
Satu minggu berjalan sejak saat itu. Kania yang sudah di paksa oleh sang suami bekerja mau tak mau harus menjalankan perintah. Meski keinginannya sangat besar untuk tetap berkuliah namun ketakutan dengan perkataan Jemi yang mengatakan Dika akan mencelakai dirinya membuat Kania jadi istri yang sangat penurut.
"Yanti, saya bisa bantu kamu apa?" tanya Kania ketika keduanya berada di ruang kerja Jemi.
Yanti yang semula hendak keluar dari ruangan terhenti mendengar ucapan Kania. Ia tersenyum lembut. "Tidak usah, Nyonya. Nyonya Kania di sini saja, saya akan kembali ke ruangan mengerjakan ini. Tuan pasti membutuhkan bantuan anda." Kening Kania pun mengerut dalam mendengar ucapan Yanti.
Bagaimana mungkin ia di ruangan ini bersama sang suami. Sedangkan statusnya yang sebenarnya adalah menjadi pembantu Yanti sebagai sekertaris.
"Sayang, kamu dengar itukan? Yanti tidak butuh bantuanmu. Yang butuh bantuanmu adalah aku." ujar Jemi menatap dalam sang istri.
Pintu tertutup dengan Yanti yang keluar. Kania di tarik cepat oleh Jemi hingga terduduk di pangkuannya.
"Ih apaan sih, Mas Jemi ini? Ini di kantor, Mas." tegur Kania.
__ADS_1
"Ini kantorku." jawab Jemi.
"Mas Jemi lupa yah kalau di sini Mas itu cuman kerja bukan lagi pemilik perusahaan ini." ujar Kania ingat jelas perjanjian sang suami dengan sang ibu mertua.
"Kamu yakin jika Ibu melakukan itu? Memangnya ada yang bisa Ibu andalkan selain aku?" tanya Jemi begitu santainya.
Kania hanya menggelengkan kepala menghadapi sikap sang suami. Meski sebenarnya ia pun mengakui jika sang ibu mertua pasti tidak akan mengusir Jemi dari perusahaan ini sebab hanya Jemi yang mampu melakukan pekerjaan ini semua.
"Jemi!" Suara lantang itu terdengar tiba-tiba bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka cepat.
Wanita yang sudah lama tak menampakkan wajah kini kembali datang mengusik kehidupan Jemi dan Kania.
"Ibu, duduklah. Tidak perlu berteriak seperti itu. Aku sedang berbicara dengan istriku." sahut Jemi santai.
__ADS_1
Wulan bahkan sampai menarik napas dalam mendengar ucapan sang anak yang seperti tidak ada takutnya lagi pada dirinya.
"Apa begini tingkah mu di perusahaan? Ini masih jam kerja dan untuk apa kau membawanya ke perusahaan ini? Apa masih belum cukup kalian di rumah? Hah!" ucap Wulan tegas.
Rasa kesal kembali menguasai dirinya kala melihat kedekatan sang anak dengan menantu yang tidak ia restui itu.
"Sudahlah katakan Ibu ada apa datang kemari?" tanya Jemi tanpa berniat menjawab ucapan sang ibu. Begitu pun dengan Kania sama sekali tak ada mengatakan maaf pada Wulan.
Terbiasa di benci sejak kecil membuat Kania tebal dengan semua sindiran dari Wulan. Baginya melakukan kesalahan atau pun tidak dirinya tetap saja salah di mata Wulan.
"Katakan apa alasan kamu menolak Karin, Jem? Ibu hanya berniat baik untuk pernikahan kalian di masa lalu. Mengapa kamu tidak bisa melihat niat Ibu itu? Apa segitu gilanya kamu dengan gadis bau kencur ini? Sampai kamu tidak bisa memaafkan kesalahan istrimu sendiri? Karin sudah berubah Jemi. Ibu yakin itu. Kamu harus beri dia kesempatan. Bahkan saat ini Karin memilih pergi dari kamu. Ibu semakin yakin dia wanita yang pantas untuk kamu. Ibu sangat ingin melihat kalian berdua bersama lagi." Tak puas dengan liburan yang membuatnya sangat bosan.
Akhirnya Wulan kembali menemui sang anak dan memohon secara baik-baik. Meski beberapa kali ia melayangkan tatapan tajam pada Kania. Sebab kehadiran bocah inilah semua jalan yang ia atur tak berjalan dengan mulus.
__ADS_1
"Memaafkan bukan perkara sulit untukku, Bu. Apa selama ini Ibu ada bertanya pada Karin apa sebab kami berpisah?" tanya Jemi lebih dulu. Wulan justru menggeleng tak tahu.
"Ibu tidak tahu. Lagi pula itu kan masalah kalian. Yang harus Ibu tahu yah maaf dari kamu untuk Karin. Itu saja, Jem." sahut Wulan, Jemi berdecih.