
Melihat tatapan tajam sang ibu mertua, Kania buru-buru menundukkan kepala. Ia tak memiliki keberanian berhadapan dengan wanita yang sejak dulu selalu mengharapkan kepergiannya. Bahkan perginya Jemi dari rumah sang ibu tentu karena perdebatan tentang Kania. Sejak awal sang ibu tak pernah setuju sang suami mau pun Jemi merawat Kania. Baginya dengan memberikan uang hidup sudah cukup untuk mengganti jasa Derman, ayah dari Kania.
“Mamah, kenapa ke kantor sepagi ini?” tanya Jemi berusaha bersikap lembut.
Mendengar pertanyaan sang anak justru wanita paruh baya tersebut mencebikkan bibirnya kesal.
“Mengapa memangnya? Hanya dia kah yang berhak ke perusahaan ini sepagi ini, Jem?” tanya sang mamah dan kini kembali menatap pada Kania.
“Sudah kau beri apa anakku? Tubuhmu masih begitu kecil. Bagaimana bisa pikiranmu sepicik itu mencuci otak anakku?” Kania tak mengeluarkan satu kata pun.
Jika di pikir semua orang di luar sana pasti akan berpikir demikian. Dimana Kania yang masih sangat belia justru menikah dengan pria yang terpaut jauh usia darinya. Meski pun Jemi nampak awet muda tetap saja jarak usia tak bisa di bohongi.
“Maafkan saya, Nyonya.” Hanya kata itu yang bisa Kania utarakan.
__ADS_1
“Mamah, cukup. Kania tidak bersalah dalam hal ini. Jangan selalu menyudutkannya. Sekarang katakan apa tujuan Mamah kemari? Jika ada yang penting kita bisa bertemu di rumah.” tutur Jemi lagi.
“Mamah minta bagian saham padamu.” Terkejut Jemi mendengar ucapan sang ibu.
Tak pernah ada dalam pembahasan sebelumnya. Bahkan dua puluh lima persen saham perusahaan pun sudah menjadi milik wanita paruh baya itu dari mendiang sang suami.
Jemi tercengang mendengarnya. Hal itu membuat sang ibu menjadi kembali berburuk sangka.
“Mah, saham di perusahaan bukankah sudah dua puluh lima persen milik Mamah? Dan itu dari Ayah langsung. Apa itu masih kurang?” tanya Jemi tak menyangka sang mamah kini jadi haus dengan kekuasaan.
“Sangat cukup. Tapi, kali ini Mamah hanya mengamankan harta keluarga kita dari keluarga wanita itu. Kamu tidak sadar Jemi, mereka satu persatu masuk ke keluarga kita. Buka mata kamu. Setelah dia menikah denganmu. Lihat, dia juga membawa ayahnya, berikutnya dia juga akan membawa ibunya. Mamah tidak ingin apa yang ayah kamu kerja keras selama ini di makan sia-sia oleh orang asing seperti mereka. Sekarang katakan pada Mamah, berapa persen yang sanggup kamu beri ke Mamah?”
Jemi menggeleng tak tahu harus berkata apa pada sang mamah. Anda sang ayah masih hidup mungkin Jemi tak akan kesulitan bertindak dalam menghadapi wanita paruh baya itu.
__ADS_1
“Mamah bukan Mamah yang aku kenal sekarang. Dimana hati Mamah yang lembut dan penuh kasih sayang? Mamah yang aku kenal tidak haus akan kekuasaan seperti ini. Ayo Kania, ikut aku keluar.” Kania mengikuti langkah sang suami ketika menarik tangannya keluar dari ruang kerja saat itu.
Pikiran Jemi sudah kacau berhadapan dengan sang mamah, ia ingin menenangkan pikirannya.
“Maafkan aku, Mas.” tutur Kania merasa bersalah.
Apa pun yang terjadi Kania berjanji tidak akan mau menyentuh harta sang suami. Ia tidak akan membuat sang ibu mertua menertawakan apa yang ia sangka sejak awal.
“Kamu jangan memikirkan ucapan Mamah. Dia hanya butuh waktu, Nia.” Di dalam mobilnya Jemi mengusap kepala sang istri. Sedih rasanya Jemi melihat Kania yang hanya diam tak mengeluarkan kata-kata.
Jemi tahu Kania pasti sangat sedih dengan penolakan sang ibu mertua.
“Mamah Mas benar kok, Ayah sudah kerja begitu keras sampai bertaruh nyawa. Tentu sebagai istri Mamah Mas tidak akan rela jika ada orang luar yang ikut menikmati hasil kerja keras Ayah Mas,”
__ADS_1