
Satu minggu di rawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Wulan pulang dengan Jemi dan Kania yang mendampinginya. Sebelumnya Jemi sangat cemas dengan keadaan sang mamah. Tak di sangka justru Wulan menerima takdirnya dengan tenang. Sadar dengan apa yang sudah ia perbuat selama ini. Kesalahannya begitu banyak hingga paham mengapa Tuhan memberinya hukuman seberat ini.
"Mah, kita sudah sampai. Mamah tinggal sama kita saja yah? Biar Nia bisa bantu mengurus Mamah di sini." tutur Kania begitu lembutnya pada Wulan.
Tak di sangka menantu yang selama ini ia tolak mentah-mentah justru suka rela merawat dirinya yang lumpuh. Air mata Wulan jatuh menatap Kania penuh haru.
"Terimakasih, Nia. Maafkan Mamah selama ini banyak salah sama kamu." ujar Wulan menggenggam tangan Kania. Kania hanya mengangguk dan tersenyum.
Baginya bukan sebuah beban sama sekali jika harus mengurus sang mamah mertua. Kania bersyukur di masa ini ia justru mendapatkan ibunya yang telah lama menghilang dan sekarang di tambah mamah mertuanya pun yang juga menerima dirinya.
"Jangan berterimakasih, Mah. Nia senang bisa mengurus dua mamah sekali gus. Dulu Nia sangat berharap bisa merasakan memiliki seorang ibu. Sekarang harapan itu Tuhan kasih sekali dua." Jemi tersenyum mendengar perbincangan keduanya.
__ADS_1
Hatinya sangat tenang melihat dua wanita yang saling akur di depannya. Tak ada lagi masalah di hidupnya saat ini. Perihal kehamilan itu bukanlah sebuah masalah baginya. Harapan Jemi hanya bisa bertahan bersama Kania sampai akhir hayat mereka. Tentang anak baginya itu hanya sebuah bonus dalam pernikahan.
Kedatangan mereka di ruang tamu di sambut segera oleh kedua orang tua Kania. Santi dan Derman tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Akhirnya sampai juga. Nia, itu kamarnya sudah Ibu siapkan. Semuanya sudah bersih kok." ujar Santi.
"Makasih yah, Bu. Nia mau bawa Mamah ke kamar dulu untuk istirahat." sahut Kania.
Setibanya di dalam kamar, Wulan menoleh menatap Santi dengan pandangan berkaca-kaca.
"Kalian begitu baik pada saya. Saya benar-benar menyesali semuanya." ujar Wulan.
__ADS_1
"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Semua yang Bu Wulan lakukan tentu hanya untuk melindungi keluarga. Kami sangat paham hal itu." ujar Santi.
Kania tak tega melihat raut penuh sesal di wajah mamah mertua. Sudah cukup baginya semua yang Wulan dapat saat ini. Itu sudah lebih dari cukup sebagai pembuka hati wanita yang sangat keras itu.
"Mah, sudah yah jangan sedih lagi. Kita baik-baik saat ini dan itu bisa buat Jemi bahagia. Nia janji akan jaga dan rawat Mamah dengan baik." Kania memeluk mamah mertuanya penuh sayang.
Sama sekali rasa bencinya tak lagi ada pada Wulan. Semua terhapuskan dengan keadaan Wulan yang begitu menyedihkan di mata Kania.
"Mamah sudah benar-benar salah menilai kalian semua. Maafkan Mamah yah? Mamah janji tidak akan menuntut apa pun dari kalian. Yang terpenting adalah pernikahan kalian bahagia. Itu sudah cukup buat Mamah, Nia." ujar Wulan.
Kania hanya tersenyum bersama dengan Santi. Selang beberapa saat keduanya memilih keluar dari kamar meninggalkan Wulan untuk istirahat di kamarnya.
__ADS_1