
Tiba di rumah bukannya mengajak sang istri berbicara baik-baik, Jemi justru mengunci pintu kamar dengan dirinya dan Kania berada di dalamnya. Kania sangat bingung dengan sang suami. Mengingat dirinya sama sekali tak ada dekat atau pun berbicara dengan teman pria selama di kampus hari ini. Lantas apa yang membuat sang suami marah seperti ini.
"Mas, ada apa sih? Aku salah apa? Aku masih ada jam kuliah lagi." ujar Kania.
"Kania mulai sekarang nggak ada kuliah-kuliah lagi di kampus itu. Kamu mau masa depan kan? Iya? Aku akan kasih kamu masa depan yang baik. Besok ikut ke perusahaan." Setelah mengatakan demikian Jemi segera menghubungi seseorang di telepon.
"Siapkan semua persyaratan yang saya minta. Dan besok pagi kita akan bertemu." tutur Jemi.
Kania tak mengerti apa yang ingin di lakukan oleh sang suami. Ia hanya diam tanpa tahu isi kepala sang suami saat ini.
"Nia, besok kamu akan bekerja di perusahaan bersama Yanti. Soal kuliah nanti kita pikirkan lagi. Yang jelas kamu tidak akan boleh lagi ke kampus itu selama Dika masih bekerja di sana." Terkejut Kania sampai membuka lebar mulutnya mendengar Jemi membawa nama orang lain.
__ADS_1
Kania menggeleng tak paham. "Dika? Kenapa bawa nama dia, Mas? Ada apa memangnya?" tanya Kania dengan penuh kebingungan.
"Yah pokoknya nggak boleh aja ke kampus. Sudah kamu jangan banyak tanya." jawab Jemi gugup.
Pasalnya ia tak ingin memberi tahu sang istri jika ada pria lain yang jatuh hati pada istrinya. Jemi tidak ingin membuka jalan untuk keduanya bisa bersama. Kania tidak tahu perasaan Dika itu jauh lebih baik menurutnya.
"Enggak. Aku nggak akan patuh kalau Mas Jemi nggak jujur. Ada apa dengan Pak Dika sebenarnya? Kenapa dia di sangkut pautkan dengan kuliah aku, Mas?" desak Kania dengan merengek di lengan sang suami.
"Baiklah, Dika itu berniat jahat pada kamu, Nia. Dia memiliki dendam masa lalu padaku. Dan aku baru mengetahui itu setelah anak buahku mendapati dia ingin membuat kamu celaka di kampus. Sekarang kamu jangan membantaha lagi ucapanku. Aku suamimu yang pantas kamu dengarkan. Kamu mau kedua tanganmu di potong dan wajahmu jadi rusak di siram air keras?" Kania yang bergidik ngeri mendengar ucapan sang suami seketika menggeleng takut.
"Yasudah jadi patuh padaku dan berhenti dari kampus itu." Hanya anggukan kepala yang Kania perlihatkan meski sebenarnya ia merasa tak sanggup menghentikan perkuliahan yang sedang ia nikmati saat ini. Kania menatap Jemi dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Sementara sang suami tak mau menoleh padanya sedikit pun saat ini. Jemi tahu kelemahannya adalah Kania. Jika saja ia menoleh mungkin Kania akan memenangkan hatinya lagi. Jemi harus kuat agar tidak ada jalan untuk Dika nekat merebut sang istri.
"Aku tidak akan biarkan siapa pun mendekati istriku. Termasuk kamu, Dika. Kania adalah milikku." gumam Jemi.
Di belahan bumi yang lain tampak seorang wanita paruh baya duduk sendiri di depan jendela hotel mewah. Kamar yang mewah dan lengkap dengan semua fasilitas membuatnya tak menunjukkan rasa puas sama sekali.
"Kenapa rasanya sama sekali tidak menyenangkan?" tanyanya pada diri sendiri. Matanya pun menatap hamparan paper bag yang ia jajar di bawa sana hasil berburu di pusat perbelanjaan. Tentu dengan harga yang tidak murah.
Rasa puas seketika yang ia dapatkan sirna saat ini. Semua seperti hanya kesenangan semata. Tidak bertahan lama untuk menenangkan pikiran yang sepi. Wulan menatap sedih semua belanjaan yang menurutnya sangat tidak murah itu. Sudah berapa banyak uang ia habiskan tak juga membuatnya puas.
"Aku harus belanja apa lagi yang membuatku senang?" tanyanya dalam hati lagi.
__ADS_1
"