Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Sepanjang jam kuliah kedua terlihat konsentrasi Kania buyar. Wajahnya menekuk kesal mengingat semua pergerakannya di pantau misterius oleh sang suami. Meski banyak teman yang tidak melihat sosok Jemi, tapi bagi Kania tetap saja ia tak suka.


“Kenapa harus ke kampus segala sih? Aku kan malu kalau sampai teman-temanku tahu aku sudah nikah. Apa kata mereka? Pasti aku selalu di ejek. Mana ini wajah terlalu kecil lagi.” Kesal Kania tak sadar menepuk wajahnya.


Saat menyadari jika teman-temannya memperhatikan dirinya, Kania pun hanya tersenyum bodoh.


Hampir satu jam ia berada di kelas perkuliahan. Kini Kania pulang dengan menolak semua tawaran teman sekampusnya untuk berjalan atau sekedar nongkrong di luar.


Ia berjalan cepat menuju parkiran. Sebuah mobil mewah nan gagah tentu sangat Kania hapal. Ia masuk ke dalam bukannya melampiaskan kekesalannya pada Jemi, Kania justru melongo tak percaya dengan aksi sang suami.


“Mas, kok cium-cium aku sih?” Kania memukul dada sang suami yang sudah menjauh.


Di lihatnya Jemi terkekeh geli. “Cuman mau pastiin aja bekas bibir aku masih di sana. Ingat, Nia kalau suami kamu ini sangat hapal bentuk dan aroma bibir istrinya. Jangan pernah berani macam-macam.” tutur Jemi seolah mengancam namun Kania menghela napas kasar.


Keduanya langsung pulang ke rumah, dimana mereka justru di sambut oleh wanita yang belakangan ini menjadi bayang-bayang masa lalu Jemi.

__ADS_1


Dia adalah Karin. Dengan pakaian formal yang elegan dan sangat sesuai dengan postur tubuhnya, kaki menggunakan heels Karin melangkah mendekati Jemi dan Kania yang berjalan dengan bergandengan tangan.


“Wah wah wah seperti Ayah dan anak yah, Jem? Lucu loh.” ledeknya menyindir jika keduanya sangatlah tak pantas.


Tatapan mata Karin begitu merendahkan kedudukan Kania. Karin semakin dengan sembari tangannya memegang berkas.


“Langsung intinya saja. Ada apa? Aku lagi kangen banget sama istriku.” ketus Jemi berucap.


Kania membuang wajah seolah tertawa dengan ekspresi wajah jelek milik Karin. Berharap dengan ledekan Karin barusan, Jemi dan Kania saling tidak percaya. Nyatanya Jemi nampak masa bodoh.


“Oke tak masalah. Ini baru hari pertama untuk kalian. Masih banyak hari berikutnya. Aku pastikan aku mampu meretakkan kepercayaan diri kalian berdua.” gumam Karin menatap penuh rencana.


Karin pun menjelaskan jika ia datang karena membawa berkas penting yang akan mereka kerjakan besok. Dan hari ini harus segera di periksa oleh Jemi.


Kania yang tak pernah berniat meninggalkan sang suami dengan wanita lain tampak melingkarkan tangan di lengan Jemi. Bibir kecilnya tersenyum jahil kala Karin tak bisa fokus mendengar ucapan Jemi. Sebab matanya terus tertuju pada tangan Kania.

__ADS_1


Sampai akhirnya keduanya masuk meninggalkan Karin yang marah.


“Kenapa sih dia harus sampai ke rumah kita? Mas kan kerjanya di kantor.” sahut Kania kesal.


Jemi tersenyum mengusap kepala sang istri. “Kamu cemburu?”


Lantas Kania segera menggelengkan kepala menolak. “Tidak.”


“Cemburu?” tanya Jemi lagi dan Kania kembali menggeleng.


“Itu artinya besok Mas akan ke kantor agar dia tidak ke rumah kita?” tanya Jemi yang membuat Kania diam serba salah.


Dimana jika Jemi ke kampus, maka Karin akan datang ke rumah mencari suaminya. Dan jika Jemi ke kantor, artinya Kania tidak di perhatikan lagi dan Jemi akan terus bersama Karin.


Pusing memikirkan hal itu, Kania menghempaskan kakinya menuju kamar. Ia kesal karena berada di pilihan yang sulit.

__ADS_1


“Nia!”


“Nggak, Mas! Aku nggak milih apa-apa.” teriak Kania dari kejauhan.


__ADS_2