Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Kabar Baik


__ADS_3

Air mata sore itu mendadak jatuh kala melihat dua garis di alat tes kehamilan. Kania bergetar menggenggam alat tes di tangannya. Benar dugaannya beberapa hari ini merasa telat datang bulan.


“Aku hamil?” gumamnya lirih.


Keadaannya yang masih kuliah tak membuat Kania sedih. Ia justru merasa bahagia meski kehamilan ini sama sekali belum terlintas di kepalanya.


“Nia! Kania! Aku pulang.” Seruan dari luar kamar mandi terdengar. Kania tahu itu adalah suara sang suami.


Buru-buru ia membuka pintu dan berlari memeluk tubuh suaminya. Wajahnya yang menangis bahagia membuat Jemi sangat bingung.


“Hei ada apa ini? Kamu menangis?” tanya Jemi cemas. Takut jika sang istri mendapat perlakuan buruk dari sang mamah.


Keduanya masih di dalam kamar. Kania melepaskan pelukan dan melangkah menuju kamar mandi. Ia mengambil alat tes kehamilan dan berlari lagi pada Jemi.


“Mas Jemi…aku hamil, Mas!” teriaknya girang.


Setengah tak percaya dengan sikap sang istri. Jemi tertawa bahagia dengan melebarkan kedua mata.

__ADS_1


“Kamu serius? Kamu hamil, Nia?” tanya Jemi. Kania mengangguk.


Pria itu dengan sisa tenaganya memeluk tubuh sang istri ketika pulang dari kantor. Rasa lelah di tubuhnya rasanya terbayar sudah.


Ia begitu bahagia mendengar kabar sang istri hamil. Berkali-kali Jemi mencium wajah sang istri. Ucapan terimakasih pun berkali-kali ia lontarkan.


“Besok kita periksa ke dokter yah? Kita harus pastikan semuanya baik-baik saja. Kamu jangan capek-capek.” Kania hanya patuh.


Keduanya memilih berbaring dengan Jemi yang sudah membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Tanpa ia sadari wajah pria itu nampak menyembunyikan senyum liciknya.


“Akhirnya ada alasan juga buat kamu menetap di rumah, Nia. Tidak ke kampus atau pun ke kantor. Kamu akan di rumah menjadi istri dan ibu yang baik.” gumam Jemi senang bukan kepalang.


Di meja makan, tepatnya semua keluarga berkumpul untuk menikmati makan malam. Hanya Wulan yang tetap di kamar untuk istirahat.


“Bu, Nia hamil.” ujar Kania memberi tahu sang ibu sebelum makan malam di mulai.


Santi dan Derman saling menatap dengan wajah kaget. Detik berikutnya mereka tersenyum lebar.

__ADS_1


“Hamil? Kania, kamu nggak bercanda?” Kania mengangguk.


“Kania betulan hamil, Bu.” Kini Jemi yang bersuara.


Terdengar ucapan syukur dari kedua orangtua Kania saat ini. Mereka semua sangat bahagia mendapat kabar baik itu.


“Kamu jangan banyak capeknya yah? Harus banyakin istirahat. Hamil muda itu sangat rawan, Nak.” sahut Derman menasehati sang putri.


Kania hanya mengangguk tersenyum. Sementara Jemi yang merasa mendapatkan peluang berbicara langsung berdehem kecil.


“Em menurut Mas ada baiknya kamu di rumah saja selama hamil, Nia. Itu lebih baik untuk mencegah terjadinya sesuatu pada anak kita. Menghindari kan lebih baik.” ujar Jemi.


“Iya, Mas. Aku menurut saja yang penting anak kita sehat.” Kini Kania menjadi gadis yang sangat patuh.


Rasa bahagianya memiliki anak membuatnya lupa dengan semua impiannya menjadi wanita mandiri. Ia bersedia menerima semua aturan sebagai ibu yang tengah mengandung.


Jemi sangat senang. “Kalau tahu begini mudahnya mengatur Kania, mungkin jalan baiknya aku harus buat dia hamil terus hahaha.” batin Jemi bermonolog gila.

__ADS_1


Pikirnya hamil itu sangat mudah hanya mengandung, istirahat lalu melahirkan.


__ADS_2