nggak mungkin Mas Jemi benar, Bu. Tadi dia aja sudah ketahuan bohongin aku lagi. Pokoknya aku mau pisah sama Mas Jemi, Bu.” kekeuh Kania berkeras pasa keputusannya.
Santi dan Derman pun saling pandang seraya menghela napas kasar. Anaknya sangat keras kepala ketika di beri masukan.
Sampai akhirnya suara dari luar rumah terdengar ramai. Beberapa mobil baru tiba di depan rumah besar milik Jemi. Kania dan kedua orangtuanya mengerutkan dahi dalam penasaran siapa yang datang.
“Siapa, Bi?” tanya Kania pada pelayan yang kembali dari luar.
“Katanya sih pekerja dari klinik X, Nyonya.” sahut sang bibi.
__ADS_1
Kania tidak tahu apa yang membuat para pekerja di klinik itu datang ke rumahnya.
“Jangan sampai mereka kesini buat bujuk aku ikut perawatan biar nggak marah lagi. Aku bakalan usir mereka semua!” Tanpa pikir panjang lagi Kania pun bergegas berdiri melangkah keluar rumah. Tekadnya kuat ingin mengusir suruhan sang suami.