Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Pengakuan Bagas


__ADS_3

"Ibu tidak tahu kesalahan Karin tapi Ibu membela dia mati-matian? Ibu jika Ayah dulu selingkuh dengan keluarga Ibu sendiri, apa yang Ibu lakukan?" tanya Jemi memberikan contoh lebih dulu.


"Apa-apaan kamu, Jemi? Ayahmu sudah tenang di sana tidak pantas kamu bicara seperti itu!" sentak Wulan marah.


Jemi terkekeh melihat ekspresi sang Ibu sementara Kania masih dengan posisinya semula hanya menunduk.


"Kenapa? Ibu tidak sanggup kan membayangkan hal itu. Itulah yang aku rasakan, Bu. Ibu bahkan tidak tahu sampai saat ini jika Karin pernah menjalin hubungan dengan Paman Bagas, adik Ibu sendiri." Ucapan Jemi seketika membuat Wulan hanya menggeleng tak percaya. Bibirnya tercengang tanpa bisa bergerak lagi.


Rasanya Wulan seperti di tampar oleh kenyataan pahit saat ini. Ia tak percaya dengan apa yang Jemi katakan.


"Kamu jangan mengarang cerita, Jemi." ujar Wulan lirih.


Dadanya sesak sekali membayangkan jika benar itu yang terjadi. Bagaimana mungkin selama ini ia membela Karin mati-matian tanpa tahu kejahatan wanita itu pada anaknya.

__ADS_1


"Ibu bisa cek di hotel X tanggal dan jamnya sudah ada di kertas ini. Saya sudah meminta mereka untuk menyimpan semuanya jika ada yang memintanya kemudian hari. Atau Ibu bisa cek pada yang bersangkutan langsung?" Tak menjawab ucapan Jemi, Wulan memilih keluar ruangan itu. Ia menuju ruang kerja sang adik dimana yang menjadi selingkuhan Karin waktu lalu.


Dengan luapan emosinya Wulan membuka pintu kerja ruangan Bagas.


"Kak Wulan, ada apa ini?" Pria itu berdiri dengan wajah syok. Ia mengusap dadanya yang berdegup karena kejutan dari Wulan.


Tak menjawab ucapan Bagas, Wulan langsung menarik kerah kemeja sang adik. Ia menatap penuh kemarahan.


"Benar Bagas, apa yang di ucapkan Jemi? Kamu sudah bermain dengan Karin dan menyebabkan rumah tangga anak saya hancur? Benar itu?" Tak lagi mengelak. Bagas pun mengangguk.


"I-iya, Kak. Itu benar. Tapi, itu dulu. Sekarang kami sudah bertaubat. Kami tidak lagi melakukan kesalahan itu." Murka rasanya Wulan sampai mendorong keras tubuh sang adik.


Ia terduduk di kursi dan pandangan lemas. Rasanya sulit di percaya jika semua begitu memalukan terjadi. Jemi yang selama ini diam berusaha menutupi kesalahan adik dari ibunya dan juga mantan istrinya.

__ADS_1


"Anakku sangat malang..." lirih Wulan meratapi nasib Jemi.


Mungkin saja Jemi dulu begitu hancur mengetahui Karin berselingkuh dengan pamannya sendiri. Wulan tak perlu lagi mencari bukti di hotel baginya semua sudah cukup untuk ia ketahui. Wulan tak sanggup jika harus menyaksikan secara nyata pertemuan Bagas dengan Karin di hotel. Itu sungguh sangat melukai hatinya.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Bagas. Kamu jahat dengan Jemi. Sekarang juga kamu saya pecat. Kamu pergi dari sini! Pergi kamu!" teriak Wulan mendorong kasar tubuh Bagas.


Sama sekali Bagas tak menolak pengusiran itu. Pikiranya inilah memang yang pantas terjadi padanya. Selama ini Jemi masih diam saja sebab tahu Wulan akan sangat membela Bagas jika ia memecat Jemi begitu pun dengan sang ayah jika memecat Bagas, Wulan pasti akan menjadi garda paling depan membela adiknya.


Sampai tibalah waktunya Wulan sendiri yang mengusir sang adik dari perusahaan ini.


"Kasihan juga Paman Bagas yah, Mas?" ujar Kania mengintip dari jendela ruang kerja sang suami. Lantas Jemi pun menoleh menatap tajam sang istri.


"Nia, kamu nggak kasihan sama suami kamu? Mereka itu selingkuh di belakang aku loh?" tanya Jemi kesal.

__ADS_1


"Mas Jemi masih kesal? Berarti Mas Jemi masih belum move on dong? Mas Jemi masih cemburu yah?" tanya Kania balik tak kalah kesalnya dari sang suami.


__ADS_2