
Kecemburuan yang biasa Jemi pikirkan setiap bekerja kini hilang tanpa sisa. Ia benar-benar bersyukur atas kehadiran sang calon anak. Kania berada di rumah dan jauh dari godaan para pria. Ia bisa tenang bekerja dan merawat diri.
Tanpa ia ketahui jika di rumah kini tampak beberapa teman sang istri yang datang mengunjungi Kania. Mereka merasa heran mengapa Kania tak pernah lagi muncul ke kampus.
“Ayolah Nia, sayang tau kalau kamu nggak kuliah. Yakin nih nggak kangen ngumpul bareng sama kita?” tanya salah satu teman Kania.
Kania tersenyum kikuk, baginya tidak mungkin mengatakan jika suaminya melarang dan saat ini ia sedang hamil. Kania masih belum berani mengatakan kebenaran. Usianya masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri.
“Nggak deh. Aku sudah nyaman kok di rumah. Lagi pula aku sedang menunggu perintah dari keluarga untuk bekerja. Aku sudah memutuskan kerja dulu nanti kalau sudah banyak tabungan baru deh kuliah lagi.” jawab Kania merendah.
Ucapan yang ia pikir menjadi penyelemat justru berbanding terbalik. Sebab semua pandangan sang teman-teman bergerak ke setiap sudut rumah megah ini.
“Tabungan? Dengan tinggal di rumah sebesar ini kamu masih mikir tabungan? Kania, uang kamu sudah pasti lebih dari cukup untuk kehidupan kamu sehari-hari deh. Nggak mungkin kamu masih harus kerja kalau sekarang aja kamu tinggal di rumah semewah ini.” sahut teman Kania satunya lagi.
__ADS_1
Kania tak tahu harus menjawab apa lagi. Ia hanya bisa tersenyum kikuk.
“Jangan khawatir, Kania. Aku sanggup kok biayain hidup kamu asal kamu kembali ke kampus sama kita-kita. Semangat kuliahku jadi hilang semenjak kamu nggak ada.” Kini satu pria bersuara.
Wajah tampan dan usianya pun setara dengan Kania. Mereka semua tampak seperti remaja yang masih segar-segarnya.
“Kasihan anak kita, Ayah.” ujar Santi dari arah lain. Ia memperhatikan bagaimana teman-teman sang anak merayu Kania kuliah kembali.
“Sudah jangan mengasihani Kania, Bu. Dia akan bahagia di tangan suaminya. Cucu kita akan bahagia juga memiliki keluarga baik.” Santi hanya bisa mengangguk tanpa kata.
Sampai hari beranjak sore akhirnya semua teman Kania memilih pergi dari rumah Jemi. Bertepatan dengan itu pula sang suami pulang. Kerinduan pada sang istri membuat Jemi ingin segera melihat wanita pujaannya.
“Nia?” sahut Jemi menyapa sang istri. Tak lupa wajahnya menatap satu persatu teman sang istri yang datang. Keningnya mengerut dalam. Jemi pikir hidupnya akan tenang dengan sang istri berada di rumah.
__ADS_1
Terlebih saat ini yang ia lihat sosok pria tampan yang jauh lebih muda darinya berdiri di dekat sang istri meski ada jarak yang cukup dari keduanya.
“Em mereka datang menjengukku. Oh iya teman-teman kalian mau pulang kan? Silahkan.” Kania secara halus mengusir temannya tanpa mengatakan siapa yang datang.
Satu persatu mereka pergi meninggalkan rumah Jemi. Tinggallah Kania yang berdiri mematung melihat tatapan aneh sang suami.
“Kenapa mereka kesini?” tanya Jemi penuh selidik.
Belum sempat Kania menjawab, sang ibu dari arah dalam berteriak memanggil mereka.
“Nia, Jemi ayo masuk. Kania, kamu harus segera mandi yah? Ibu hamil tidak baik mandi terlalu sore. Ayo Jem bawa istrimu.” ujar Santi.
Jemi tak bisa berkata-kata. “Ayo aku antar ke kamar, Sayang.”
__ADS_1