Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Kecemburuan Kania


__ADS_3

Kini satu minggu berlalu sudah Kania nampak murung selama perkuliahan berlangsung. Tatapannya begitu kosong kala melihat sang suami benar-benar tak nampak di kampusnya. Tanpa Kania tahu jika di sisi lain sosok pria yang tak lain adalah suaminya terkekeh melihat laporan dari seseorang. Jemi melihat setiap pergerakan Kania di kampus beberapa hari ini. Kania terus berusaha menghindar dari kumpulan teman-temannya. Kania benar-benar menjaga jarak dari orang lain.


"Kania, mau pulang?" tanya Dika seorang dosen yang tak lain adalah teman dari Jemi.


Hal itu sampai pada telinga Jemi. Ia tak suka jika Kania bertegur sapa dengannya. Kini pria itu meminta orang suruhannya untuk terus memantau sampai akhirnya ia mendapat laporan jika Kania langsung pulang ke rumah.


"Huh kenapa juga sih aku harus sepakat dengan permintaan Mas Jemi?" kesal Kania mengumpati keputusannya ketika tiba di rumah.


Siang ini kepulangan Kania hanya di sambut oleh sang pelayan. Ia masuk ke kamar dengan masa bodoh kala mendengar bibi memanggil untuk makan siang.


"Nyonya Kania, ayo makan siang dulu. Tuan Jemi menelpon Bibi untuk membawakan makan ini." Di luar pintu kamar Kania mendengar suara pelayan yang berteriak sembari mengetuk pintu.

__ADS_1


"Biarkan saja, Bi. Nanti juga dia pasti lupa kalau aku belum makan kok." sahut Kania kesal.


Berbagai bayangan sudah muncul di benaknya. Di kantor pasti Jemi tengah berduaan terus dengan Karin bahkan mereka bisa saja makan berdua siang ini. Tak sadar satu minggu Kania menahan kekesalan ini nyatanya membuat hatinya terasa sakit. Kania meneteskan air mata sedih duduk di sisi ranjang. Merasa di acuhkan oleh sang suami Kania melempar semua barang bawaannya. Kania menghempaskan tubuh di atas kasur meringkuk meneteskan air mata.


Tak berselang lama setelah keadaan Kania yang menyedihkan, kini suara dari Jemi sudah menggema di luar pintu.


"Nia! Nia, buka pintunya!" teriak Jemi sembari mengetuk pintu kamar utama mereka.


Jemi menghela napas kasar melihat keadaan sang suami. "Kenapa, Sayang? Aku ada salah sampai kamu menangis seperti ini?" tanya Jemi memegang kedua pundak sang istri.


Kini kedua pasang mata mereka saling memandang. Mata Kania benar-benar sembab saat ini.

__ADS_1


"Ayo makan siang yuk." ajak Jemi namun Kania menggeleng tak mau.


Pintu pun di tutup oleh Jemi. Ia membawa sang istri masuk ke dalam kamar. Di gendong dan di rebahkan di atas kasur. Jemi tampak mengusap lembut wajah sang istri. Terlihat jika Kania masih marah padanya. Tangannya terus beberapa kali menghindari sentuhan tangan Jemi. Sampai pada akhirnya Jemi kembali memenangkan hati sang istri.


Pesona duda tampan itu terlihat memang tak pernah gagal dalam memikat hati wanita. Kania bermandikan keringat kali ini namun pandangan wajahnya kembali ke arah lain tak mau menatap sang suami.


"Hei, kenapa masih marah? Nia? Ada apa, Sayang?" tanya Jemi lembut.


"Kenapa pulang? Bukannya sibuk dengan mantan Mas itu?" tanyanya ketus.


Jemi tersenyum mendengar ucapan sang istri. Sepertinya Kania sedang terbakar api cemburu saat ini. Menghadapi kemarahan seorang wanita yang cemburu tentu tidaklah mudah.

__ADS_1


__ADS_2