Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Tingkah Jemi


__ADS_3

“Yanti, sekarang kamu pulang. Kita ketemu besok pagi.” tutur Jemi begitu santai pada sang sekertaris.


Sedang Yanti yang mendengar perintah Jemi sontak menatap jam di pergelangan tangan. Keningnya mengerut dalam sebab waktu untuk pulang masih begitu lama.


“Pak, ini kan masih jam kerja. Bahkan kerjaan saya masih ba-“ Segera Jemi memotong ucapannya.


“Pulang dan istirahat. Kamu mau membantah saya?” Tatapan Jemi sudah terlihat tak bersahabat. Lantas Yanti yang tidak ingin rugi segera mengangguk.


Ia membawa semua kerjaan yang bisa di kerjakan di rumah. Siapa yang tidak ingin pulang cepat dan berbaring santai di kamar yang empuk. Dengan senang hati Yanti pun pulang. Begitu juga dengan Jemi. Pria itu memilih pulang ke rumah dan memesan masker melalui online shop yang menyediakan jasa delivery.


Ia menghabiskan waktu di tempat tidur berbaring dan membalut wajahnya dengan makser. Tak lupa potongan buah tomat menutup mata pria itu.


Terlalu menikmati segarnya masker, Jemi tidak sadar jika sudah melewatkan banyak waktu dengan tertidur. Melewatkan waktu untuk menjemput sang istri.

__ADS_1


Kania pulang dengan wajah ceria sampai akhirnya langkah wanita itu terhenti kala melihat mobil Jemi terparkir rapi di depan rumah.


“Bi, Mas Jemi sudah pulang?” tanyanya heran. Pikirnya Jemi sangat sibuk sampai tidak memiliki kesempatan memberi kabar jika tidak bisa menjemputnya.


“Oh Tuan iya sudah pulang barusa…” Bibi menggantung ucapannya saat melihat Kani sudah berlari menuju kamar meninggalkannya.


“Ups ada yang baru pulang? Kasihan yah nggak di jemput?” Manik mata Kania melebar mendengar sapaan dari suara yang tidak asing itu.


Karin menggerakkan kedua tongkat di tangannya mendekati Kania yang hendak masuk ke kamar. Sangat geram melihat Karin yang kembali masuk ke rumahnya.


Sayang sikap Kania yang seperti itu sama sekali tidak membuat Karin tersinggung. Ia hanya tersenyum merespon ucapan Kania.


“Aku di usir mantan suamiku? Tidak berarti apa pun, bocah. Aku merindukan Jemi. Apa itu salah? Aku ingin tetap di sini. Sampai kakiku bisa berjalan normal.” Rasanya Kania benar-benar marah.

__ADS_1


Saat ini ia sedang kesal pada sang suami, dan Karin datang justru membuat dadanya semakin sulit mengendalikan amarah.


“Ah! Bacot!” Teriakan Kania begitu lantang bersamaan tangannya yang mendorong tongkat di tangan Karin.


Detik itu juga Karin terjatuh dan tongkatnya pun ikut terjatuh ke kantai. Suara keributan tersebut membuat pelayan dan juga Jemi yang terlelap semua kaget.


“Argh sakit! Tolong!” Karin berteriak tanpa akting lagi kali ini. Ia kesakitan saat kakinya terjatuh begitu saja. Kania yang berdiri di depannya hanya menatap penuh benci.


Pelayan datang dengan wajah kaget tanpa berani melakukan apa pun, sebab di sini yang menjadi nyonya mereka adalah Kania.


“Nia, ada apa ini? Loh Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini, Karin?” tanya Jemi kaget dan beralih pada Karin yang masih duduk di lantai.


Mendengar sang suami menyapa Karin, Kania semakin geram. Dengar brutal ia mendorong tubuh sang suami lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Jemi kebingungan.

__ADS_1


“Bibi, bantu dia.” pintah Jemi untuk Karin. Ia pun berlari menyusul sang istri.


Jemi tak sadar jika semua heran melihat wajahnya yang masih penuh dengan masker.


__ADS_2