Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Menjemput Ibu Pulang


__ADS_3

"Pah, Ma, aku mau ikuti apa pun kata kalian asal bawa aku berobat agar kakiku bisa normal kembali. Aku tidak ingin cacat seperti ini." Menyerah dengan pilihannya yang ingin mempertahankan Jemi, akhirnya Karin menghubungi kedua orangtuanya.


Satu konsekuensi jika ia bersama kedua orangtuanya, yaitu Karin tak akan merasa ada teman hidup lagi. Kedua orangtuanya pasti akan sibuk seperti biasanya tanpa memikirkan jika ia kesepian.


"Baik. Itu perkara mudah, Karin. Lagi pula sejak awal kami memintamu untuk pergi dari negara itu eh kamu malah kembali lagi demi pria itu. Lihat sekarang apa yang terjadi padamu? Kakimu tidak bisa utuh seperti dulu lagi kan?" Mendengar sang Mamah beurucap, Karin hanya bisa diam.


Tentu tak ada gunanya jika ia melawan saat ini, Karin sangat butuh bantuan mereka. Bahkan permohonan dari Wulan pun tak juga Karin tanggapi. Ia sadar Wulan tak akan menerimanya jika tahu yang sebenarnya.


Dua hari setelah penolakan Karin kembali mengikuti kemauan Wulan, ia pun berangkat dengan di jemput oleh anak buah sang papah. Karin mantap pergi meninggalkan Indonesia.

__ADS_1


"Apa? Mana mungkin Karin pergi begitu saja." Wulan terkejut mendengar dari pelayan yang bekerja bersama Karin. Ia tak tahu jika Karin akan pergi bahkan tidak memberi tahu dirinya.


"Non Karin pergi untuk berobat, Bu. Tapi, katanya tidak kembali lagi. Bahkan rumah ini saja sudah di urus untuk di jual." Wulan menatap rumah sang mantan besannya itu. Kepalanya menggeleng tak habis pikir dengan keputusan Karin.


Kesal tentu Wulan rasakan pada keadaan. Kini tak ada lagi yang bisa ia andalkan untuk melawan Kania. Kecewa dengan kepergian Karin, Wulan memilih pagi itu datang ke rumah sang anak.


"Awas kamu, Kania. Bocah ingusan benar-benar pembawa sial!" umpatnya.


Sementara di sini di rumah yang menjadi tempat tinggal Kania dan Jemi, mereka baru saja meninggalkan rumah dengan di temani oleh Derman, Ayah Kania. Ketiganya pergi ke rumah sakit jiwa kala mendengar jika sang ibu telah membaik. Derman yang selama ini sibuk mengunjungi rumah sakit jiwa merasa senang dengan perkembangan sang istri yang setiap harinya semakin membaik.

__ADS_1


"Aku benar-benar senang, Mas. Akhirnya Ibu bisa pulang juga." Kania tersenyum cerah pagi itu. Kekesalannya pada sang suami sirna seketika kala sang ayah datang membawa kabar bahagia.


Mobil terus melaju menuju rumah sakit jiwa hingga melewatkan waktu selama dua puluh menit. Akhirnya mereka tiba dengan di sambut oleh dokter yang menangani sang ibu. Kania berjalan cepat meninggalkan sang ayah serta suaminya. Di dalam sana ada wanita paruh baya yang tersenyum padanya. Kini keadaan Bu Santi benar-benar sudah membaik hingga dokter memberikan kebebasan untuk pulang


"Ibu," Kania memeluk erat tubuh sang ibu yang juga memeluknya.


"Anak Ibu sekarang sudah besar sekali yah? Ayahmu sudah menceritakan semuanya pada Ibu." Kania meneteskan air mata haru mendengar suara sang ibu berbicara normal seperti ibu lainnya.


Kini ia berjanji tak akan meninggalkan orangtuanya lagi sekedar untuk berpisah rumah. Kania akan mengurus kedua orangtuanya sebagaimana ia saat ini mengurus sang suami.

__ADS_1


"Ibu," Jemi pun mencium punggung tangan sang ibu mertua saat Kania melepas pelukannya.


Santi sudah tahu semua cerita dari sang suami. Dan ia senang ketika mengetahui Kania, anaknya sudah menikah dengan pria yang berjasa pada mereka mau pun Kania.


__ADS_2