
Reyhan membuka matanya perlahan, suara ketukan pintu mengusik tidurnya. Dia berbalik sambil menyibakkan selimut pelan, matanya terhenti saat melihat wajah Aisyah yang tengah memeluk guling. Wajah itu bertambah cantik tanpa kerudung yang selalu menutupi rambutnya, membuat Reyhan tak sadar mengulurkan tangan, merapikan beberapa helai rambut yang menjuntai diwajah cantik itu.
Tok..
Tok..
"Aisyah, Rey, bangun sayang. Kita sholat subuh berjamaah." Suara teriakan mamah membuat Reyhan mengerjapkan matanya, dia menarik kembali tangannya dan duduk dengan gelisah saat melihat kelopak mata indah itu terbuka perlahan.
"Reyhan udah bangun Ma. Nanti Rey sama Aisyah nyusul," jawab Reyhan dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Entahlah, ia menjadi salah tingkah dan malu karena merasa Aisyah sudah menangkap basah tingkahnya.
"Ya udah mamah tunggu ya sayang," ujar mamah yang diikuti suara langkah kaki yang menjauh.
__ADS_1
"Mas, maaf Aisyah baru bangun." Mata itu mengerjap beberapa kali, seakan menyesuaikan cahaya lampu.
"Gak apa-apa Aisyah, aku tau kamu capek. Kita sholat subuh dulu baru lanjut tidur ya." Mendengar itu Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Aisyah langsung bantu mamah aja, Mas."
"Kalo masih capek gak usah dipaksain Aisyah. Mending istirahat." Tak ingin berdebat, Aisyah memilih menganggukan kepalanya. Mereka turun dari ranjang, Aisyah mengenakan kerudungnya terlebih dahulu dan keluar dari kamar bersamaan.
...🦋...
Selesai sholat subuh, Aisyah tidak terbiasa untuk kembali tidur. Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu keluar dari kamar, meninggalkan Reyhan yang tengah tertidur nyenyak seorang diri, dia tidak bisa jika harus duduk terus menunggu suaminya bangun, biarkan Reyhan kembali beristirahat karena kemarin waktu mereka benar-benar sibuk pada acara pernikahan. "Ma, ada yang bisa Aisyah bantu?" tanya Aisyah lembut.
__ADS_1
Hana tersenyum lembut menyambut kedatangan Aisyah lalu menawarkan beberapa pekerjaan ringan saja seperti mencuci bahan masakan dan memotongnya dengan ukuran yang pas. "Gimana sikap Rey sayang?" tanya Hana pelan dan berhati-hati, dia ingin memastikan jika Reyhan memperlakukan Aisyah dengan baik. Walau suara itu terdengar pelan tetapi Aisyah tetap mendengarnya, dia menoleh sambil tersenyum.
"Alhamdulillah Mas Rey baik mah," jawab Aisyah sambil tersenyum lembut. Jika di dalam rumah, dia hanya mengenakan gamis dan kerudungnya, tanpa cadar.
Mereka mulai memasak dan berbagi tugas. Hingga beberapa lauk tersaji pada tiga mangkuk. "Aisyah. Coba bangunin Rey ya, suruh dia sarapan. Mama mau bangunin papa juga," ujar Hana dengan suara yang begitu lembut dilengkapi tawa pada akhir kalimat.
"Iya Ma. Aisyah bangunin Mas Rey dulu ya," pamit Aisyah, lalu berjalan kearah kamarnya. Membuka pelan pintu kamar dan melihat Reyhan yang masih terlelap tidur.
Dengan ragu, Aisyah naik keatas ranjang. "Mas. Bangun," ujar Aisyah. Namun tak ada jawaban, Aisyah mulai mengguncang bahu Reyhan pelan, membuat pemilik tubuh itu merasa terusik dan menggeliat pelan. "Bangun mas. Udah jam tujuh. Kita sarapan dulu." Saat mata Reyhan terbuka, wajah Aisyah yang ada dihadapan membuatnya mengerjap berapa kali.
Aisyah menjauhkan tubuhnya saat Rey mulai beranjak duduk, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. "Aku mandi dulu ya Aisyah," ujar Reyhan saat dirasa nyawanya sudah terkumpul semua.
__ADS_1