
Di sinilah saat ini Jemi berdiri menatap ke arah depan. Tawa dari beberapa anak muda terlihat jelas di matanya termasuk wajah sang istri yang begitu bahagia. Salah jika Jemi berpikir Kania akan larut dalam kesedihannya. Justru Kania melampiaskan amarahnya dengan mencari hiburan dari teman-teman kampusnya. Tentu saja itu membuat Jemi semakin cemburu. Ia merasa jika sang istri tidak begitu membutuhkannya. Kania mampu bahagia tanpa Jemi.
“Nia,” Suara itu membuat Kania dan teman-temannya menoleh segera.
Betapa terkejutnya Kania melihat sang suami berani menunjukkan wajahnya di depan semua temannya. Wajah mapan dan rupawan itu sontak membius pandangan para wanita teman Kania.
“Kania, siapa dia! Paman lu yah? Udah duda belum?” Pertanyaan yang terdengar lirih di telingan Kania itu membuat Kania berdiri begitu saja.
Ia sangat marah mendengar temannya bertanya demikian.
“Kania, ganteng banget sih. Kok nggak bilang punya keluarga setampan itu?” Lagi Kania mendengar salah satu temannya bertanya sembari memegang tangan Kania yang menggantung ke bawah.
__ADS_1
Kania sama sekali tidak menghiraukan. Ia memilih berjalan meninggalkan para temannya dengan Jemi yang menyusul sang istri. Mereka berjalan ke arah parkiran dengan langkah masing-masing tanpa bergandengan. Tidak mungkin bagi Kania untuk berdebat dengan sang suami di area kampus. Kania belum siap jika di ketahui orang ia telah menikah.
“Kenapa menggangguku?” tanya Kania ketika mereka tiba di dalam mobil.
“Nia, apa yang kamu katakan? Aku minta maaf atas kejadian di rumah sakit tadi.” sahut Jemi berusaha memohon. Ia sadar ia salah posisinya tentang semalam.
“Mas Jemi melarang aku seperti di penjara ini dan itu. Tapi, justru Mas Jemi yang melakukan hal lebih fatal itu. Aku merasa ini tidak adil, Mas. Apa hanya karena aku besar atas jasa Mas Jemi jadi aku harus mengalah seterusnya?” Air mata Kania jatuh menatap sang suami yang menggeleng.
“Kania, semua terjadi begitu saja. Mamah yang sudah umur nggak mungkin aku biarkan menjaga Karin di rumah sakit. Jadi otomatis aku yang mengambil tanggung jawab itu. Karin jatuh karena Mamah juga, Nia.” sahut Jemi menjelaskan.
Kania tampak mengangguk. “Oh jadi kalau kenapa-napa semuanya harus Mas yang tanggung jawab karena Mamah nggak mungkin melakukan itu. Lalu jika selanjutnya ada apa-apa lagi apa harus Mas lagi yang tanggung jawab?” tanya Kania yang langsung mendapat gelengan kepala dari Jemi.
__ADS_1
Pria itu berjanji ini adalah kesalahan pertama dan terakhir yang ia lakukan. Karin hanyalah masa lalu yang tidak mungkin Jemi utamakan di bandingkan pernikahannya.
“Aku mohon maafkan aku, Nia. Aku janji ini tidak akan pernah terjadi.” Kania masih merasa dongkol.
“Aku curiga kalau ini adalah rencana mereka.” sahut Kania yang membuat Jemi hanya diam.
Menjelaskan apa pun saat ini Kania tak akan mau memahaminya. Bagi Jemi ini adalah murni kecelakaan. Sebab Karin sampai mengalami hal serius di rumah sakit.
“Kita pulang sayang yah?” tanya Jemi yang membuat Kania hanya diam.
Mereka berdua menuju rumah. Hari ini Jemi tak ke kantor bekerja. Ia akan menebus waktunya bersama Kania di rumah sebagai bentuk permintaan maaf. Benar saja setelah tiba di rumah Kania masuk ke kamar. Sedang Jemi berkutat di dapur membuat makan cemilan dan minuman yang akan menemani mereka santai di ruang tv.
__ADS_1