
Tidak ada yang tahu kapan takdir berakhir. Sepulang dari makan siang bersama hari ini, Wulan yang mengendarai mobil sendiri tak sadar jika keadaan jalan di depan sedang licin sebab usai hujan deras beberapa menit lalu. Dalam pikirannya yang kosong ia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Pikirannya benar-benar bingung saat ini. Di satu sisi dirinya belum bisa menerima kenyataan jika ia memiliki menantu yang sangat muda. Di sisi lain ia tidak tahu harus bagaimana lagi menolak takdir yang menjodohkan anaknya dengan Kania. Semua sudah terjadi dan tidak akan bisa di lepaskan lagi.
"Aku benar-benar gila rasanya!" umpat Wulan memukul kepala. Detik berikutnya matanya melebar ketika baru saja terpejam sedetik.
"Ya Tuhan!" teriaknya kaget melihat laju mobilnya sudah tak terkendali lagi di tambah suara tubrukan mobil di belakang terdengar begitu keras. Wulan sangat panik ketika jalanan mengarah turun dari jalan yang tinggi.
"Huh? Tidak!!" teriaknya untuk kesekian kalinya. Wulan menoleh ke belakang dan di waktu yang bersamaan sebuah mobil ikut menghantam mobilnya tanpa bisa menghindar lagi.
Kecelakaan mobil yang cukup banyak terjadi saat ini. Wulan ikut menjadi korban kecelakaan itu hingga mobilnya menjadi korban terakhir kecelakaan yang menabrak dari arah belakang.
"Ayah..." lirihnya ketika detik terakhir matanya hendak tertutup. Darah segar mengalir di bagian mulut serta kening yang robek. Luka di beberapa bagian tubuh membuatnya tidak sadarkan diri. Tubuhnya terjepit di antara banyak kerusakan mobil miliknya.
__ADS_1
Semua korban kecelakaan di bawa ke rumah sakit dan berita mengejutkan ini akhirnya sampai ke telinga Kania yang sedang di kamarnya. Pelayan berlari memberi tahu berita tersebut padanya.
"Ada apa, Nia?" tanya Jemi melihat sang istri terdiam di depan pintu.
Kania berputar ke arah sang suami dan menatapnya dengan air mata yang berjatuhan.
"Mas Jemi, Mamah kecelakaan." Jemi yang sibuk mengeringkan rambut dengan handuk seketika membuang handuk itu ke lantai. Ia melangkah mendekati Kania dengan wajah tak percaya.
"Maaf Tuan, tadi ada telepon dari rumah sakit katanya Bu Wulan mengalami kecelakaan di jalan XX perempatan turunan..." Belum sempat pelayan menyelesaikan ucapannya, Jemi buru-buru mengambil pakaian dan meminta Kania untuk bersiap juga.
Keduanya melaju menaiki mobil menuju rumah sakit yang di sebut oleh pelayan tadi. Kania bisa melihat air mata sang suami yang menggenak di kelopak matanya sepanjang jalan. Tak ada suara dari keduanya. Kania beberapa kali mengusap punggung sang suami memintanya untuk tetap bersabar dan tenang. Hingga perjalanan pun berakhir ketika mobil tiba di rumah sakit. Kania mengikuti langkah lebar sang suami yang begitu cepat.
__ADS_1
"Dimana Mamah saya, Dok?" tanya Jemi dengan wajah takutnya.
"Bu Wulan sedang di tangani di dalam, Tuan. Silahkan anda menunggu." Jemi berdiri dengan gelisah menunggu hasil pemeriksaan. Ketakutan terus menyerang dirinya.
Ingatan kembali pada hari ini dimana Wulan tiba-tiba mau menerima pernikahannya dengan Kania. Rasanya Jemi semakin takut jika sampai sang mamah harus pergi dengan cara seperti ini.
"Tidak. Aku mohon jangan pergi, Mah." ujar Jemi menggeleng.
Kania tahu Jemi sangat takut saat ini. Ia pun mendekat dan memeluk tubuh sang suami.
"Mamah pasti baik-baik saja, Mas Jemi. Kita berdoa yah? Aku yakin Mamah pasti tetap bersama kita." ujar Kania.
__ADS_1